biografi ws rendra

Biografi WS Rendra – Sastrawan Pendiri Bengkel Teater Rendra

Memaparkan secara lengkap biografi WS Rendra. Dari cerita masa kecil, sejarah Bengkel Teater Rendra, kisah cinta, sampai membahas karya-karyanya yang terkenal.


Nama WS Rendra barangkali sudah tak asing lagi di kalangan penikmat sastra. Karya-karyanya cukup terkenal dan selalu disambut hangat oleh para sastrawan.

Tak cuma menulis puisi, Rendra juga aktif menulis cerpen, esai sastra, dan mendirikan Bengkel Teater sebagai basisnya dalam berkesenian. Dari Bengkel Teater bentukannya, tercatat sudah melahirkan banyak seniman baru, seperti Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, dan Adi Kurdi.

Namanya melegenda di kalangan pecinta sastra. Namun barangkali ada sebagian orang belum mendengar namanya. Maka kali ini akan kita simak biografi WS Rendra lengkap dari cerita masa kecil, kisah cinta, sampai membahas karya-karyanya yang monumental.


Baca : Biografi Remy Sylado – Pelopor Puisi mBeling


 

Profil

Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra

Nama Lain : WS Rendra

Profesi : Sastrawan

Tempat Lahir : Solo, Hindia Belanda

Tanggal Lahir : 7 November 1935

Nama Ayah : Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo

Nama Ibu : Raden Ayu Catharina Ismadillah

Riwayat Pendidikan :

  • TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
  • SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat pada tahun 1955).
  • Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
  • American Academy of Dramatical Art (AADA) (1964 – 1967).

Istri :

  1. Sunarti Suwandi
  2. Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat
  3. Ken Zuraida

Anak :

  1. Teddy Satya Nugraha
  2. Andreas Wahyu Wahyana
  3. Daniel Seta
  4. Samuel Musa
  5. Klara Sinta
  6. Yonas Salya
  7. Sarah Drupadi
  8. Naomi Srikandi
  9. Rachel Saraswati
  10. Isaias Sadewa
  11. Maryam Supraba

Baca juga: Biografi Chairil Anwar – Sang Penyair Pelopor Angkatan 45


Lebih Dekat dengan Rendra

biografi ws rendra
blogkulo.com

Willibrodus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Dikenal sebagai seorang penyair dan sastrawan yang dijuluki “Si Burung Merak”.

Ketika itu, Rendra bersama dengan seorang kawannya yang berasal dari Australia berjalan-jalan ke kebun binatang Gembiraloka Yogyakarta. Di sana, mereka melihat seekor burung merak jantan. “Itu Rendra!”, kata sahabatnya orang Australia itu.

“Dia orangnya suka pamer. Seperti burung merak jantan yang suka memamerkan bulu-bulu indahnya,” cerita Edi Haryono, sahabat dekat Rendra yang menemaninya saat jalan-jalan ke Gembiraloka. Dari situ, Rendra mulai dikenal berjulukan “Burung Merak”.

Ayah Rendra, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, seorang dramawan yang juga mengajar Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sebuah sekolah Katolik di Solo. Sedangkan ibunya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, seorang penari Serimpi yang kerap tampil untuk Keraton Solo.

Rendra mengenyam pendidikan pertamanya di TK Marsudini, Yayasan Kanisius. Kemudian ia lanjutkan menempuh pendidikan dari SD sampai SMA di sekolah yang sama, Sekolah Katolik Santo Yosef, Surakarta dan tamat pada 1955.

Setamatnya dari SMA, Rendra berniat pindah ke Jakarta untuk memulai kariernya dengan masuk di Akademi Luar Negeri Jakarta. Namun sesampainya di sana, ternyata sekolah tersebut sudah ditutup.

Akhirnya, Rendra banting setir ke Yogyakarta dan diterima di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM). Di masa inilah, Rendra mulai menunjukkan bakat seninya.

Berkat aktivitasnya di dunia sastra, Rendra mendapatkan beasiswa dari American Academy of Dramatic Art (AADA) untuk mendalami seni tari dan drama. Pada tahun 1964, berangkatlah dirinya ke Amerika Serikat.

Bengkel Teater Rendra

bengkel teater rendra
youtube

Pada tahun 1967, sepulang dari Amerika, Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta yang cukup terkenal dan memberikan suasana baru dalam kehidupan berteater di tanah air. Dari sana juga banyak melahirkan seniman baru seperti: Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, dan Adi Kurdi.

Namun sejak tahun 1977, kelompok teater Rendra mengalami kesulitan untuk tampil di muka publik baik untuk mementaskan dramanya atau membacakan puisinya akibat tekanan politik.

Akhirnya pada 1985, Rendra memindahkan aktivitas teaternya ke Depok dengan mendirikan Bengkel Teater Rendra sebagai basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel Teater Rendra pun masih berdiri hingga sekarang.

Bengkel Teater Rendra berdiri di atas lahan seluas 3 hektar yang terdiri dari bangunan kediaman Rendra beserta keluarga dan bangunan sanggar untuk latihan drama dan tari.

Silakan baca-baca di sini untuk memahami pemikiran kritis Rendra.

Rendra Sebagai Sastrawan

Semenjak duduk di bangku SMP, bakat Rendra dalam bersastra memang sudah terlihat. Di masa itu, ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama untuk berbagai kegiatan di sekolahnya.

Judul drama yang pertama kali ia pentaskan pada saat SMP yaitu “Kaki Palsu”. Semasa SMA, ia pentaskan sebuah drama berjudul “Orang – Orang di Tikungan Jalan” dan memperoleh penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta.

Akibat penghargaan tersebut, Rendra menjadi sangat bergairah untuk menghasilkan karya-karya yang lain.

Pada tahun 1952, puisi Rendra pertama kali dipublikasikan melalui majalah Siasat. Sejak itu, puisi-puisi yang lain menyusul mewarnai kolom-kolom puisi dari berbagai majalah seperti: Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru dan terus berlanjut sampai beberapa dekade setelahnya.

Tak hanya di dalam negeri, karya-karya Rendra juga banyak dikenal di mancanegara. Banyak dari karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing seperti: bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.

Menurut Prof. A. Teeuw di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, Rendra tidak termasuk salah satu kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan ’60-an, atau Angkatan ’70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Seperti yang telah diceritakan di awal, ayah Rendra seorang dramawan dan ibunya seorang penari Serimpi. Gabungan aliran darah seni dari orang tuanya itulah yang melatarbelakangi karya-karya Rendra begitu memukau dan kental dengan aroma Jawa.

Dalam kumpulan puisi “Balada Orang-orang Tercinta”, banyak mengandung bahasa Jawa dan menggambarkan tentang orang-orang yang berlatarbelakang budaya Jawa.

Wawasan Rendra yang diajarkan ayahnya tentang dinamika budaya, bangsa, emansipasi individu, kedaulatan rakyat, hak asasi manusia, dan keadilan sosial bisa dibilang menjadi pengaruh yang cukup mendominasi dalam karya-karya Rendra.

Karena kecintaanya kepada sastra, Rendra cukup aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, semacam The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), dan lain sebagainya.

Kisah Cinta Rendra

kisah cinta rendra
nu.or.id

Ketika menginjak di usia 24 tahun, Rendra bertemu dengan Sunarti Suwandi, cinta pertamanya yang dinikahi pada 31 Maret 1959. Dari Sunarti, Rendra dikaruniai lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan, Clara Sinta.

Pada tahun 1971, Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat ditemani oleh kakaknya, R. A. Laksmi Prabuningrat mengutarakan keinginannya untuk menjadi murid Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater. Keduanya merupakan putri darah biru Keraton Yogyakarta.

Jeng Sito, begitu Rendra memanggilnya, yang bersedia melebur dengan kehidupan urakan Bengkel Teater, salah satu tugasnya menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Tak lama kemudian, dengan ditemani Sunarti istrinya, Rendra berangkat melamar Sito untuk menjadi istri keduanya. Lamaran Rendra pun diterima oleh Sito. “Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga,” tutur Sito tentang Rendra kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra.

Namun halangan datang dari ayahnya yang tidak mengizinkan putrinya yang beragama Islam menikah dengan seorang pemuda Katolik.

Akhirnya, Rendra menikahi Sito setelah mengucapkan dua kalimat syahadat pada 12 Agustus 1970. Dikabarkan, Rendra juga mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Peristiwa itu juga disaksikan oleh Ajip Rosidi dan Taufiq Ismail.

Peristiwa syahadat Rendra juga mengundang berbagai komentar negatif soal Rendra yang memilih pindah keyakinan hanya untuk berpoligami. Untuk menjawab hal itu, Rendra beralasan bahwa ia memang sudah lama tertarik kepada Islam.

Sebenarnya alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra adalah karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang selama ini menghantuinya: kemerdekaan individual sepenuhnya.

“Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai,” katanya sambil mengutip ayat Alquran yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher hambanya.

Dari pernikahannya dengan Sito, Rendra dikaruniai empat orang anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Beberapa tahun kemudian, Rendra juga mempersunting Ken Zuraida sebagai istri ketiga. Darinya, Rendra dikaruniai dua anak lagi, bernama Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Namun tak lama setelah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sito pada tahun 1979 dan Sunarti pun juga mengajukan cerai pada 1981.

Karya-Karya Rendra

doa untuk cucu
mizanstore

Menurut Waluyo (1991:230), sajak-sajak Rendra pada hakekatnya berisi balada-balada. Ciri yang menonjol pada karyanya antara lain berbau politik, bergaya epik yang diwujudkan dalam lariknya, banyak mengungkapkan masalah sosial, kemiskinan, pengangguran, dan kepincangan dalam hidup.

Karya-karya Rendra juga banyak dibicarakan oleh ahli sastra mancanegara. Prof. Harry Aveling, pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakandan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974.

Prof. Rainer Carle, pakar sastra dari Jerman juga ambil bagian membicarakan karya Rendara dalam bentuk disertasi berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Pementasan Teater

  1. Orang-orang di Tikungan Jalan (Rendra) di Yogyakarta (1954)2)
  2. Peristiwa Sehari-hari di TIM, Jakarta (1969)3)
  3. Oidipus Sang Raja (Sophocles) di TIM, Jakarta (1970)4)
  4. Menunggu Godot (Samuel Beckett) di TIM, Jakarta (1970)5)
  5. Kasidah Barzanji (Syu’bah Asa) di TIM, Jakarta (1970)6)
  6. Hamlet (William Shakespeare) di TIM, Jakarta (1971)7)
  7. Dunia Azwar (Rendra) di TIM, Jakarta (1971)8)
  8. Mastodon dan Burung Kondor (Rendra) di Istora Senayan, Jakarta (1972)
  9. Antigone (Sophocles) di TIM, Jakarta (1972)Oidipus Di Colonus (Sophocles) diTIM, Jakarta (1973)10)
  10. Lysistrata (Aristophanes) di TIM, Jakarta (1973)11)
  11. Kisah Perjuangan Suku Naga (Rendra) di Istora Senayan, Jakarta (1974)12)
  12. Macbeth (William Shakespeare) (1975)13)
  13. Perampok  (Johann Friedrich Schiller) di TIM, Jakarta (1976)14)
  14. Egmont  (Goethe) di TIM, Jakarta (1976)15)
  15. Pangeran Homburg  (Heinrich von Kleist) di TIM, Jakarta (1976)16)
  16. Lingkaran Kapur Putih (Bertolt Brecht) (1977)17)
  17. Sekda (1977)18)
  18. Panembahan Reso (1986)19)
  19. Selamatan Anak Cucu Sulaiman (Rendra) di Internasional Festival of Art di NewYork, AS (1988)20)
  20. The Ritual of Solomon Childrens (Rendra) di Tokyo, Hiroshima, Jepang (1990)21)
  21. Lysistrata (Aristophanse) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta(1991)22)
  22. The Ritual of Solomon Childrens (Rendra) di Korea Selatan (1992)23)
  23. Selamatan Anak Cucu Sulaiman (Rendra) di Medan, Samarinda dan Yogyakarta(1993)24)
  24. Hamlet  (William Shakespeare) di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta (1994)25)
  25. Kasidah Barzanji (Syu‟bah Asa) di TIM Jakarta (2003) 26)
  26. Shalawat Berzanji di Lapangan indoor Tenis, Senayan Jakarta (2005)27)
  27. Sekda (Rendra) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta(2006)
  28. Sobrat di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta (2008)

Kumpulan Puisi

  1. Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)
  2. Blues untuk Bonnie
  3. Empat Kumpulan Sajak
  4. Sajak-sajak Sepatu Tua
  5. Mencari Bapak
  6. Perjalanan Bu Aminah
  7. Nyanyian Orang Urakan
  8. Pamphleten van een Dichter
  9. Potret Pembangunan Dalam Puisi
  10. Disebabkan oleh Angin
  11. Orang Orang Rangkasbitung
  12. Rendra: Ballads and Blues Poem
  13. State of Emergency
  14. Do’a untuk Anak-Cucu

Kumpulan Cerpen

  1. Ia Sudah Bertualang (1963)2)
  2. Memberi Makna pada Hidup yang Fana (1999)

Penghargaan

  1. Hadiah Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
  2. Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  3. Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  4. Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  5. Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  6. Penghargaan Adam Malik (1989)
  7. The S.E.A. Write Award (1996)
  8. Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Akhir Hayat Rendra

makam rendra
depoknews.id

Penyair dengan julukan Si Burung Merak ini menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 22.10 WIB di RS Mitra Keluarga, Depok. Rendra dikebumikan di tempat peristirahatan terakhir di markas Bengkel Teater miliknya, Cipayung, Citayam, Depok dan bersanding dengan sejumlah kawan dekatnya.

♣♣♣


Baca juga: Biografi Remy Sylado – Sastrawan Multitalenta Pelopor Puisi Mbeling


Rendra memang legenda di dunia sastra. Karya-karyanya cukup terkenal dan selalu menarik perhatian para pengamat sastra. Inilah biografi WS Rendra paling lengkap yang kita rangkum dari beberapa sumber terpercaya.

Semoga manfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *