Mengenal 9 Alat Musik Tradisional Bengkulu yang Unik dan Khas

alat musik tradisional bengkulu

Merangkum 9 alat musik tradisional Bengkulu yang memiliki nilai khas dan keunikan tersendiri.


Bengkulu merupakan daerah Provinsi yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera. Selain nilai-nilai sejarah yang melekat di daerah Bengkulu, nilai-nilai seni dan kebudayaan juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari Bengkulu.

Kebudayaan Bengkulu memiliki beberapa ciri yang berbeda-beda karen dipengaruh oleh banyak suku yang beragam, seperti kebudayaan Bengkulu Selatan Suku Serawai, kebudayaan Rejang, dan kebudayaan Pesisir. Kemudian budaya Tabot merupakan sebuah kultur unik yang memadukan tradisi lokal dengan budaya Islam syariah.

Pada artikel kali ini, kita akan mengulas beragam alat-alat musik tradisional khas Bengkulu yang memiliki nilai budaya yang khas.


Baca juga: Mengenal 13 Alat Musik Tradisional Sumatera Utara yang Khas dan Kaya


1. Dol

Di Provinsi Bengkulu, alat musik dol sudah bukan lagi hal baru. Suaranya seringkali terdengar hampir  di setiap sudut kota, terutama pada sore hari.

Alat ini pertama kali dibawa oleh pedagang dari India. Bentuknya hampir mirip dengan gendang yang terbuat dari kulit sapi, dengan ukuran yang bervariasi. Ukuran diameter dol terbesar tak kurang dari 70 cm dengan tinggi 80 cm.

Alat musik dol ini terbuat dari bongol buah kelapa atau pohon nangka dan juga kulit binatang. Biasanya, dol dimainkan bersama alat musik tassa (sejenis rebana) pada saat perayaan tabot.

Perayaan tabot di Sumatera pertama kali dibawa oleh penganut Syi’ah dari Madras dan Bengali yang didatangkan oleh Inggris sebagai pekerja untuk membangun benteng Malborough.

Salah seorang pekerja bernama Syeh Burhanuddin atau Iman Senggolo pertama kali melaksanaka perayaan tabot pada 1685 yang kemudian menyebar ke wilayah Pidie. Meulaboh, Banda Aceh, Singkil, Sibolga, Barus, Padang, dan Pariaman (yang dikenal dengan perayaan tabuik).

Namun pada perkembangannya, perayaan ini hanya dijumpai di daerah Pariaman dan bengkulu. Dol yang awalnya hanya digunakan pada perayaan ritual tabot, kini telah berkembang fungsinya digunakan sebagai musik penging tarian.

2. Genderang Perang

Entah kenapa alat musik tabuh khas Bengkulu ini dinamai alat musik perang (Slaginstrument) di Tropen Museum. Mungkin pada masa lalu alat ini digunakan untuk menambah semangat rakyat Bengkulu saat berperang.

Alat musik tradisional genderang perang ini yang masih terlihat adalah alat musik perang jenis rebana, yang sering juga digunakan dalam kegiatan adat masyarakat Bengkulu dan sekitarnya.

3. Tassa

Alat musik tradisional ini terbuat dari kayu dan rotan. Tassa berbentuk seperti rebana yang dilengkapi denga dua tongkat pemukul. Selain untuk mengisi tarian, tass biasa digunakan dalam upacara ritual tabot bersama dengan alat musik dol.

4. Redap

Alat musik tradisional ini terbuat dari kayu, rotan, dan kulit binatang. Redap sangat identik dengan rebana dalam hal bentuk dan cara memainkannya. Keberadaan redap di Bengkulu lebih dahulu daripada alat musik dol.

Alat musik redap seringkali dimainkan untuk mengiringi kesenian Safaral Anam, yaitu melantunkan ayat-ayat suci Alquran pada saat upacara Bimbang Gendang, yang dimainkan bersama dengan serunai dan gendang panjang.

5. Kelintang

Kelintang adalah alat musik tradisional yang terbuat dari kuniangan dan kayu. Alat ini memang sangat mirip dengan bonang dalam gamelan Jawa, dari segi bentuk atau cara memainkannya.

Kelintang terdiri dari 4 bonang yang ditempatkan pada rak kayu dan dilengkapi dengan dua alat pemukul khusus. Alat musik kelintang berasal dari daerah Rejang Lebong yang biasa dimainkan untuk acara pernikahan, mengiringi tari andun, dan dundang benih (menyemai benih).

6. Harmonium Bengkulu

Harmonium adalah alat musik yang dibuat dari logam, kayu, kulit, dan kawat. Alat ini memiliki bentuk menyerupai orgel kecil. Cara memainkannya dengan menekan tombol atau lidah-lidah yang kemudian bergetar karena angin yang dipompa.

Dalam sejarahnya, alat musik ini digunakan sebagai alat kesenian tradisional dan ditemukan do Pal VII Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Kini, harmonium telah menjadi bagian dari kesenian orkes gambus dan seringkali dimainkan bersama iringan biola dan rebab.

7. Gendang Panjang

Gendang Panjang merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari kayu, rotan, dan kulit binatang. Alat musik ini berbentuk silinder dengan kepala ganda.

Gendang panjang juga merupakan satu kesatuan dengan alat musik serunai yang biasa dimainkan saat upacara Bimbang Gendang pada pernikahan adat Bengkulu. Selain itu, alat ini juga sering digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu.

Gendang panjang termasuk dalam alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan telapak tangan, berfungsi sebagai pengatur ritme dan irama dalam sebuah musik.


Baca juga: Mengenal 11 Alat Musik Tradisional dari Aceh yang Lestari Hingga kini


8. Terompet/Serunai

Serunai adalah alat musik tradisional Bengkulu yang menyebar di banyak daerah di Indonesia. Konon, serunai menjadi terkenal sebagai alat musik tiup tradisional Minang.

Alat musik ini dikenal merata di Sumatera Barat, terutama di daerah-daerah dataran tinggi seperti daerah Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, serta di sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat.

Di Bengkulu, serunai merupakan salah satu alat musik tradisional daerah Bengkulu yang banyak digunakan dalam acara-acara adat, seperti upacara pengantin belarak, musik pengiring tari pedang yang biasanya diiringi juga dengan tabuhan suara gendang dan alat musik lain.

Alunan suara dari alat musik tradisional serunai ini begitu khas dan berbeda dari suara alat musik tiup lainnya.

9. Gong Bengkulu

Gong merupakan alat musik yang bisa kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia. Popularitas alat musik ini menyebar bersamaan dengan penyebaran suku Jawa di Nusantara.

Alat musik ini sebenarnya berasal dari Jawa yang biasa dimainkan oleh masyarakat adat Jawa pada saat acara pernikahan atau upacara adat lainnya. Alat musik ini dimainkan bersamaan dengan ensambel Gamelan yang terdiri dari sejumlah alat musik tradisional Jawa yang lainnya.

Sekilas tentang Bengkulu

Bengkulu merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian barat daya Pulau Sumatera. Selain memiliki alat-alat musik tradisional yang merupakan bagian dari kebudayaan Bengkulu, daerah ini juga memiliki nilai sejarah yang cukup penting.

Pada zaman dahulu di wilayah Bengkulu, pernah berdiri kerajaan-kerajaan yang dibedakan berdasarkan etnis, seperti Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Patpetulai, Kerajaan Balai Buntar, sampai Kerajaan Gedung Agung dan Kerajaan Marau Riang di bawah Kesultanan Banten.

Sebagian wilayah Bengkulu juga pernah berada di bawah kekuasaan Indera Putra sejak abad ke XVII. Sejak 1685, British East India Company (EIC) mendirikan pusat perdagangan lada bengcoolen/coolen yang berasal dari bahasa Inggris, Cut Land, yang berarti Tanah Patah.

Wilayah tersebut merupakan wilayah patahan gempa bumi paling aktif di dunia yang kemudian menjadi gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu.

Kala itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralp Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagangan lada setelah pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana.

Pada tahun 1685, Traktat dengan Kerajaan Selebar mengizinkan Inggris untuk mendirikan Benteng dan berbagai gedung kerajaan. Di tahun yang sama, benteng York didirikan di sekitar muara Sungai Serut.

Semenjak tahun 1713, Benteng Marlboro dibangun hingga selesai tahun 1719 yang sampai sekarang masih berdiri tegak. Namun, perusahaan ini lama kelamaan menyadari bahwa tempat itu tidak menguntungkan karena tidak bisa menghasilkan lada dengan jumlah yang cukup.

Sejak dilangsungkan perjanjian London tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke tangan Belanda dengan imbalan Malaka, sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung. Sejak perjanjian itu, wilayah Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Sejak penemuan deposit emas di wilayah Rejang Lebong pada paruh kedua abad XIX menjadikan tempat tersebut sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke XX. Kini, kegiatan penambangan komersial pernah dihentikan sejak habisnya deposit.

Pada tahun 1930-an, Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan termasuk Soekarno. Di masa inilah, Soekarno bertemu dan berkenalan dengan Fatmawati yang kemudian menjadi istrinya.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Bengkulu menjadi wilayah karesidenan dalam Provinsi Sumatera Selatan. Baru sejak tanggal 18 November 1968, ditingkatkan statusnya menjadi provinsi ke-26 termuda setelah Timor Timur.


Baca juga:Mengenal 14 Alat Musik Tradisional dari Riau yang Unik dan Khas


Referensi


 

About Kanu Hizbam

Pemuda berantakan yang terobsesi jadi orang biasa di usia muda. Selain merintis karier di dunia bisnis, kini tengah mati-matian berusaha menggemari buku sebagai hobi barunya.

View all posts by Kanu Hizbam →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *