kesenian bantengan

Kesenian Bantengan, Menelusuri Kesenian Daerah Mojokerto

Merinci keunikan dan ciri khas kesenian Bantengan dari Mojokerto, mulai dari asal usulnya, sejarah, makna, hingga karakteristiknya yang menarik.

Salah satu sajian tradisional masyarakat Mojokerto yang terkenal luas adalah kesenian Bantengan. Kesenian ini berisi tarian dan pertunjukan menarik yang memadukan unsur sendratari, olah kanuragan, musik, dan syair atau mantra yang begitu kental dengan aura mistis.

Tarian ini umumnya dibawakan di berbagai upacara rakyat, seperti: bersih desa, pernikahan, dan sebagainya. Sebagai satu bentuk ritual, masyarakat percaya bahwa pertunjukan kesenian ini dapat membawa keberkahan berupa panen yang melimpah dan kesejahteraan desa.

Untuk lebih lengkapnya, berikut ulasan lengkap keunikan dan ciri khas kesenian Bantengan yang menarik.

Sejarah Kesenian Bantengan

kesenian bantengan
kabmojokertomuseumjatim.wordpress.com

Menariknya, hingga kini sejarah pertunjukan ini masih digali lebih dalam. Kesenian yang satu ini memiliki sejarah yang cukup panjang, dimulai dari zaman kerajaan yang berkuasa di Jawa Timur. Berikut adalah beberapa poin menarik seputar sejarah kesenian Bantengan.

1. Ada di Relief Candi Jago

Ada banyak versi tentang sejarah kesenian yang satu ini. Salah satunya adalah ditemukannya relief di Candi Jago tentang banteng yang menyerang macan. Dengan begitu, dipercaya bahwa asal-usul kesenian sudah ada sejak Kerajaan Singosari.

2. Sejak Zaman Majapahit

Perkembangan awal kesenian ini diketahui sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dengan adanya tarian yang menggunakan topeng banteng saat itu. Buktinya adalah relief candi yang menggambarkan tarian ini.

3. Berkembang di Padepokan

Sementara ada sumber yang berkembang secara lisan di Pacet, Mojokerto. Sumber ini menyatakan bahwa dulunya kesenian ini diciptakan seorang pendekar Kota Batu, Malang, sehingga ada kelompok kesenian khusus bernama Siliwangi.

4. Tren di Orde Lama

Saat orde lama memimpin Indonesia di tahun 1960-an, kesenian ini banyak dibawakan sebagai fungsi hiburan. Beberapa tempat yang sering mengadakan acara ini di antaranya adalah lereng Gunung Semeru, Arjuno, Bromo, Raung, Jombang, dan Argopuro.


Baca juga: Reog Ponorogo, Mengupas Keunikan, Makna, dan Sejarah di Baliknya


Makna Filosofi Kesenian Bantengan

kesenian mojokerto
blogpelancong.wordpress.com

1. Nilai Religius

Dalam setiap pementasannya, kesenian Bantengan menggunakan mantra dan juga solawat. Hal ini memadukan antara unsur ghaib dan juga religius di dalamnya. Baik mantra dan solawat, dibacakan selama kesenian berlangsung.

2. Nilai Kepercayaan

Kesenian ini semakin menarik manakala penari yang ikut kegiatan akan kesurupan. Para pemain percaya bahwa unsur ghaib itu selalu ada di kehidupan kita. Untuk itu, saling menghormati adalah salah satu kunci kehidupan.

3. Nilai Sosial

Banyak orang yang terlibat dalam kesenian Bantengan saat diselenggarakan. Hal ini mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Kita juga perlu bersiap diri bahwa dalam hidup bersosial akan selalu ada kebaikan dan keburukan.

Fungsi Kesenian Bantengan

pawang tarian
jawapos.com

1. Ritual

Tarian ini muncul di berbagai upacara di daerah seperti Malang, Jawa Timur. Beberapa upacara di antaranya adalah pernikahan dan bersih desa. Mereka percaya bahwa kegiatan kesenian ini akan membawakan berkah dan hasil panen yang banyak saat bersih desa.

2. Hiburan

Sebagian orang yang tak menganggap bahwa tarian ini sebagai hal mistik akan menganggapnya sebagai hiburan. Mereka senang bahwa hiburan semacam ini adalah bentuk pelestarian budaya yang hadir di tengah globalisasi. Penari juga senang bahwa mereka bisa membawakannya untuk masyarakat.

3. Estetis

Tarian Bantengan seringkali mengisi acara seperti memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia atau memperingati hari Jadi kabupaten. Hal ini membuktikan bahwa tarian ini memiliki fungsi yang estetis dan patut untuk dipertahankan oleh masyarakat.

Pola Lantai

Dalam kesenian ini, ada dua pola lantai yang biasa digunakan menyesuaikan tempat dan medan.

1. Melingkar

Pola lantai melingkar dilakukan di acara-acara yang memiliki tempat yang terbatas, seperti upacara pernikahan atau khitanan. Banteng-banteng akan melingkar, sehingga mereka akan saling berhadapan satu sama lain. Mereka juga lebih banyak menari daripada beradu satu sama lain.

2. Lurus Berpencar

Jika kesenian diadakan di tempat yang luas seperti lapangan, maka pola lantainya adalah lurus berpencar. Para penari juga leluasa untuk melakukan berbagai gerakan beradu satu sama lain. Saat berpencar, mereka bisa melakukan baris serong atau berputar.


Baca juga: Tari Jaranan, Sebuah Kesenian Ekstrim dari Kediri


Gerakan Kesenian Bantengan

kesenian bantengan
blogkulo.com

1. Gedruk

Gedruk adalah gerakan awal saat pementasan dimulai. Gerakan ini menyerupai banteng yang sedang siap beradu. Topeng banteng dibentur-benturkan ke tanah. Saat gedruk, musik pengiring akan dimainkan.

Gedruk hanya dilakukan oleh pemain terdepan yang memegang kepala bantengan. Sementara pemain yang berada di belakangnya hanya diam atau mengikuti gerak banteng di tempatnya.

2. Kipra

Kipra adalah gerakan saat banteng mengitari arena permainan. Gerakan ini diikuti oleh seluruh banteng yang ikut dalam sesi tarian. Kipra dilakukan setelah penari melakukan gerak gedruk dalam beberapa menit.

Dalam hal ini, tak hanya penari yang memegang banteng saja yang mengitari arena. Gerak kipra diikuti oleh pemain yang bersembunyi di belakangnya. Mereka hanya mengikuti langkah pemain terdepan.

3. Solah Banteng

Solah adalah gerakan saat pemain mengikuti gerakan binatang. Dalam hal ini, penari akan mengikuti tingkah polah seekor banteng. Namun dalam beberapa kelompok tari, gerakan solah juga menirukan monyet dan macan.

Gerakan solah banteng ini dilakukan setelah penari menyelesaikan kipra beberapa kali. Setelah kembali ke posisinya masing-masing, penari akan memulai solah ditandai dengan menghentak-hentakkan kakinya.

4. Gerakan Inti

Inti dari kesenian ini adalah saat banteng-banteng yang ada di arena beradu. Dalam hal ini, banteng dengan ukuran kecil akan menggoda banteng berkepala putih yang ukurannya lebih besar. Setelah itu, mereka beradu.

Beradunya mereka ditandai dengan adu kepala. Penari dengan pemegang kepala banteng memainkan peranan penting dalam hal ini. Biasanya banteng putih akan kalah dan mengerahkan peraduannya kepada dua banteng pengawal.

5. Menyerang

Dua banteng pengawal akan menyerang banteng utama yang tadi menggoda dan menyerang si putih. Beradunya mereka diselipkan tarian yang mengadopsi gerakan pencak silat. Gerakan ini berlangsung sekitar 30-50 menit.


Baca juga: Tari Glipang, Mengulas Keunikan Tarian Daerah Probolinggo


Properti Kesenian Bantengan

kesenian jawa timur
goodnewsfromindonesia.id

1. Alat Musik

Tak lengkap rasanya jika pertunjukan yang satu ini tak menggunakan alat musik. Alat musiknya tentu saja gamelan yang menjadi ciri khas tarian daerah Jawa. Beberapa alat musik tersebut di antaranya adalah kendang, demung, gong, dan kethuk kempyang.

2. Kostum Penari

Penari tentu saja menggunakan kostum meski mereka berlindung di balik jubah yang biasanya berwarna hitam. Mereka menggunakan baju pencak silat yang umumnya berwarna hitam, merah, atau putih. Kadang, pakaian menyesuaikan dengan asal padepokan grup kesenian.

Berbeda dengan penari yang berperan sebagai singa, burung, atau macan. Mereka yang berperan di luar banteng akan memakai kostum badut sesuai dengan perannya. Sementara pawang menggunakan baju pesak dengan warna putih.

3. Barongan

Barongan adalah nama lain dari kepala banteng. Dulu, pemain menggunakan tengkorak kepala banteng asli. Namun seiring dengan semakin sedikitnya banteng dan hewan yang dilindungi, maka hal tersebut dilarang.

Kini grup tari menggunakan kepala banteng dari ukiran kayu. Ukuran barongan akan menyesuaikan tokoh. Untuk banteng putih, ukuran barongan bisa hingga 1 meter. Sementara pemeran banteng utama hanya menggunakan ukuran 40×30 cm. Di bagian mulut barongan terdapat sampur pendek dengan warna merah.

4. Cambuk

Cambuk merupakan properti lain yang ada dalam kesenian ini. Cambuk akan dipegang oleh pawang. Fungsi cambuk adalah untuk memecut tanah kala para penari kesurupan, sehingga bunyi cambuk akan mengendalikan mereka.

5. Sesajen

Sesajen merupakan properti wajib dalam tarian ini. Isi dari sesajen di antaranya adalah pisang, nasi, urap-urap, dan kelapa. Masing-masing melambangkan keluhuran, kesempurnaan, sosial, dan makna cara pikir yang baik.

***

Masyarakat Mojokerto sangat bangga dengan kesenian Bantengan. Sebagian menganggapnya sebagai ritual, sebagian lagi adalah hanya sebagai hiburan. Namun, dapat disepakati bahwa pertunjukan ini patut untuk dilestarikan sebagai warisan budaya yang menarik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *