kisah kebo iwa

Cerita Rakyat Bali: Kebo Iwa dalam Berbagai Versi

Menyimak secarik cerita rakyat Bali, kisah Kebo Iwa, dari berbagai versi dan sudut pandang yang berbeda.


Sebenarnya, kisah Kebo Iwa tak cuma terkenal di tanah Bali. Kisah tersebut pun juga banyak dikenal oleh masyarakat Jawa, khususunya Jawa Timur, dengan nama yang sedikit berbeda, Kebo Suwo Yuwo. Meski tak banyak terdapat perbedaan cerita, namun antara kedua versi cerita cuma mengalami perbedaan dalam sudut pandang, khususnya alasan di balik Kebo Iwa datang ke Jawa.

Dalam versi Jawa, diceritakan bahwa kedatangan Kebo Iwa ke Jawa karena terpesona oleh kecantikan Putri Jejawi yang terkenal di Kerajaan Majapahit kala itu. Namun dalam versi Bali, kedatangan Kebo Iwa ke Jawa bukan hanya sekadar soal percintaan-nya dengan Putri Jejawi, melainkan untuk memenuhi undangan Patih Gajah Mada yang meminta bantuannya.

Kelengkapan ceritanya, mari kita simak kisah Kebo Iwa versi Bali di bawah. Pada tulisan ini, kita akan menyimak cerita Kebo Iwa yang berkaitan dengan Patih Gajah Mada, versi percintaannya dengan Putri Jejawi, juga versi Kebo Iwa dan asal usul Danau Batur.

Kisah Kebo Iwa dan Patih Gajah Mada

patung gajah mada
Patung Patih Gajah Mada /boombastis.com

Dikisahkan di sebuah desa di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang rukun nan kaya raya. Namun, kebahagiaan mereka belumlah sempurna sebab setelah sekian lama menikah, belum juga mereka dikaruniai seorang anak. Maka oleh sebab itu, pergilah mereka ke pura untuk sembahyang dan memohon kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Tanpa henti mereka melakukannya setiap hari.

Sekian lama waktu berlalu, akhirnya sang istri mulai mengandung. Suami istri itu pun bahagia dan tak lupa mengucap rasa syukur kepada Tuhan. Setelah sembilan bulan mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki. Namun rupanya, bayi yang lahir bukanlah bayi biasa. Bayi yang baru lahir itu sanggup memakan makanan orang dewasa. Semakin hari, semakin banyak saja anak itu makan.

Makin waktu berlalu, anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena tubuhnya yang tinggi besar itu, ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa yang berarti ‘paman kerbau’. Kebo Iwa dengan rakus makan dan makan terus, hingga lama-lama habislah harta orang tuanya hanya untuk memenuhi kebutuhan makannya. Sampai akhirnya, mereka pun tak sanggup lagi mencukupi makan anaknya.

Terpaksa, suami istri itu meminta bantuan warga desa. Semenjak itulah, segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung masyarakat desa. Penduduk desa membagun rumah yang begitu besar buat Kebo Iwa. Mereka juga memasak makanan yang begitu banyak untuknya.

Namun lama kelamaan mereka juga tak sanggup lagi menyediakan makanan. Akhirnya mereka meminta Kebo iwa untuk memasak makanannya sendiri dan penduduk desa cuma menyediakan bahan mentahnya saja.

Kian hari, Kebo Iwa tumbuh menjadi orang yang serba besar. Jangkauan kakinya yang lebar membuat dirinya dapat bepergian dengan sangat cepat. Jika ia ingin minum, ia tinggal menusukkan jari telunjuknya ke tanah dan terbentuklah sumur kecil yang mengeluarkan air.

Kehebatan Kebo Iwa juga menjadikannya sosok pahlawan yang dapat menghalau serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukan Kerajaan Bali. Sampai akhirnya Sang Maha Patih Majapahit, Gajah Mada, pun mengatur siasat. Ia mengundang Kebo Iwa ke Majapahit dan memintanya membuatkan beberapa sumur, karena kerajaan tersebut sedang kekurangan air.

Tanpa curiga, Kebo Iwa pun menyanggupinya. Sesampainya di Kerajaan Majapahit,  ia menggali banyak sumur. Sungguh sebuah pekerjaan yang berat, karena tanah yang banyak mengandung batu kapur dan ia harus menggali hingga dalam sekali.

Ketika Kebo Iwa sedang bekerja di sumur, Sang Patih Gajah Mada kemudian memerintahkan pasukannya untuk menimbun Kebo Iwa dengan batu kapur. Kebo Iwa pun sesak nafasnya karena timbunan batu kapur, kamudian ia pun mati di dasar sumur.

Setelah kematian Kebo Iwa, Kerajaan Bali pun kembali diserang oleh pasukan Majapahit dan dengan mudahnya Patih Gajah Mada menaklukkannya.


Baca juga: Kumpulan Puisi Pendek dari Para Penyair Terkenal yang Menginspirasi


Kebo Suwo Yuwo dan Putri Jejawi (versi Jawa)

Alkisah, di Kerajaan Majapahit, ada seorang putri cantik jelita bernama Putri Jejawi. Konon, di masa kecil sang putri tidak minum susu dari ibunya, melainkan susu kerbau; domba; dan sapi.

Menginjak usia 15 tahun, diam-diam sang putri pergi meninggalkan istana dan memutuskan tinggal di dekat Pandakan (Jawa Timur), membuat rumah di Desa Jejawi. Kini, tempat tersebut terkenal dengan keberadaan candinya, bernama Candi Jawi.

Kecantikan Putri Jejawi telah terkenal ke mana-mana, bahkan kabarnya sampai ke Kerajaan Bali. Seorang prajurit dari Kerajaan Bali yang dikenal sangat sakti, Kebo Suwo Yuwo, pun sampai terpesona mendengar kabar kecantikan sang putri.

Tanpa menunggu lama-lama, Kebo Suwo Yuwo pun memutuskan bergegas bertolak ke Kerajaan Majapahit demi meminang sang putri. Sesampainya di Tanah Jawa, di dekat Desa Jejawi, Kebo Suwo Yuwo mendirikan sebuah desa yang kemudian bernama Desa Suwo Yuwo.

Sayang, Putri Jejawi tak menyukai Kebo Suwo Yuwo. Meski begitu, sang putri merasa takut menyampaikan penolakannya tersebut. Ia lantas mencari cara agar bisa menghindari pernikahan dengan Kebo Suwo Yuwo.

Satu cara didapat, Putri Jejawi meminta syarat kepada Kebo Suwo Yuwo untuk dibuatkan sebuah sumur yang dalam. Karena cinta, Kebo Suwo Yuwo tanpa curiga bersedia menyanggupi permintaannya. Mulailah ia menggali sebuah sumur sesuai keinginan sang putri. Saking dalamnya itu sumur, suara kokok ayam pun sampai tidak terdengar.

Setelah diketahui sumur yang digali sudah cukup dalam, Putri Jejawi lantas memanggil anak buahnya untuk menimbun sumur tersebut dengan batu-batu besar. Kebo Suwo Yuwo pun akhirnya menyadari apa yang sesungguhnya diinginkan Putri Jejawi.

Bukannya melawan, entah kenapa Kebo Suwo Yuwo malah dengan jujur membocorkan kelemahannya bahwa dirinya tidak bisa dikalahkan hanya dengan ditimbun dengan batu, melainkan dengan ditimbun ranting dan garam.

Dengan segera, Putri Jejawi pun memerintahkan anak buahnya menimbun sumur tersebut dengan ranting dan garam. Kebo Suwo Yuwo pun akhirnya mati di dalam sumur yang ia buat sendiri.

Kebo Iwa dan Asal Usul Danau Batur

asal usul danau batur
Danau Batur Bali /tempatberliburwisata.blogspot.com

Alkisah, di sebuah desa di Bali, hiduplah sepasang suami istri dengan rukun nan kaya raya. Namun kebahagiaan mereka belum sempurna sebab setelah sekian lama menikah, mereka belum juga diberi keturunan. Setelah tak putus-putusnya mereka berdoa dan meminta dikaruniai anak, doa mereka pun akhirnya dikabulkan Sang Hyang Widi Wasa. Sang istri akhirnya melahirkan anak laki-laki setelah sembilan bulan mengandung.

Rupanya, bayi lelaki itu tumbuh begitu cepat. Nafsu makannya sangat banyak. Meskipun masih bayi, porsi makannya sudah setara dengan sepuluh orang dewasa. Seiring bergulirnya waktu, si bayi pun tumbuh menjadi anak yang luar biasa besar, dan nafsu makannya pun kian meningkat. Karena itu, ia kemudian sering dipanggil ‘Kebo Iwa’ yang berarti ‘paman kerbau’.

Semakin hari, semakin bertambah besar pula tubuh Kebo Iwa, juga nafsu makannya. Dalam sehari, kebutuhan makannya setara dengan kebutuhan makan seratus orang dewasa. Orang tuanya pun akhirnya benar-benar kewalahan memenuhi kebutuhan makanan Kebo Iwa.

Bertambah hari bertambah besar tubuh Kebo Iwa. Bertambah kuat pula nafsu makannya. Sehari kebutuhan makannya sama dengan kebutuhan makan seratus orang dewasa. Kedua orangtuanya benar-benar kewalahan memenuhi hasrat makan Kebo Iwa. Karena terpaksa, mereka pun meminta bantuan warga desa untuk memenuhi kebutuhan makan Kebo Iwa. Sejak itulah, kebutuhan Kebo Iwa ditanggung bersama oleh masyarakat desa.

Kebo Iwa dikenal memiliki sifat pemarah. Kemarahannya mudah meledak, apalagi jika ia tidak mendapatkan makanan yang cukup. Jika telah marah, ia akan merusak apa saja yang ditemuinya. Biasanya ia akan merusak rumah-rumah penduduk, bahkan tanpa rasa takut ia juga akan merusak pura tempat ibadah jika kemarahannya sudah benar-benar memuncak.

Di samping sifat pemarahnya, sebenarnya Kebo Iwa akan bersedia membantu penduduk desa yang membutuhkan bantuan tenaganya. Ia akan bersedia menggalikan sumur, memindah rumah, membendung sungai, meratakan tanah berbukit-bukit, atau mengangkut batu-batu besar. Ia akan segera melaksanakan pekerjaan yang sangat berat sekalipun asal ia diberikan imbalan berupa makanan yang cukup untuk membuatnya kenyang.

Selama penduduk desa yang kebanyakan adalah petani itu memperoleh hasil panen yang cukup, mereka masih mampu bergotong-royong memberikan makanan yang cukup untuk Kebo Iwa. Namun ketika terjadi musim paceklik, penduduk akan kesulitan dan kewalahan menyediakan makanan untuk Kebo Iwa.

Penduduk desa menjadi sangat cemas. Mereka bukan hanya cemas memikirkan kebutuhan makan untuk keluarga mereka masing-masing, mereka juga cemas memikirkan Kebo Iwa. Apa yang dapat mereka berikan kepada Kebo Iwa jika mereka tidak memiliki bahan makanan?

Kebo Iwa tak akan mau mengerti keadaan yang sedang mereka alami. Bagi Kebo Iwa, ia akan diam jika mendapatkan makanan yang cukup. Namun jika tidak, ia akann mengamuk sejadi-jadinya.

Penduduk desa lantas berkumpul untuk mendiskusikan masalah yang tengah mereka hadapi berkenaan dengan Kebo Iwa itu. Mereka merencanakan sebuah siasat untuk mengatasi masalah Kebo Iwa. Jika perlu, mereka akan melenyapkan Kebo Iwa yang sangat meresahkan itu. Setelah berembuk, penduduk desa pun akhirnya menemukan cara untuk mewujudkan tujuan mereka.

Seluruh warga kemudian bergotong royong untuk mengumpulkan makanan. Sedikit demi sedikit akhirnya makanan terkumpul sampai jumlahnya cukup untuk menjadi santapan Kebo Iwa. Sebagian warga juga bergotong royong mengumpulkan batu-batu kapur. Setelah makanan dan batu kapur terkumpul, kepala desa bersama beberapa warga lantas menemui Kebo Iwa.

Saat itu, Kebo Iwa sedang bersantai selepas menyantap beberapa ekor hewan ternak milik warga desa. Ia sedikit terperanjat melihat beberapa warga menghampirinya. Katanya, “Mau apa kalian kemari? Apa kalian punya makanan yang cukup untuk membuatku kenyang? Aku masih lapar!”.

“Kami bahkan memiliki makanan yang lebih dari cukup untuk membuatmu kenyang”, jawab si kepala desa. “Kami akan memberikan semuanya kepadamu asalkan kau bersedia membantu kami.”

Begitu mendengar ada makanan yang cukup untuk membuat perutnya kenyang, Kebo Iwa langsung bangkit dari rebahannya dan bilang, “Tentu saja aku mau membantu kalian jika kalian memberiku makanan. Apa yang bisa kubantu?”

Kepala desa lalu menjelaskan soal banyaknya rumah warga yang telah rusak akibat amukan Kebo Iwa. “Itu karena kalian tidak memberiku makanan. Jika kalian memberiku makanan, maka aku pun tidak akan merusak rumah kalian,” tukas Kebo Iwa tanpa merasa bersalah.

“Seperti yang sudah kau ketahui, semua itu akibat kegagalan panen yang kami alami. Kegagalan panen itu disebabkan tidak tersedianya air karena musim kemarau yang berkepanjangan ini,” kata Kepala Desa.

“Padahal, sesungguhnya di dalam tanah ini terdapat banyak air, Sangat melimpah. Maka dari itu, kami meminta bantuanmu untuk membuatkan sumur yang besar! Air dari sumur itu nanti akan kami gunakan untuk mengairi sawah-sawah kami. Jika sawah-sawah kami cukup mendapatkan air, maka kegagalan panen tidak akan terjadi. Kami juga tidak akan kesulitan memberimu makanan. Berapa pun jumlah makanan yang kau butuhkan, kami pasti sanggup memenuhinya,” lanjutnya.

“Baiklah,” kata Kebo Iwa dengan gembira setelah mendengar rencana Kepala Desa. “Itu rencana yang bagus. Tentu saja aku bersedia membantu kalian.”

Kebo Iwa dengan segera memulai pekerjaannya. Ia membangun beberapa rumah seperti yang dikehendaki Kepala Desa. Ia juga menggali tanah di tempat yang sudah ditentukan oleh Kepala Desa. Sementara Kebo Iwa sedang menggali, warga desa lantas mengumpulkan batu-batu kapur di dekat tempat Kebo Iwa menggali tanah.

Melihat warga desa mengumpulkan batu kapur, Kebo Iwa merasa heran. “Buat apa kalian mengumpulkan batu kapur sebanyak itu?” tanyanya.

“Setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, kami akan membangukan rumah untukmu. Rumah yang besar dan indah,” kata Kepala Desa. “Rumah untukmu yang sangat besar itu tentu membutuhkan batu kapu yang banyak, bukan?”

Sangat gembira Kebo Iwa mendengar jawaban Kepala Desa. Ia makin bersemangat menuntaskan pekerjaannya. Seiring berjalannya waktu, semakin besar pula sumur yang dibuat Kebo Iwa. Air mulai memancar keluar dan terbentuklah kolam yang begitu besar.

Namun, Kepala Desa terus saja meminta Kebo Iwa menggali tanah. Kebo Iwa menurut saja karena dijanjikan dengan makanan yang sangat banyak dan rumah yang juga sangat besar. Lubang di tanah pun semakin membesar dan dalam. Air yang keluar juga semakin banyak.

Kebo Iwa terus bekerja sampai ia kelelahan dan juga kelaparan. Ia lantas meminta waktu untuk beristirahat. “Mana makanan untukku?!” terikan Kebo Iwa.

Dengan segera warga desa berdatangan membawakan makanan untuk Kebo Iwa. Kebo Iwa sangat senang mendapati makanan yang sangat melimpah itu. Ia lantas memakannya dengan rakus, sampai akhirnya perutnya pun kekenyangan. Karena kekenyangan, Kebo Iwa mengantuk dan tak lama kemudian, ia tertidur dengan sangat pulas. Suara dengkurannya pun juga sangat keras.

Begitu mendapati Kebo Iwa telah tertidur, Kepala Desa lalu memerintahkan seluruh warga untuk melemparkan batu-batu kapur yang sudah dikumpulkan tadi ke dalam lubang galian yang telah dibuat Kebo Iwa. Ramai-ramai warga lantas melempari batu-batu kapur ke dalam, namun Kebo Iwa masih saja terlelap di dalam dan sama sekali tidak menyadarinya.

Air terus memancar dari dalam tanah dan makin banyak. Bersamaan batu-batu kapur juga semakin banyak dimasukkan warga ke dalam lubang galian. Akibatnya, hidung Kebo Iwa jadi tersumbat, ia tersedak lantas terbangun.

Namun sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan diri. Air semakin deras keluar dan batu-batu kapur kian memenuhi lubang galian besar yang dibuatnya. Meskipun Kebo Iwa memiliki tenaga yang sangat kuat, ia tetap tak berdaya untuk menyelamatkan diri. Akhirnya, ia mati di dalam lubang galian yang ia buat sendiri.

Di samping kematian Kebo Iwa, air masih terus memancar tak henti-henti. Air meluap dan membanjiri desa tempat tinggal Kebo Iwa, bahkan sampai ke desa-desa sekitar.

Sekian desa tenggelam dalam air tersebut dan terbentuklah sebuah danau yang sangat luas. Danau Batur, begitulah orang-orang kini menyebutnya. Timbunan tanah yang ada di sekitar danau tersebut kemudian berubah menjadi sebuah gunung yang kini dinamai Gunung Batur.


Referensi


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *