lagu daerah jawa tengah

Mengulas 20 Lagu Daerah Jawa Tengah Beserta Maknanya

Mengulas 20 lagu daerah Jawa Tengah paling populer. Membahas seputar latar belakang, lirik, dan makna lagu yang mendalam.

Sebagai orang Jawa, siapa di sini yang tidak pernah diperdengarkan lagu Gundul Gundul Pacul, atau bermain permainan tradisional Jamuran, atau menyanyikan tembang Gambang Suling di pelajaran Seni Suara Daerah sewaktu SD?

Seperti sedang bernostalgia, tembang-tembang di atas merupakan lagu-lagu daerah Jawa Tengah yang menjadi bagian dari kehidupan masa kecil orang-orang Jawa.

Namun tentunya, kesenian musik daerah Jawa Tengah masih terlalu luas kalau hanya diwakili dengan tiga macam lagu. Nah, di sini setidaknya kita akan mengulas beberapa lagu daerah Jawa Tengah paling populer, serta membedah makna dari sebagian lirik-lirik lagu tersebut.

Berikut 20 lagu daerah Jawa Tengah paling populer dan familiar. Silakan disimak!


Baca juga: 14 Macam Alat Musik Gamelan Jawa Beserta Gambar dan Penjelasannya


1. Suwe Ora Jamu

suwe ora jamu

Suwe Ora Jamu merupakan lagu daerah Jawa yang diciptakan oleh seorang komposer karawitan, R.C. Hardjosubroto. Lagu ini begitu populer khususnya di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta, apalagi setelah dinyanyikan oleh Waldjinah.

Berikut lirik asli lagu tersebut yang menggunakan bahasa Jawa Ngoko.

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gelo

Terjemahan:

Lama tak minum jamu
Jamu daun ketela
lama tidak bertemu
Sekalinya bertemu membuat kecewa

Saking terkenalnya lagu ini, Suwe Ora Jamu dijadikan nama sebuah kafe dan bar di daerah Jalan Petogogan, Jakarta Selatan.

Selain itu, seorang koreografer terkenal dari Papua, Jecko Siompo, pernah me-remix lagu Suwe Ora Jamu dengan Ampar-Ampar Pisang yang dibawakan dalam nada rap dan jazz dalam sebuah pertunjukan di Goethe-Institut, Jakarta Pusat tahun 2011.

2. Gundul-Gundul Pacul

Siapa yang tak kenal dengan lagu Gundul-Gundul Pacul? Lagu anak-anak ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Terdapat dua sumber mengenai siapa yang sebenarnya menciptakan lagu ini, antara Sunan Kalijaga di abad 15 atau R.C. Haardjosubroto.

Gundul-gundul pacul-cul gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan

Meskipun tergolong lagu anak-anak, rupanya lagu ini memiliki makna yang cukup filosofis. Secara filosofis, Gundul-Gundul Pacul membicarakan soal kehormatan, kepemimpinan, dan tanggung jawab.

Gundul adalah kepala plontos tanpa rambut. Kepala melambangkan kehormatan, sementara rambut merupakan lambang mahkota dan keindahan kepala. Dalam lagu ini, kata gundul memiliki makna sebuah kehormatan tanpa mahkota.

Pacul atau cangkul adalah sebuah alat pertanian yang melambangkan rakyat kecil yang kebanyakan adalah petani.

Orang Jawa mengatakan bahwa pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas), dengan pengertian bahwa kehormatan seseorang sangat bergantung pada bagaimana orang tersebut menggunakan empat indera: mata, hidung, telinga, dan mulutnya.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. Hidung digunakan untuk mencium wanginya kebaikan.
  3. Telinga digunakan untuk mendengarkan nasehat.
  4. Mulut digunakan untuk mengatakan keadilan.

Jika empat hal tersebut lepas, maka lepas juga kehormatan orang tersebut.

3. Ilir-Ilir

Tembang Lir-Ilir diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada awal abad 16, pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan masuk Islam-nya pada adipati Kadipaten di Majapahit, terutama di daerah pesisir Pulau Jawa.

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono lumatono
Konggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung padang kalangane
Yo surako, surak hiyo

Tembang ini dikenal sebagai tembang dolanan atau lagu daerah Jawa. Liriknya menggunakan kata-kata perumpaan dan memilki makna yang dalam dan multitafsir. Hal ini mencerminkan dalamnya ilmu Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan agama Islam.

Dengan tembang Lir-Ilir, Sunan Kalijaga mencoba untuk mengajak masyarakat Jawa untuk memeluk, mengimani, dan mengamalkan agama Islam secara perlahan tanpa membenturkan tradisi yang sudah lama berkembang.

Upaya Sunan Kalijaga ini tentu mengikuti cara Nabu Muhammad SAW dalam mendakawahkan agama Islam, yaitu bil hikmah wal mau’idzatil hasanah.

4. Gambang Suling

ki nartosabdo
Ki Narto Sabdo

Swara Suling, atau lebih banyak dikenal dengan judul Gambang Suling, merupakan lagu daerah Jawa Tengah yang diciptakan oleh Ki Narto Sabdo sebagai ungkapan kekagumannya dengan alat musik seruling yang menghasilkan suara yang indah.

Gambang suling, ngumandhang swarané
thulat-thulit, kepénak uniné
uuuuniné mung
nreyuhaké ba-
reng lan kentrung ke-
tipung suling, sigrak kendhangané

Terjemahan:

Gambang suling berkumandang suaranya
Tulat-tulit, enak bunyinya
Bunyinya begitu mengharukan
Bersama kentrung, ketipung, suling
Mantap bunyi kendangnya

Ki Narto Sabdo yang bernama asli Soenarto sendiri merupakan putra dari seorang pengrajin sarung keris beranam Partinoyo.

Beliau merupakan seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, dan dijadikan sebagai sumber referensi oleh dalang-dalang generasi berikutnya.

5. Dondong Opo Salak

Dondong Opo Salak merupakan lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Krisbiantoro antara tahun 1960 hingga 1970-an. Lagu ini menggunakan bahasa yang lugas, tidak berbelit-belit, dan mudah dipahami secara tekstual, khas lagu anak-anak.

Namun meskipun begitu, lagu ini dapat mengandung makna yang beragam, tergantung pada siapa yang mendengar dan mengartikannya.

dondong opo salak
duku cilik-cilik
ngandhong opo mbecak
mlaku thimik-thimik
Adi ndherek ibu
tindhak menyang pasar
ora pareng rewel
ora pareng nakal
mengko ibu mesti
mundhut oleh-oleh
kacang karo roti
adi diparingi

Terjemahan:

kedondong atau salak
duku kecil-kecil
naik andong atau becak
jalan pelan-pelan
Adi ikut ibu
pergi ke pasar
tidak boleh rewel
tidak boleh nakal
nanti ibu pasti
beli oleh-oleh
kacang dan roti
Adi pun dikasih

6. Cublak-Cublak Suweng

Cublak-Cublak Suweng adalah sebuah lagu yang dinyanyikan dalam sebuah permainan tradisional bernama Cublak-Cublak Suweng.

Permainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak kecil pedesaan atau perkampungan di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

cublak-cublak suweng
suwenge ting gelenter
Mambu ketudhung gudhel
Pak Gempong lera-lere
Sapa ngguyu ndelikake
Sir sir pong dele gosong
Sir sir pong dele gosong

Permainan ini biasa dimainkan oleh 4 sampai 12 anak. Diawali dengan hompimpa atau gambreng untuk menentukan siapa yang berperan menjadi Pak Empo. Pak Empo ini kemudian berbaring telungkup di tengah, sementara anak-anak yang lain duduk melingkarinya.

Kemudian anak-anak yang melingkari Pak Empo tersebut membuka telapak tangan mereka menghadap ke atas dan diletakkan di atas punggung Pak Empo. Lalu, salah satu dari anak tersebut menggenggam sebuah biji atau kerikil yang dipindah-pindahkan dari tangan satu ke tangan lainnya sambil menyanyikan lagu Cublak-Cublak Suweng.

Ketika nyanyian telah sampai pada lirik “…sapa ngguyu ndelikake”, biji atau kerikil tersebut harus segera disembunyikan dalam genggaman oleh anak yang menerimanya.

Pada akhir lagu, semua anak yang duduk menggenggam kedua tangan masing-masing dan berpura-pura menyembunyikan biji atau kerikil tersebut sambil menggerak-gerakkan tangan.

Lalu Pak Empo bangun dan menebak di tangan siapa biji/kerikil tersebut disembunyikan. Jika tebakannya benar, maka anak yang menggenggam biji tersebut harus bergantian menjadi Pak Empo. Jika salah, Pak Empo kembali berbaring seperti semula dan permainan diulang lagi.

7. Jamuran

Tidak jauh berbeda dengan Cublak-Cublak Suweng, Jamuran juga merupakan lagu yang dinyanyikan dalam sebuah permainan bernama Jamuran. Permainan ini dapat dimainkan oleh 4 sampai 12 anak yang biasanya dimainkan di waktu sore atau malam saat bulan purnama.

Permainan Jamuran dapat dimainkan oleh anak laki-laki maupun anak perempuan, umumnya berusia 6 sampai 13 tahun. Permainan ini juga tidak membutuhkan alat apapun, hanya membutuhkan tanah lapang yang luas.

Jamuran, jamuran, yo ge ge thok
Jamur apa, jamur apa, yo ge ge thok
Jamur payung ngrembuyung kaya lembayung
Sira badhe jamur apa?

8. Padhang Wulan

padang wulan

Secara tekstual, lagu ini secara gamblang berisi ajakan untuk meramaikan malam bulan purnama dengan bermain bersama teman-teman. Namun secara filosofis, lagu ini sebenarnya mengajak untuk bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas malam yang begitu indah.

Sebagai ungkapan rasa syukur, sang penulis lagu yang belum diketahui secara pasti ini mengajak untuk tidak tidur terlalu sore, karena untuk menghidupkan malam yang indah itu dengan ibadah sunnah.

Yo ‘pra kanca dolanan ing jaba
padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane sing awe-awe
ngelingake aja padha turu sore

Yo ‘pra kanca dolanan ing jaba
rame-rame kene akeh kancane
Langite pancen sumebyar rina
yo padha dolanan sinambi guyonan

Terjemahan:

Ayo teman-teman bermain di luar
terang bulan terangnya seperti siang
Bulannya melambai-lambai
mengingatkan jangan tidur di sore hari

Ayo teman-teman bermain di luar
rame-rame di sini banyak temannya
Langitnya terang sekali
ayo bermain sambil bercanda

9. Warung Pojok

Akeh wong padha kedanan masakan,
akeh wong padha kelingan pelayan
Ora klalen kesopanan ning sekabeh lelangganan

Yen balik tas jalan-jalan mingguan
mumpung bae tas gajian kaulan
Warung Pojok go ampiran etung-etung ke kenalan
Tobat dhendhenge emi rebuse,
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe

Adhuh kopie, tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pelayane
Pura-pura mata mlirik meng dhuwur
padhahal ati ketarik lan ngawur
Nginum kopi mencok nyembur kesebab
nyasar meng cungur
Tobat dhendhenge emi rebuse
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe
Adhuh kopie tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pela

10. Jangkrik Genggong

“Semarang kaline banjir…”, kata itu sangat populer yang bahkan bisa dibilang menjadi semacam slogan yang akhirnya melekat pada Kota Semarang. Padahal, “Semarang kaline banjir” merupakan bagian dari lirik lagu Jangkrik Genggong yang dipopulerkan oleh Waldjinah.

Kendal kaline wungu
Ajar kenal karo aku
Lelene mati digepuk
Gepuk nganggo walesane

Suwe ora pethuk
Ati sida remuk
Kepethuk mung suwarane

Jangkrik genggong, jangkrik genggong
Luwih becik omong kosong

Semarang kaline banjir
Ja sumelang ra dipikir

Jangkrik upa saba ning tangga
Malumpat ning tengah jogan
Wis watake priya, jare ngaku setya
Tekan ndalan selewengan

Jangkrik genggong, jangkrik genggong
Wani nglirik sepi uwong

Yen ngetan bali ngulon
Tiwas edan rak kelakon

Yen ngrujak
Ngrujaka nanas
Ojo ditambahi kuweni

Kene tiwas nggagas
Awak adhem panas
Jebul ana sing nduweni

Jangkrik genggong, jangkrik genggong
Sampun cekap mangsa borong

11. Sekolah

Esuk-esuk srengengene lagi metu, sibu
Nyuwun pangestu kang putra badhe sinau, sibu

Nyangking etas ing jerone isi sabak, bapak
Gerip lan sada wis jumepak ana kothak bapak

Awan-awan srengengene ana tengah, si ‘mbah
Bungah-bungah kang wayah mulih sekolah, si ‘mbah

Sore-sore lampune dhimunculake, budhe
Wis wayahe bocah-bocah pada sinau budhe

12. Turi-Turi Putih

lagu daerah jawa tengah

Turi-Turi Putih merupakan lagu peninggalan Sunan Giri yang menceritakan tentang kearifan, kesadaran akan kehidupan dan kematian.

Syair tembang ini begitu indah dan bermakna, pesannya lebih spesifik ditujukan kepada murid sebagai penuntut ilmu dan guru sebagai pengajar.

Turi turi putih ditandur ning pinggir sumur
Turi turi putih ditandur ning pinggir sumur
Jeleret tiba nyemplung ke kembang kembange apa
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa
Kembang kembang m’lathi kembang m’lathi dironce-ronce
Kembang kembang m’lathi kembang m’lathi dironce-ronce
Sing kene setengah mati sing kana ‘ra piye piye
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa

Turi-turi melambangkan pitutur atau nasehat. Sedangkan putih mewakili kain kafan dan melambangkan kematian. Dengan begitu, Turi Turi Putih adalah sebuah nasehat dari seorang guru kepada murid tentang makna akhir kehidupan atau kematian.

Lagu ini memberikan pesan kepada murid untuk selalu mengikuti apa yang disampaikan guru-guru berupa nasehat supaya tidak tersesat.

Sementara guru adalah semacam figur yang perilaku dan ucapannya selalu ditiru dan diteladani, maka seorang guru harusnya lebih menjaga diri dalam perilaku dan ucapannya.

13. Dak Petik Kembang Melati

Dak petik-petik kembang melati.
Dak sebar-sebar ing tengah ratri.
Kuwi apa kuwi, ja padha korupsi.
Mengko yen korupsi, negarane rugi.
Piye mas kuwi… Aja ngono, ngona-ngona ngono…

14. Sluku-Sluku Bathok

lagu jawa tengah
Sunan Kalijaga

Meskipun terkesan seperti lagu anak-anak yang menggunakan bahasa yang sederhana, rupanya Sluku-Sluku Bathok merupakan salah satu lagu gubahan Sunan Kalijaga dan memiliki makna yang sangat filosofis.

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Leh olehe payung mutho
Mak jentit lho-lho lobah
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip goleka duwit

Konon, Sunan Kalijaga memasukkan unsur-unsur nilai agama dalam bentuk lagu anak-anak yang sederhana agar lebih mudah dihafal dan bertahan lama.

Judul Sluku-Sluku Bathok pun juga dikatakan merupakan serapan dari bahasa Arab, Ghuslu Ghuslu Bathnaka, yang artinya “Mandikan (Bersihkan) Batinmu”.

15. Sinom

Amenangi jaman edan
ewuh aja ing pambudi
melu edan ora tahan
jen tan melu anglakoni
boya kaduman melik kaliren
wekasanipun dilalah karsa Allah
begjane kang lali
luwih begja kang engling lan waspada

16. Gek Kepriye

Duh kaya ngene rasane
Anake wong ora duwe
Ngalor ngidul tansah diece
Karo kanca kancane

Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe
Pye pye pye pye ya ben rasakna
Pye pye pye pye rasakna dewe

Besuk kapan aku bisa
Urip kang luwih mulya
Melu nyunjung drajating bangsa
Indonesia kang mulya

Pye pye pye pye mbuh ra weruh
Pye pye pye pye mbuh ra ngerti
Pye pye pye pye mbuh ra weruh
Pye pye pye pye mbuh ra ngerti

17. Pitik Tukung

Aku duwe pitik pitik tukung
Saben dina tak pakani jagung
Petok gok petok petok ngendok pitu
Tak ngremake netes telu
Kabeh trondol trondol tanpa wulu
Mondol mondol dol gawe guyu

18. Andhe-Andhe Lumut

Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine, ngger, sing ayu rupane

Klenthing Abang iku kang dadi asmane

Duh, Ibu, kula dereng purun
Duh, Ibu kula mboten mudhun
Nadyan ayu sisane si Yuyu Kang-kang

Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine, ngger, sing ayu rupane

Klenting Ijo iku kang dadi asmane

Duh, Ibu, kula dereng purun
Duh, Ibu kula mboten mudhun
Nadyan ayu sisane si Yuyu Kang-kang

Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine, ngger, sing ayu rupane
Klenting Biru iku kang dadi asmane

Duh, Ibu, kula dereng purun
Duh, Ibu kula mboten mudhun
Nadyan ayu sisane si Yuyu Kang-kang

Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana kere kang unggah-unggahi
Kerene, ngger, kang olo rupane

Klenthing Kuning iku kang dadi asmane

Duh, Ibu, kula sampun purun
Duh, Ibu kula purun mudhun

Nadyan ala putri niki pilihan kulo

19. Te Kate Dipanah

Te kate dipanah
Dipanah ngisor gelagah
Ana manuk konde-onde
Mbok sirbombok mbok sirkate
Mbok sirbombok mbok sirkate

20. Gendhing Ketawang Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi…
Paring boga lan sandhang kang murakabi
Peparing rejeki manungsa kang yekti
Ibu Pertiwi…
Mrih sutresna mring sesami
Ibu Pertiwi…
Kang maelu urip yekti
Karya sutresna ibu pertiwi.

***

Referensi

  • wikipedia
  • budaya-indonesia.org
  • lagudaerah.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *