biografi cak nun

Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) – Intelektual dan Budayawan Indonesia

Biografi Cak Nun, soal bagiamana ia dapat meraih berbagai pencapaian di segala bidang. Dari sastra, seni, sampai ceramah-ceramahnya yang dapat mempengaruhi orang banyak.


Saat ini, mungkin cukup banyak orang yang mengenal nama Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Tapi mungkin tak semua orang benar-benar mengenal tentang bagaimana sepak terjangnya sehingga ia menjadi dikenal.

Cak Nun bukan hanya dikenal sebagai sastrawan, budayawan, cendekiawan, pekerja sosial, kolumnis, seminaris, namun juga kyai (pemimpin spiritual), artis, humoris, serta sederet sebutan lainnya.

Lebih lengkapnya, mari kita mulai pembahasan kita hari ini soal bagaimana Cak Nun bisa meraih berbagai pencapaian-pencapaian yang membuatnya menjadi sosok yang dikenal, disegani, dihormati, serta memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat..


Baca juga: Biografi Sujiwo Tejo – Seniman Edan Presiden Jancukers


Profil


Nama Lahir

Muhammad Ainun Nadjib


Nama Panggilan

Emha Ainun Nadjib, Cak Nun


Tempat Lahir

Jombang, Jawa Timur


Tanggal Lahir

27 Mei 1953


Istri

  • Neneng Suryaningsih (cerai tahun 1985)
  • Novia Sanganingrum Saptarea Kolopaking (1997-sekarang)

Anak

  • Sabrang Mowo Damar Panuluh
  • Aqiela Fadia Haya
  • Anayallah Rampak Mayesha
  • Jembar Tahta Aunillah
  • Ainayya Al-Fatihah

Profesi

Budayawan, Tokoh intelektual muslim


Lebih Dekat dengan Cak Nun

maiyah padhangmbulan
kabarsumatera.com

Cak Nun, begitu sapaan akrab Muhammad Ainun Nadjib. Orang biasa, rakyat biasa. Lahir di desa Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur pada hari Rabu Legi, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari limabelas bersaudara dari pasangan Muhammad Abdul Lathif dan Chalimah.

Cak Nun terlahir di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Ayah Cak Nun bekerja sebagai petani sekaligus seorang kyai yang memiliki sebuah surau dan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Semenjak kecil, Cak Nun sudah memiliki jiwa sosial yang tinggi. Lingkungannya di masa kecil memengaruhi karakter Cak Nun sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial yang begitu besar.

Ayah dan ibu Cak Nun merupakan tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Bisa dibilang, orang tua Cak Nun menjadi semacam tempat mengadu bagi warga desa. Semua masalah dan keluh kesah warga selalu disampaikan kepada orang tua Cak Nun.

Mengenai orang tuanya, Cak Nun pernah bercerita:

“… semua keluhan dan masalah orang-orang disampaikan kepadanya. Sejak masih digendong-gendong dan baru bisa berjalan, saya sudah ikut ibu berjalan keliling melihat para tetangga, menanyakan mereka masak apa, anaknya sekolah nggak, problem-problemnya.”

Cak Nun menjalani masa kecilnya di desa Menturo, sebuah desa di Jombang Timur. Dari sanalah, pengembaraan panjang secara sosial, intelektual, kultural, dan spiritual dimulai. Ia justru merasa beruntung menjadi anak desa, karena dari sana ia belajar banyak tentang kesederhanaan, kebersahajaan, kewajaran, dan kearifan hidup.

Dalam hal ini, ia katakan:

“Saya belajar banyak dari orang desa yang berhati petani. Mereka hanya makan yang ditanam. Mereka menuai hasil berdasarkan kewajaran kerja. Mereka menjadikan kerja sebagai orientasi hidup. Mereka tak pernah menguasai, mengeksploitasi alam dan sesama. manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan. Saya benar benar cemburu pada kualitas hidup mereka”

Cak Nun menganggap bahwa peran sosial merupakan sebuah kewajaran hidup, kewajiban kerja, fungsional, dan mampu memberikan makna pada masyarakat, bukan sebagai karier. Makna itu, menurutnya, bisa berwujud sikap pemihakan terhadap yang lemah dan dilemahkan (mustadh’afin).

Soal keluarga, Cak Nun memiliki 5 anak dari dua istri. Dari istri pertama, Neneng Suryaningsih, ia dikaruniai seorang putra yang bernama Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau lebih akrab dipanggil Noe, yang kini menjadi vokalis band Letto.

Setelah bercerai, pada tahun 1997 Cak Nun menikahi Novia S. Kolopaking yang juga dikenal sebagai seniman panggung, film, dan penyanyi. Dari istrinya yang kedua ini, ia dikaruniai 4 anak, yaitu: Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah dan Anayallah Rampak Mayesha.

Cerita soal Pendidikan Cak Nun

cak nun gontor
rumahedukasidepok.com

Setamat SD, Cak Nun kecil melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, sebuah lembaga pendidikan Islam yang memang dikenal progresif. Namun, Cak Nun hanya bertahan di sana selama dua setengah tahun.

Cak Nun yang sejak kecil dikenal suka protes, melancarkan aksi protesnya di pondok karena ketidakadilan dewan keamanan pondok, sehingga diusir dari sana.

Pengalaman Cak Nun selama dua tahun hidup di pondok juga turut memberikan pengaruh dalam diri Cak Nun. Dari kultur santri, disiplin, dan berbagai khazanah yang melingkupinya juga mewarnai karakter Cak Nun.

Kelak dalam banyak karyanya, warna santri kerap menonjol, tatkala Cak Nun dengan lihai mengemas berbagai tema sosial dalam bingkai tasawuf yang sastrawi.

Setelah keluar dari Gontor, Cak Nun kemudian bertolak ke Yogyakarta, melanjutkan sekolahnya di SMA 1 Muhammadiyah. Setamat SMA, Cak Nun masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) dan hanya bertahan selama empat bulan.

Persisnya ketika hari kedua Ujian Semester 1, Cak Nun lebih memilih kuliah di “Universitas Malioboro”, bergabung dengan kelompok penulis muda yang bergelut di bidang sastra Persada Studi Klub (PSK) di bawah bimbingan “maha guru” Umbu Landu Paranggi, manusia sufi dengan kehidupan misterius yang sangat mempengaruhi kehidupan Cak Nun.

Cak Nun memasuki kehidupan sastra bersama dengan rekan-rekannya. Selain melakukan diskusi, sesekali kegiatan melebar dan menjelajah di kampus dan kampung.

Beberapa nama turut berkibar bersama Cak Nun, seperti Linus Suryadi AG, Yudhistira Adhi Noegraha, Iman Budhi Santosa, Suwarno Pragolapati, Bambang Indra Basuki, Bambang Darto, dan Saiff Bakham.

Dari sinilah, pengembaraan sosial, intelektual, kultural, dan spiritual berlanjut. Nama Cak Nun makin melesat tatkala ia begitu produktif dalam berkarya. Karya tulis esai, puisi, dan cerpen bertebaran di media massa, juga mementaskan pembacaan puisi bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.

Tercatat bahwa Cak Nun juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan kesenian internasional:

  • Kegiatan teater di Filipina (1980)
  • Sebagai social worker di berbagai daerah Luzon
  • International Writing Program di Universitas Lowa, Lowa City, AS (1981)
  • Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984)
  • Festival Horizonte II, di Berlin Barat, Jerman Barat (1985)

Selebihnya, Cak Nun juga aktif di berbagai kegiatan kebudayaan dan keagamaan, terutama melalui kampus Institute of Social Studies, Den Haag, belanda.

Cak Nun dan Sastra

puisi emha ainun nadjib
sepenuhnya.com

Semenjak bergabungnya Cak Nun dengan komunitas Maliobroro, sastra telah menjadi bagian hidup Cak Nun yang sulit dipisahkan. Ia katakan:

“Tanpa bantuan sastra, langkah komunikasi saya akan sangat terbatas. Dengan sastra, di samping saya dapat menemukan berbagai format komunikasi, saya juga tetap bisa memelihara pandangan terhadap dimensi-dimensi kedalaman manusia dan masyarakat, yang biasa diperdangkal oleh mata pandang parsial: ekonomi, politik, dan terutama kekuasaan praktis,”

Sebagai penyair, Cak Nun pertama kali mempublikasikan puisinya pada awal tahun 1969 di surat kabar Pelopor Jogja. Bisa dibilang, ia telah menjadi penyair pada usia 16 tahun. Sebagai penyair pemula, ia menulis puisi-puisi tentang cinta, tentang eksistensi diri, juga puisi-puisi protes.

Sayang, puisi-puisi permulaan Cak Nun tidak terdokumentasi dengan baik. Padahal hal tersebut cukup penting guna melihat proses kreatif dan riwayat seseorang bukan saja dalam pengertian individual, tetapi juga dalam konteks kesusastraan dan kemasyarakatan.

Setelah bertualang siang-malam, bertarung dengan kehidupan, berdiskusi dengan berbagai kalangan, khususnya dengan komunitas Malioboro, pada tahun 1975 Cak Nun merilis antologi puisi pertamanya dalam bentuk stensilan, “M” Frustasi!.

Di tahun yang sama, bersama dengan beberapa teman Cak Nun mendirikan
komunitas Teater Dinasti. Di masa-masa tersebut, Cak Nun semakin “mengukuhkan” dirinya sebagai salah satu penyair atau seniman garda depan Yogyakarta.

Tulisannya yang berupa puisi, esai, dan cerpen turut mewarnai media massa Jogja dan hampir seluruh media massa yang membuka rubrik sastra-budaya.

Secara teknis, tulisannya cukup mencuri perhatian. Ide-ide yang diungkapkan terkesan liar dan aneh, tapi sangat masuk akal. Sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa ia telah memperlihatkan dirinya sebagai salah seorang penulis terbaik negeri ini.

Bisa dibilang, periode akhir 1970-an sampai akhir 1980-an merupakan periode pertama paling kreatif dan produktif. Dalam rentang waktu tersebut, Cak Nun telah melahirkan beberapa antologi puisi, di antaranya:

  • Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1977)
  • Tak Mati-Mati (1978)
  • Tuhan Aku Berguru Pada-Mu (1980)
  • Kanvas (1980)
  • Tidur Yang Panjang (t.t)
  • Nyanyian Gelandangan (1982)
  • 99 Untuk Tuhanku (1984)
  • Iman Perubahan (1985-1986)
  • Isra’ Mi’raj Yang Asyik (1986)
  • Cahaya Maha Cahaya (1988)
  • Syair Lautan Jilbab (1989)
  • Syair-Syair Asmaul Husna (1984-1990)
  • Syair Lembu (t.t)
  • Minuman Keras Nasibku (1987-1989)
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990)
  • Suluk Pesisiran (1990)

Kini, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, Cak Nun telah menghasilkan kurang lebih 25 antologi puisi yang merangkum lebih dari 800 puisi. Puisi-puisi yang diterbitkan pun juga beragam, ada puisi sosial, sosio-religius, dan bernafaskan tasawuf.

Karier Teater Cak Nun

 

nabi darurat rasul ad-hoc
kumpulanfiksi.wordpress.com

Pada akhir tahun 1970-an, Cak Nun mulai masuk ke ranah penulisan naskah drama. Akan tetapi, Teater Dinasti-lah yang secara progresif mementaskan karya-karyanya, khususnya pada awal 1980-an. Beberapa karya yang pernah dipentaskan oleh Teater Dinasti diantaranya:

  • Geger Wong Ngoyak Macan (1982)
  • Patung Kekasih (1983)
  • Keajaiban Lik Par (1984)
  • Mas Dhukun (1986)
  • Calon Drs. Mul (1987)

Hampir semua karya drama Cak Nun pada waktu menjadi bahan pembicaraan tersendiri bagi teaterawan Jogja maupun nasional, terutama yang berkaitan dengan konsep pementasannya. Mungkin karena Teater Dinasti tidak lagi mampu mewadahi proses kreatif dan persoalan-persoalan ke depan, pada tahun 1987 Teater Dinasti bubar.

Pada tahun 1988, Cak Nun kembali memberi kejutan baru. Bersama teman-teman UGM (Jamaah Sholahuddin), ia mementaskan “Lautan Jilbab” di samping “Sunan Sableng dan Baginda Faruk”.

Menurut catatan, pementasan “Lautan Jilbab” merupakan pementasan dengan penonton terbesar hingga kini. Menurut perhitungan, pementasan ini telah ditonton tak kurang dari 3000 penonton di malam pertama dan sekitar 2000 penonton di malam kedua.

Pada akhir tahun 1980-an, masalah jilbab bukan hanya menjadi permasalahan masyarakat Indonesia, tetapi juga permasalahan masyarakat dunia.

Dikabarkan, di Perancis dan Inggris sejumlah siswi dilarang masuk sekolah karena memakai jilbab. Di Indonesia terjadi perdebatan hangat soal apakah jilbab diperbolehkan untuk dikenakan di sekolah atau tidak.

Menurut Cak Nun, pelarangan tersebut aneh dan melanggar hak asasi manusia, maka harus dilawan. Maka drama “Lautan Jilbab” merupakan bentuk perlawanan Cak Nun terhadap keanehan dan ketidakadilan tersebut. Ia katakan:

“…yang saya perjuangkan bukan memakai jilbab atau
membuang jilbab, melainkan hak setiap manusia untuk memilih.”

Di tahun-tahun itu, “Lautan Jilbab” dipentaskan di banyak tempat di beberapa kota di Indonesia seperti Jogja, Surabaya, hingga Makassar. Di tahun-tahun itu juga, naskah-naskah drama Cak Nun juga dipentaskan oleh Sanggar Sholahuddin.

Sambil tetap melakukan berbagai aktivitas, pada tahun 1992 Cak Nun mempersiapkan pementasan besar di Pondok Gontor, Ponorogo. Pementasan itu bertajuk “Perahu Retak” yang secara gamblang menggambarkan keadaan Indonesia yang seperti kapal retak.

Karier teater Cak Nun masih berlajut hingga 2012, teater “Nabi Darurat, Rasul Ad-Hoc” dipentaskan bersama Teater Perdikan dan band Letto. Teater tersebut juga menggambarkan betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas nabi yang bisa membenahinya.

 

Cak Nun Sebagai Kolumnis

buku esai emha ainun nadjib
news.unair.ac.id

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Cak Nun memang pemikir dan penulis serba bisa. Ia menulis puisi, naskah drama, makalah, dan esai (kolom). Artinya, ia menulis hampir seluruh jenis karya tulis. Dari sekian banyak jenis tulisan yang ia tulis, esai merupakan salah satu jenis karya yang menonjol dan banyak dibukukan.

Cak Nun sudah menulis esai di Kompas pada tahun 1977-1978, ketika ia baru berumur seputar 24 atau 25 tahun. Ia telah menulis kolom secara berlangganan di majalah Tempo pada tahun 1981, ketika ia baru berumur 28 tahun.

Diperkirakan waktu itu, Cak Nun termasuk penulis paling muda yang menembus Kompas atau Tempo yang dikenal sangat selektif. Alhasil, sejumlah tulisan Cak Nun di berbagai media massa telah dikumpulkan dan dibukukan, antara lain:

  • Indonesia Bagian Dari Desa Saya (1983)
  • Sastra yang Membebaskan (1984)
  • Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (1985, 1991, dan 1997)
  • Slilit Sang Kiai (1991, saat itu telah mengalami cetak ulang yang ke-8)
  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1993)
  • Markesot Bertutur (1993)
  • Bola-Bola Kultural (1993)
  • Markesot Bertutur Lagi (1994)
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994)
  • Gerakan Punakawan (1994)
  • Opini Plesetan (Oples) (1995)
  • Budaya Tanding (1995)
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996)
  • Titik Nadir Demokrasi (1996)
  • Tuhanpun Berpuasa (1996)
  • Demokrasi Tolol Cara Saridin (1997)
  • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997)
  • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998)
  • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
  • Kiai Kocar Kacir (1998)
  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)
  • Keranjang Sampah (1998)
  • Ikrar Husnul Khatimah (1999)
  • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000)
  • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)
  • Menelusuri Titik Keimanan (2001)
  • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001)
  • Segitiga Cinta (2001)

Banyak dari rekan-rekan Cak Nun yang mengkhawatirkannya, jangan-jangan Cak Nun akan mengalami masa aus. Seperti mesin, secanggih apapun itu mesin, lambat laun ia akan mengahadapi suatu masa tak bisa dipakai lagi. Namun Cak Nun bilang:

“Untunglah manusia sama sekali bukan mesin.”

Cak Nun percaya, pada suatu kesamaan kualitas pada dasarnya manusia mengandung potensi tuhan yang tak terbatas. Potensi keabadian.


Baca juga: Biografi Chairil Anwar – Sang Penyair Pelopor Angkatan 45


Komunitas Maiyah Cak Nun

maiyah babang wetan
babangwetan.org

Sebagai seorang pekerja sosial, kehidupan Cak Nun lebih banyak dijadwal oleh masyarakat yang selalu setia disapanya lewat berbagai acara dan pertemuan. Dengan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, dan sinergi ekonomi yang merupakan upaya penumbuhan potensi rakyat.

Kemampuan Cak Nun dalam membaur dengan masyarakat ditunjukkan dengan menyelenggarakan berbagai pertemuan sosial di berbagai wilayah di Indonesia. Sebut saja komunitas Padhangmbulan Jombang yang merupakan salah satu acara rutin yang diselenggarakan oleh Cak Nun setiap tanggal 15 bulan Jawa, atau tepat pada saat malam bulan purnama.

Kemudian ada Jamaah Maiyah Kenduri Cinta Jakarta yang merupakan forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas dengan sangat terbuka, non partisan, ringan, dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Bersama komunitas ini, Cak Nun tercatat menyelenggarakan acara yang diadakan setiap bulan di Taman Ismail Marzuki dan berlangsung sejak tahun 1990-an.

Agenda rutin Cak Nun lainnya ada Mocopat Syafaat Yogyakarta, Gambang Syafaat Semarang, Babang Wetan Surabaya, dan masih ada beberapa acara yang sifatnya tentatif namun sering diselenggarakan seperti Obro Ilahi Malang.

Dalam pertemuan-pertemuan sosial ini, Cak Nun melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan budaya, pendidikan cara berpikir, serta mengupayakan solusi-solusi dari persoalan masyarakat seperti yang dilakukan orang tua Cak Nun ketika dirinya kecil.

Seputar Karya-Karya Cak Nun

pemimpin yang tuhan
bukucaknun.id

Kiprahnya di dunia sastra dan perannya dalam melestarikan budaya membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpanggil untuk memberikan suatu penghargaan kepada Cak Nun.

Pada Maret 2011, Cak Nun memperoleh penghargaan “Satyalancana Kebudayaan 2010” langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Jero Wacik, menteri kebudayaan dan pariwisata, penghargaan ini merupakan penghargaan yang diberikan kepada seseorang yang memiliki andil besar dalam bidang kebudayaan.

Peran Cak Nun dalam melestarikan kebudayaan daerah maupun nasional ini juga menjadi poin lebih yang membuat diangerahkannya penghargaan ini kepadanya. Selain itu, penghargaan ini juga merupakan penghargaan atas karya-karya yang berguna serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, juga negara.

Teater


  • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto)
  • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan)
  • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern)
  • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern)
  • Bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun)
  • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar)
  • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993)
  • Mementaskan “Perahu Retak” (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping “Sidang Para Setan”, “Pak Kanjeng”, serta “Duta Dari Masa Depan”
  • Tikungan Iblis (diadakan di Yogyakarta dan Jakarta bersama Teater Dinasti)
  • Teater Nabi Darurat Rasul AdHoc bersama Teater Perdikan dan Letto yang menggambarkan betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas Nabi yang bisa membenahinya (2012)

Bibliografi


Puisi

  • “M” Frustasi (1976)
  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978)
  • Sajak-Sajak Cinta (1978)
  • Nyanyian Gelandangan (1982)
  • 99 Untuk Tuhanku (1983)
  • Suluk Pesisiran (1989)
  • Lautan Jilbab (1989)
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990)
  • Cahaya Maha Cahaya (1991)
  • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993)
  • Abacadabra (1994)
  • Syair-syair Asmaul Husna (1994)

Buku

  • Dari Pojok Sejarah (1985)
  • Sastra yang Membebaskan (1985)
  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990)
  • Markesot Bertutur (1993)
  • Markesot Bertutur Lagi (1994)
  • Opini Plesetan (1996)
  • Gerakan Punakawan (1994)
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996)
  • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994)
  • Slilit Sang Kiai (1991)
  • Sudrun Gugat (1994)
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995)
  • Bola- Bola Kultural (1996)
  • Budaya Tanding (1995)
  • Titik Nadir Demokrasi (1995)
  • Tuhanpun Berpuasa (1996)
  • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
  • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997)
  • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998)
  • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
  • Kiai Kocar Kacir (1998)
  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (Penerbit Zaituna, 1998)
  • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999)
  • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000)
  • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)
  • Menelusuri Titik Keimanan (2001)
  • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001)
  • Segitiga Cinta (2001)
  • Kitab Ketentraman (2001)
  • Trilogi Kumpulan Puisi (2001)
  • Tahajjud Cinta (2003)
  • Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003)
  • Folklore Madura (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • Puasa Itu Puasa (Agustus 2005, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • Syair-Syair Asmaul Husna (Agustus 2005, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Kafir Liberal (Cet. II, April 2006, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • Kerajaan Indonesia (Agustus 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006; Penerbit Kompas)
  • Istriku Seribu (Desember 2006, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Orang Maiyah (Januari 2007, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Tidak. Jibril Tidak Pensiun (Juli 2007, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • Kagum Pada Orang Indonesia (Januari 2008, Yogyakarta; Penerbit Progress)
  • Dari Pojok Sejarah; Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib (Mei 2008, Yogyakarta: Penerbit Progress)
  • DEMOKRASI La Raiba Fih(cet ketiga, Mei 2010, Jakarta: Kompas)

Aktivitas Maiyah


  • Jamaah Maiyah Kenduri CInta Jakarta
  • Mocopat Syafaat Yogyakarta
  • Padhangmbulan Jombang
  • Gambang Syafaat Semarang
  • Bangbang Wetan Surabaya
  • Paparandang Ate Mandar
  • Maiyah Baradah Sidoarjo
  • Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali
  • Juguran Syafaat Banyumas Raya
  • Maneges Qudroh Magelang
  • Damar Kedhaton Gresik

♣♣♣


Baca juga: Biografi Affandi Koesoema – Maestro Lukis Indonesia yang Mendunia


Itulah sekilas biografi Cak Nun yang kita rangkum dari berbagai sumber terpercaya. Tentu masih banyak hal-hal menarik untuk diceritakan seputar berbagai sisi kehidupan Cak Nun. Maka, silakan lanjut membaca biografi Cak Nun yang lebih rinci dari salah satu referensi kita.

Semoga menginspirasi!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *