Eksotisme 10 Alat Musik Tradisional Yogyakarta yang Menawan

Mengenal 10 alat musik tradisional Yogyakarta yang jarang diketahui orang. Eksotisme dan keramahan budaya Jogja selalu membuat para perantau dan pengunjung ingin balik lagi ke sana.


Yogyakarta. Jogja selalu memberikan kesan istimewa dari segala aspek dan elemen daerah tersebut. Membuat para pendatang menjadi kerasan tinggal di sana, bagi yang tinggal menjadi nyaman, bagi yang wisatawan menjadi kangen untuk berkunjung ke sana.

Dari sekian potensi yang dimiliki daerah istimewa tersebut, dari sekian kebudayaan yang eksotis dan masih lestari, kini kita akan membahas seputar alat-alat musik tradisional yang barangkali jarang sekali dibahas oleh masyarakat desa, maupun masyarakat maya.

Sebenarnya ada sekian situs di internet yang menyajiakan sekian jumlah nama-nama alat musik tradisional Yogyakarta, namun sebagian besar hanya mengulas pada alat-alat musim gamelan yang terlalu umum untuk dibahas.

Nah, kali ini kita akan menggebrak keumuman pembahasan seputar alat musik Yogyakarta, dengan mengulas alat-alat musik tradisional yang mungkin jarang diketahui orang-orang. Bahwa masih ada banyak alat-alat musik yang belum tuntas dibahas, maka di sini mari kita ulas 10 alat musik tradisional Yogyakarta pilihan gas banterrr…


Baca juga: 15 Alat Musik Tradisional Jawa Timur yang Bakal Membuatmu Terkesima!


1. Demung

demung
tjokrosuharto.com

Demung merupakan alat musik tradisional dan termasuk dalam satuan instrumen gamelan dalam keluarga balungan. Dalam satu set gamelan, biasanya terdapat dua buah demung dengan skala nada (laras) yang berbeda, yaitu slendro dan pelog.

Jika dibandingkan dengan saron,demung memiliki ‘wilahan’ yang lebih tipis namun dengan ukuran yang lebih lebar, sehingga nada yang dihasilkan lebih rendah. Alat pemukul demung umumnya terbuat dari kayu yang dibentuk seperti palu, dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari alat pemukul saron.

Demung dimainkan dengan cara ditabuh. Tekniknya pun juga beragam, ada yang menabuhnya sesuai dengan aturan nadanya, atau ditabuh dengan bergantian antara demung yang pertama dengan yang kedua sehingga menghasilkan nada yang bervariasi dan seolah saling menjawab.

Teknik paling dasar dalam permainan demung adalah dengan tangan kanan memukul wilahan, sedangkan tangan kiri menahan getaran logam yang dihasilkan setelah dipukul. Teknik tersebut disebut ‘memathet’. Mungkin agak sulit di awalnya karena belum terbiasa dan suara tidak merdu seperti aslinya.

2. Gong Sebul

gong sebul
https://ruslanabdullah61.files.wordpress.com/

Gong sebul berbeda dengan gong yang sudah kita kenal yang berupa alat musik logam pada gamelan Jawa. Gong sebul adalah alat musik yang terbuat dari sepotong bambu petung (ochloa gigantea) dengan panjang tertentu sesuai dengan nada yang hendak dihasilkan. Cara memainkannya bukan dipukul, melainkan ditiup.

Gong sebul biasa dimainkan untuk melengkapi musik tradisi Krumpyung yang terdiri dari beberapa alat musik tradisional yang kebanyakan terbuat dari bambu, seperti alat musik krumpyung itu sendiri, demung, saron, peking, bonang, gambang, kempul, dan kendang.

3. Rinding Gumbeng

alat musik tradisional yogyakarta
Kiri: rinding, kanan: gumbeng

Rinding Gumbeng adalah sebuah kesenian tradisional yang berasal dari Gunung Kidul yang sudah cukup tua. Alat musik utama yang digunakan adalah rinding dan gumbeng (2 jenis alat musik yang berbeda). Kombinasi dua alat musik tersebut biasa dipadukan dengan lagu-lagu daerah, atau untuk mengiringi kesenian tari tradisional.

Rinding adalah sejenis genggong (harpa mulut) yang sudah cukup tersebar di pelosok Nusantara. Alat musik ini dapat menghasilkan ragam suara yang berbeda-beda, tergantung teknik dan keahlian pemain.

Dikisahkan pada masa lalu, rinding biasa digunakan oleh remaja putri dan ibu-ibu ketika selesai panen sebagai ungkapan suka cita dan rasa syukur kepada Dewi Sri yang sudah memberikan panen yang berlimpah. Masa sekarang ini, alat musik tersebut digunakan dalam upacara adat Sadranan, menyambut tamu, juga sebagai hiburan panggung.

Sedangkan gumbeng adalah sejenis sitar tabung yang terbuat dari seruas bambu yang disayat di bagian tengahnya dan diganjal pada salah satu ujungnya yang berfungsi sebagai dawai. Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul sehingga menghasilkan bunyi yang berbeda tergantung penempatan ganjal pada dawainya.

Selain rinding dan gumbeng, kesenian Rinding Gumbeng juga diiring alat musik tradisional lainnya, seperti krecek dan gendang bambu.

4. Krumpyung

alat musik tradisional yogyakarta
docplayer.info

Musik Krumpyung bisa ditemukan di daerah Kulon Progo. Seni musik Krumpyung biasa dimainkan bersama dengan iringan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Krumpyung biasanya mengiringi kesenian tembang Langgam Jawa.

Langgam Jawa adalah bentuk perubahan dari musik keroncong yang masuk ke idiom musik tradisional Jawa.  Uniknya, skala nada yang digunakan dalam kesenian Langgam Jawa adalah pelog dan slendro sehingga menyerupai karakter nada gamelan Jawa, hanya saja dalam kesenian ini ada gong tiup yang turut ambil peran.

5. Gejog Lesung

alat musik tradisional yogyakarta
budayajawa.id

Gejog Lesung adalah sebuah kesenian tradisional yang memadukan irama musik dengan lesung (alu). Pada zaman dahulu, kesenian ini dimainkan setelah penduduk desa menumbuk padi atau saat terjadi gerhana bulan. Namun seiring berkembangnya zaman, kesenian ini hanya dimainkan pada saat acara-acara tertentu, seperti: bersih desa, upacara adat, atau penyambutan tamu.

Kesenian Gejog Lesung biasa dimainkan oleh ibu-ibu secara berkelompok yang terdiri 12 orang, 5-6 orang menjadi penabuh lesung dan sisanya menjadi wiraswara/penyanyi. Para wiraswara bernyanyi sambil berlenggak-lenggok menari dan membawa tambir (tempat nasi yang berbentuk bulat).

Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu tradisional seperti Lumbung Pari Gundul-Gundul Pacul, atau yang lainnya.

6. Peking

alat musik tradisional yogyakarta
http://collections.nmmusd.org/

Peking adalah alat musik tradisional Yogyakarta yang termasuk dalam satuan instrumen Gamelan Jawa, sejenis dengan demung dan saron. Alat musik ini seringkali disebut dengan ‘saron penerus’. Di antara keluarga balungan, peking memiliki oktaf tunggal dengan nada suara paling tinggi, namun memiliki ukuran yang paling kecil.

Di daerah Jawa Tengah, peking dikenal dengan nama saron panacah, slukat, penitil. cente, tetelile. Alat musik peking berbentuk bilahan yang berjumlah 6-7 bilah yang ditaruh pada bingkai kayu yang berfungsi sebagai resonator,

7. Gong Kumodhog

alat musik tradisional yogyakarta
pinterest

Istilah gong kumodhog sendiri berasal dari bahasa Jawa yang merupakan suatu kata dasar, terdiri dari 2 suku kata yaitu gong dan kumodhog. Alat musik tradisional ini biasa digunakan dalam musik atau kesenian Siteran dari dukuh Penggok, Kelurahan Tri Mulyo, Kecamatan Jetis, Bantul.

Gong ini dibuat dari 2 bilahan besi atau perunggu, masing-masing dengan ukuran panjang 45 cm dan lebar 25 cm. Sementara rancakan-nya (tempat gong) dibuat dari kayu senu atau kayu Waru dan bisa dibilang dibuat dari kayu tahun.

Gong ini memiliki fungsi yang cukup penting, bahkan bisa dikatakan sangat fundamental. Hampir semua gendhing-gendhing (lagu)  dikendalikan oleh gong kumodhog yang dapat dijadikan pedoman untuk mengawali dan mengakhiri sebuah lagu atau gendhing.

Biasany, gong kumodhog dimainkan oleh satu orang dewasa atau remaja yang telah mengerti cara-cara memukul gong tersebut. Gong ini juga sering digunakan dalam acara-acara hajatan, seperti mantu, tetesan, atau tetakan. Di samping itu, dipakai pula pada peringatan hari-hari besar atau peristiwa penting.

8. Dhodhog

alat musik dhodhog
budaya-indonesia.org

Dhodhog/bedhug merupakan alat musik tradisional yang digunakan dalam kesenian Barzanzi dan Angguk di Kopen Wonokerto, Turi Sleman. Ketika ditabuh, alat musik ini menghasilkan suara ‘dug-dug’ sehingga dinamakan ‘dhodhog’ atau ‘bedhug’.

Badan dhodhog biasanya terbuat dari berbagai jenis kayu, seperti kayu jati, kayu nangka, atau kayu kelapa, yang dibentuk silinder dengan ukuran panjang/tinggi 175 cm, berdiameter 50 cm, dan tebal 3 cm. Kemudian di salah satu sisi kayu silinder tersebut dipasang penutup berupa kulit lembu yang juga sebagai tempat tabuh.

Awalnya, dhodhog digunakan di langgar atau surau untuk mengingatkan umat muslim menunaikan kewajibannya bersembahyang. Lalu seiring perkembangannya, dhodhog juga digunakan sebagai alat musik pada kesenian Barzanzi dan Angguk.

9. Terbang

terbang yogakarta
bukalapak

Kata terbang sebagai sebutan alat musik ini berasal dari bahasa Jawa yang memiliki kesamaan arti dengan rebana. Alat musik ini biasa digunakan dalam kesenian Slawatan Katolik di Demangan, Kelurahan Argodadi, Kecamatan Sedayu, Bantul.

Alat musik ini terbuat dari bahan kayu nangka dan kulit sapi. Bentuknya seperti mangkok (setengah bulat) dengan ukuran diameter bagian atas-nya (yang tertutup kulit) 20 sampai dengan 50 cm, sementara diameter bagian lubang bawah-nya 15 sampai 25 cm.

Di samping sebagai alat hiburan, terbang juga digunakan untuk mengiringi kidungan atau nyanyian-nyanyian rohani. Terbang dalam Kesenian Slawatan Katolik ini muncul sejak awal abad 19, sampai di Demangan pada tahun 1937 dengan didatangkannya seorang pelatih dari Boro oleh bapak Wonodiryo.

10. Thunthung

alat musik thunthung
budaya-indonesia.org

Thunthung adalah alat musik yang digunakan dalam kesenian musik pek bung di Klindon Mantren, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Nama ‘thunhtung’ diambil dari suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut ketika ditabuh yang berbunyi ‘thung-thung’.

Dalam kesenian pek bung, terdapat serangkaian alat musik thunthung yang terdiri dari 2 thunthung ageng (besar), 1 thunthung madya (menengah), dan 1 thunthung ricik (kecil). Dari tiga macam thunthung ini memiliki karakter suara yang berbeda-beda sesuai dengan besar-kecilnya ukuran thunthung.

Alat musik thunthung terbuat dari bambu petung, diutamakan yang berkualitas keras. Bentuknya menyerupai kenthongan bambu, di bagian atas thunthung dipasang sebilah bambu yang dipaku.

Di masyarakat, alat musik thunthung biasa difungsikan sebagai pengiring tarian anak-anak. Dalam segi sosial juga sebagai hiburan masyarakat, mengisi upacara-upacara hari besar, dan lain sebagainya. Meski begitu, alat musik ini tidak memiliki muatan religius.


Baca juga: Mengenal 9 Alat Musik Tradisional Banten yang Khas dan Eksotis!


Referensi:

  • Untuk pembahasan lebih lengkap di sini.
  • https://budaya-indonesia.org/
  • E-book Bentuk-Bentuk Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Moertjipto. 2013. Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *