biografi rhoma irama

Rhoma Irama, Biografi Sang Raja Dangdut yang Kontroversial

Mengkisahkan biografi Rhoma Irama yang kerap menuai kontroversi. Berkisah dari masa kecil Rhoma, menjadi pengamen, sebagai raja dangdut, kiprahnya di dunia politik, hingga istri-istri dan kontroversi yang sempat ramai mengenai dirinya..


Profil Rhoma Irama

Nama Lahir
Raden Haji Oma Irama

Nama Lain
Rhoma Irama

Lahir
Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1946

Domisili
Jakarta

Pekerjaan
Musisi, aktor

Aliran
Dangdut

Tahun Aktif
1968

Orang Tua

  • Raden Irama Burdah Anggawirya (ayah)
  • Tuti Juariah (ibu)

Pasangan

  • Veronika
  • Ricca Rachim
  • Angel Lelga
  • Marwah Ali

Baca juga: Iwan Fals, Mengulas Biografi Sang Legenda Musik Indonesia


Masa Kecil Rhoma Irama

Raden Haji Oma Irama, atau yang lebih dikenal dengan Rhoma Irama, lahir di Tasikmalaya pada 11 Desember 1946 dari pasangan Raden Irama Burdah Anggawirya dan Titi Juariah. Rhoma merupakan keturunan ningrat, putra kedua dari 14 bersaudara, delapan laki-laki dan enam perempuan (8 saudara kandung, 4 saudara seibu, dan 2 saudara tiri).

Ayahnya, Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih memberinya nama ‘Irama’ karena bersimpati pada grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang pernah diundangnya untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya.

Ketertarikan Rhoma pada musik sudah terlihat sejak masih kecil. Tangisannya selalu terhenti setiap kali ibunya menyenandungkan lagu-lagu. Masuk ke kelas nol, ia benar-benar mulai menyukai musik.

Lanjut ke sekolah dasar, kegemarannya pada lagu-lagu semakin terlihat saja. Ketika duduk di kelas 2, Rhoma sudah mampu membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan baik. Ia gemar menyanyikan lagu “No Other Love” yang juga kesukaan ibunya, juga lagu Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Selain itu, ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah semacam Umm Kaltsum.

Bakat musik Rhoma yang sudah mulai tampak sejak kecil, mungkin berasal dari pengaruh ayahnya yang fasih memainkan seruling dan menyanyikan lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selebihnya, pamannya yang bernama Arifin Ganda juga senang mengajarinya lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.

Pengalamannya dalam menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih duduk di sekolah dasar, juga lagu-lagu pop, rock, kemudian juga beralih ke musik Melayu, turut memberikan pengaruh pada lagu-lagu dan musik yang dibawakannya kelak di atas panggung menjadi lebih dinamis, melodis, dan harmonis.

Karena usia Rhoma dan kakaknya, Benny, tak beda jauh, mereka selalu kompak dan pergi berdua. Berbeda dengan kakaknya yang seringkali malas jika diajak mengaji di surau atau rumah kiyai, Rhoma jarang absen dalam mengikuti pengajian. Ke sekolah pun, mereka selalu berangkat bersama dengan berboncengan naik sepeda.

Di bangku sekolah dasar, bakat menyanyi Rhoma semakin tampak. Ia paling semangat jika disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Berbeda dengan kebanyakan murid lainnya yang suka malu-malu jika tampil di depan kelas, Rhoma justru menyanyi dengan suara keras hingga terdengar sampai ke kelas-kelas lain.

Uniknya lagi, Rhoma juga menarik perhatian karena bukannya menyanyikan lagu anak-anak atau lagu kebangsaan, ia malah menyanyikan lagu-lagu India.

Bakat menyanyi yang dimiliki Rhoma rupanya juga memancing perhatian seorang penyanyi senior kala itu, Bing Slamet. Kala itu, ia melihat secara langsung penampilan Rhoma yang mengesankan di atas panggung ketika menyanyikan sebuah lagu Barat dalam acara pesta di sekolahnya.

Hingga suatu hari, Rhoma yang kala itu masih duduk di kelas 4, Bing membawanya dan memintanya tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai. Tentu, ini merupakan pengalaman yang membanggakan bagi Rhoma ketika kecil.

Semenjak saat itu, meski belum pernah terpikirkan untuk menjadi penyanyi, Rhoma sudah tak bisa dipisahkan lagi dari musik. Secara mandiri, ia belajar memainkan gitar hingga mahir. Kegandrungannya terhadap gitar itu sampai seringkali membuat ibunya marah. Hampir setiap kali ia pulang sekolah, yang pertama dicari adalah gitar. Begitu juga tiap kali keluar rumah, gitar hampir selalu ia bawa.

Pernah suatu hari, ibunya menyuruh Rhoma untuk menjaga adiknya. Bukannya menaati perintah ibunya, Rhoma malah memilih bermain gitar. Akibat ulahnya itu, ibunya merampas gitar miliknya lalu melemparkannya ke arah pohon jambu hingga pecah. Tentu tragedi tersebut membuat Rhoma sedih karena gitar adalah teman terbaik baginya.

Seiring berkembangnya Rhoma dalam kegemarannya bermain musik, ia mulai menyadari bahwa meskipun ayah dan ibunya juga menggemari musik, mereka tetap menganggap dunia musik bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau dijadikan sebagai profesi.

Tahun 1958, saat Rhoma masih duduk di kelas 5 SD, ayahnya meninggal dunia. Sang ayah meninggalkan delapan anak, yaitu: Benny, Rhoma, Handi, Ance, Dedi, Eni, Herry, dan Yayang. Saat kakaknya, Benny, duduk di kelas 1 SMP, ibunya menikah lagi dengan seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya, yang juga masih ada hubungan famili dan berdarah ningrat.

Raden Soma Wijaya yang praktis menjadi ayah tiri Rhoma ini membawa dua anak dari istrinya yang dulu, dan setelah menikah dengan ibu Rhoma, sang ibu melahirkan dua anak lagi.

Dikisahkan ketika ayah kandungnya masih hidup, suasana rumah feodal. Sehari-hari ayah dan ibu Rhoma berbicara dengan bahasa Belanda. Segalanya harus serba diatur dan tentu meninggikan tata krama.

Para pembantu juga harus memanggil anak-anak dengan sebutan ‘Den’ (raden). Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama. Sang ayah juga tak segan menghukum anak-anaknya dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan, misal bermain hujan-hujanan atau membolos sekolah.

Keluarga Rhoma di Tebet kala itu memang tergolong cukup kaya jika dibandingkan dengan masyarakat sekitar. Rumahnya mentereng dan mereka memiliki beberapa mobil, seperti Impala yang kala itu tergolong mewah. Rhoma sendiri juga selalu berpakaian bagus dan mahal.

Namun sejak ayah tiri-nya hadir di tengah keluarga mereka, suasana feodal tersebut tak lagi sekental dulu. Bahkan, dari ayah tiri-nya inilah Rhoma seolah mendapat angin segar untuk menyalurkan kegemarannya. Secara bertahap, ayah tiri-nya juga membelikan alat-alat musik akustik seperti gitar, bongo, dan semacamnya.

Di masa menjelang remaja, Rhoma tergolong anak yang bandel. Lingkungan pergaulannya kala itu tergolong keras. Anak-anak seusianya saat itu cenderung suka mengelompok dalam sebuah geng, satu geng dengan geng lainnya saling bersaing dan bahkan bermusuhan. Praktis, perkelahian antar geng seringkali terjadi.

Di Bukitduri tempat tinggalnya, hampir setiap kampung pasti terdapat geng yang diisi anak-anak muda. Ada BBC (Bukitduri Boys Club), ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya. Geng-geng ini saling bermusuhan sehingga seringkali terjadi perkelahian setiap kali mereka bertemu.

Dalam lingkungan tersebut, Rhoma menjadi salah satu yang menonjol dalam perkelahian sehingga ia dijadikan sebagai pemimpin. Tentu, setiap kali terjadi bentrok antar geng, Rhomalah yang selalu diandalkan untuk bertarung. Meskipun ia juga mendalami silat dan seringkali memenangi pertarungan, ia juga sering babak belur, bahkan pernah mengalami luka parah karena dikeroyok hingga 15 orang.

Karena kebandelannya itulah, Rhoma pernah beberapa kali tak naik kelas, sehingga acapkali ia berpindah sekolah karena malu. Kelas 3 SMP, Rhoma sekolah di Medan dan tinggal di rumah pamannya. Namun tak berapa lama kemudian, ia pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta.

Kebandelan Rhoma masih berlanjut hingga SMA. Sewaktu menjalani sekolahnya di SMA Negeri VIII Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya yang sudah menunggu di luar kelas. Kegandrungannya pada musik dan berkelahi di luar dan dalam sekolah menyebabkan ia keluar masuk sekolah SMA.

Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga tercatat pernah menjadi siswa di SMA PSKD Jakarta, St, Joseph Solo, dan akhirnya menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta yang tak jauh dari rumahnya.


Baca juga: Didi Kempot, Biografi Musisi Campur Sari Imam Besar Sobat Ambyar


Terdampar di Solo dan Menjadi Pengamen

Ketika Rhoma menginjak usia remaja, ia sempat megalami masa-masa pahit sebagai seorang penuntut ilmu. Dengan terpaksa, ia pernah menjadi pengamen di jalanan Kota Solo. Di sana ia ditampung oleh seorang pengamen bernama Mas Gito untuk tinggal di rumahnya.

Dikisahkan sebelum terdampar di Kota Solo, Rhoma memiliki niatan untuk belajar agama di Pesantren Tebuireng, Jombang. Dari Jakarta, ia bersama Benny kakaknya dan tiga temannya, Daeng; Umar; dan Haris, berangkat tanpa membeli karcis.

Karena menjadi penumpang ilegal, mereka harus main kucing-kucingan denga  kondektur selama dalam perjalanan. Namun daripada terus gelisah karena khawatir kalau ketahuan lalu diturunkan di tempat sepi, mereka akhirnya memutuskan turun di Stasiun Tugu Jogja. Dari Jogja, mereka menumpang kereta lagi menuju Solo.

Di Solo, Rhoma sempat melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph dengan biaya yang diperolehnya dari mengamen dan menjual beberapa pakaian yang dibawanya dari Jakarta. Namun Karena sekolahnya tak lulus, Rhoma lalu pulang ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus pada tahun 1964.

Setelah lulus, Rhoma juga sempat meneruskan pendidikannya dengan berkuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas 17 Agustus. Namun kuliahnya cuma bertahan selama setahun karena ketertarikannya pada musik sudah terlampau kuat.

Rhoma Irama sebagai Musisi

Rhoma mengawali karier bermusiknya dengan membentuk grup Gayhand pada tahun 1963, sebelum dirinya terkenal sebagai raja dangdut. Tak lama kemudian, ia pindah ke grup Orkes Chandra Leka, hingga akhirnya membentuk band sendiri yang ia beri nama Soneta Group pada bulan Desember 1970.

Bersama grup Soneta yang dipimpinnya sendiri, Rhoma tercatat telah merilis 18 album sepanjang kariernya. Ia juga memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kaset albumnya. Beberapa albumnya yang paling populer adalah Begadang (1993), Bujangan (1994), dan Darah Muda (1995).

Dalam hal ini, nama Rhoma sudah terkenal di seantero Nusantara sebagai pionir kejayaan musik dangdut Indonesia. Ia menggabungkan musik Melayu, rock, pop, dan lagu India. Lirik-lirik lagunya meliputi pesan-pesan agama, tema percintaan, hingga kritik sosial. Dari sana, Rhoma dikenal dengan gelar sebagai raja Dangdut.

Rhoma Irama juga terhitung sebagai salah satu penghibur paling sukses dalam mengumpulkan massa. Ia tak hanya tampil di dalam negeri, namun juga pernah pentas di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei Darussalam dengan jumlah penonton yang hampir sama dengan ketika ia tampil di Indonesia.

Dengan menyajikan musik baru yang memadukan unsur musik Melayu, rock, pop, dan musik India itu, orang-orang menyebutnya musik dangdut. Namun ia sendiri lebih suka jika musiknya disebut sebagai irama Melayu.

Pada 13 Oktober 1973, Rhoma mencanangkan semboyan “Voice of Moslem” (Suara Muslim) yang bertujuan menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik Melayu, serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung.

Menurut Achmad Albar, seorang musisi rock Indonesia, “Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock”. Namun kalau kita amati, rupanya bukan hanya rock saja yang dipadu oleh Rhoma Irama, tetapi juga musik pop, India, dan orkestra juga. Hal inilah yang menyebabkan setiap lagu Rhoma memiiki nuansa yang berbeda.

Merambah ke Dunia Perfilman

Sejak tahun 1977, Rhoma juga mulai merambah ke dunia seni peran dengan film perdananya, Jakarta Jakarta. Dari sana, menyusul kemudian film Salah Kamar (1978), Wadam (1978), Bayang-Bayang Kelabu (1979), dan lainnya. Di antara film-nya yang populer dan sukses berat: Cinta Camelia (1979), Satria Bergitar (1983), dan Pengabdian (1984).

Kesuksean Rhoma tak terbatas pada musik saja, ia juga menuai kesuksesan dalam dunia perfilman, setidaknya secara komersial. Data PT. Perfin menyatakan, nyaris semua film Rhoma selalu laku. Bahkan pernah sebuah film belum selesai diproses, orang sudah membelinya.

Satria Bergitar misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp. 750 juta ini,  belum rampung film tersebut diproduksi sudah memperoleh pialang Rp. 400 juta. Namun, “Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari uang kaset,” ujar Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma Film. Hasil film tersebut disumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.

Berdasarkan data penjualan kaset dan jumlah penonton film-film yang dibintanginya, penggemar Rhoma Irama tercatat tak kurang dari 15 juta orang atau 10% dari penduduk Indonesia, tercatat pada pertengahan 1984.

“Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas,” tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma sendiri katakan, “Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh.”

Berkecimpung di Dunia Politik

Pada tahun 1977, Rhoma mulai terlibat dalam urusan politik dengan menjadi juru kampanye PPP kendati cuma jadi simpatisan. Kala itu, suara PPP di Jakarta mampu mengalahkan partai Golkar yang didukung penuh rezim Orde Baru.

Pada periode 1970-1980 juga menjadi masa-masa rawan bagi Rhoma. Ia sempat menjadi maskot penting PPP setelah dimusuhi oleh rezim Orde Baru karena menolak bergabung dengnan partai Golkar. Ia sering mendapatkan berbagai ancaman sebab lagu-lagunya yang kritis terhadap pemerintah. Selain itu, ia juga sempat dilarang tampil di TVRI.

Pada tahun 1993, tercatat Rhoma pernah menjadi anggota MPR sebagai utusan golongan mewakili seniman dan artis sampai tahun 1997. Sebelum berakhirnya masa jabatannya sebagai anggota MPR, pada 1996 Rhoma membelot menjadi juru kampanye Golkar menjelang Pemilu tahun 1997. Keputusan ini tentu mengejutkan para pendukungnya.

Melompat ke tahun 2015, pada 14 Oktober Rhoma mendirikan Partai Idaman dan menempatkan dirinya sebagai ketua umum. Namun, Partai bentukannya tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarak kelolosan untuk mengikuti Pemilu 2019.

Karena tak lolos persyaratan Pemilu, pada akhir Oktober 2018, Rhoma dan para pendukungnya mendeklarasikan diri untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai capres dan cawapres 2019. ” … sehingga kalau kemudian berani deklarasi, artinya kami sudah siap mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga pada Pilpres 2019,” ujar Rhoma seperti dikutip dari Antara.

Istri-Istri Rhoma Irama

  • Pada 1972, Rhoma menikahi Veronica, seorang wanita Nasrani yang menjadi mualaf setelah dinikahinya. Dari Veronica, mereka dikaruniai 3 orang anak, yaitu: Debby Verama Sari (18 Desember 1972), Fikri Rhoma Irama (30 September 1976), dan Romy (26). Namun pada Mei 1985, hubungan ruah tangga mereka musti berakhir dengan perceraian.
  • Sekitar setahun sebelum cerai, Rhoma telah menikahi Ricca Rachim yang juga seorang wanita Nasrani yang kemudian masuk Islam setelah dinikahinya. Ricca juga merupakan lawan mainnya dalam beberapa film, di antaranya: Melodi Cinta, Camellia,dan Satria Bergitar. Hingga sekarang, Ricca masih setia mendampingi Rhoma sebagai istri.
  • Sempat dikabarkan juga pada media bahwa wanita bernama Marwah Ali juga sempat dinikahi Rhoma. Pernikahan yang terbilang minim publikasi tersebut dikabarkan menghasilkan pedangdut baru Ridho Rhoma yang lahir 1989. Namun, media baru mencium pernikahan Rhoma dan Marwah pada 1991.
  • Meski berada jauh dari Jakarta, namun rupanya Rhoma tak kesulitan mendapatkan wanita. Gadis solo bernama Gita Andini Saputri juga dikabarkan sudah dinikahi Rhoma. Pernikahan yang berlangsung pada tahun 1999 tersebut juga dikabarkan menghasilkan anak bernama Adam Ghifari.
  • Terakhir, Rhoma pernah digrebek oleh wartawan sedang bersama Angel Lelga di sebuah apartemen. Penggrebekan tersebut diketahui didalangi oleh Yati Octavia dan suaminya, Pangky Suwito. Namun pada 2 Agustus 2005, Rhoma mengumumkan telah menikahi artis sinetron Angel Lelga secara siri pada 6 Maret 2003, namun di hari itu juga ia menceraikannya.

Baca juga: Mengenang Benyamin Sueb, Biografi Legenda Musik Indonesia


Referensi:


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *