pengertian bisnis internasional

Pengertian Bisnis Internasional, Strategi, Contoh, Materi Lengkap!

Menyajikan materi lengkap mengenai pengertian bisnis internasional, tipe-tipe, cara-cara memasuki pasar global, dan hambatan-hambatannya.

Pasar luar negeri selalu menawarkan jangkauan yang jauh lebih luas ketimbang pasar dalam negeri/domestik. Oleh karenanya, banyak perusahaan yang tadinya sudah mapan di skala domestik mulai berekspansi ke pasar internasional.

Bagi perusahaan, menerapkan bisnis internasional sangatlah penting dilakukan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, mendapatkan keuntungan yang lebih besar, sekaligus memperpanjang umur bisnis yang dijalankan.

Mereka melakukannya dengan merintis secara internal atau bekerjasama dengan perusahaan lain di pasar target. Ada banyak cara dan tahapan yang harus ditempuh untuk bisa menjalankan bisnis internasional.

Untuk lebih lengkapnya, berikut materi lengkap mengenai pengertian bisnis internasional, jenis-jenisnya, bagaimana menerapkannya, dan hambatan-hambatannya.

Pengertian Bisnis Internasional

Pengertian bisnis internasional sendiri sangatlah luas. Bisnis internasional adalah aktivitas bisnis yang melibatkan antara dua negara atau lebih, baik milik pemerintah maupun swasta.

Lebih jauh lagi, pengertian bisnis internasional juga telah banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya:

1. John D. Daniels, 2013

Bisnis internasional adalah sebuah kesatuan yang terdiri dari segala bentuk transaksi komersial yang dilakukan oleh dua negara atau lebih.

2. Rugman & Hodgetts, 1995

Prof. Alan M. Rugman dan Richard M. Hodgetts, menurutnya,

Bisnis internasional adalah segala bentuk transaksi yang terjadi lintas batas negara untuk memenuhi kebutuhan individu maupun organisasi.

3. Griffin & Pustay (1996)

Dari Ricky W. Griffin dan Michael W. Pustay menjelaskan,

Bisnis internasional adalah setiap transaksi bisnis antar pihak yang berasal dari lebih dari satu negara yang merupakan bagian dari bisnis internasional.

4. Ball & Wendell (2004)

Sekarang menurut Donald A. Ball dan Wendell H. McCulloch,

Bisnis internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini bukan hanya mencakup perdagangan internasional dan pemanukfaturan di luar negeri, tetapi juga industri jasa yang berkembang di bidang-bidang, seperti: transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar, dan komunikasi massa.


Baca juga: Pengertian SWOT, Sejarah, Fungsi, dan Cara Penerapannya


Istilah-Istilah Bisnis yang Serupa

Masih dalam cakupan pengertian bisnis internasional, ada beberapa jenis bisnis yang seringkali dihubungkan dan dipersepsikan sama dengan bisnis internasional, namun sebenarnya ada perbedaan yang cukup mendasar di antara keduanya.

1. Bisnis Domestik

Bisnis domestik adalah aktivitas yang hanya mencakup lingkup dalam negeri saja. Ini jelas bertolakbelakang dengan  pengertian bisnis internasional.

Kebanyakan bisnis domestik yang tetap bertahan pada aktivitas bisnis dalam negeri saja biasanya karena menghindari tantangan untuk masuk ke pasar internasional dengan berbagai resikonya, seperti: adanya batas perdagangan dan tarif bea cukai, perbedaan undang-undang, perbedaan bahasa dan budaya, serta faktor-faktor lain.

2. Bisnis Multinasional

Perusahaan multinasional atau biasa disingkat PMN adalah perusahaan yang beroperasi di banyal negara, dan biasanya perusahaan ini sudah berada dalam skala raksasa.

Perusahaan seperti ini memiliki kantor atau pabrik cabang di banyak negara, sementara mereka menjadikan sebuah kantor sebagai kantor pusat di mana mereka meng-koordinasi manajemen global.

3. Bisnis Global

Bisnis global adalah aktivitas bisnis yang melampaui batas-batas negara serta terkoneksi hingga pada level kultural, politik, dan ekonomi.

Perusahaan bisnis global sendiri merupakan unit bisnis yang telah memiliki kantor pusat di banyak negara dengan sistem pengambilan keputusan desentralisasi.

Biasanya, perusahaan global memiliki ciri-ciri: distribusi yang sudah ekspor, memiliki unit produksi di luar negara asal, dan melakukan aliansi dengan perusahaan asing.

***

Meskipun bisnis internasional seringkali dianggap sebagai lanjutan dari bisnis domestik, namun bisnis internasional adalah sesuatu yang berbeda, terutama dalam segi lingkungan bisnis dan aktivitas operasional.

Perbedaan lingkungan bisnis bisa berupa perbedaan budaya, kebiasaan sosial, hukum, peraturan pemerintah, stabilitas politik, di mana hal ini membuat bisnis internasional memiliki cakupan yang lebih kompleks.

Maka dari itu, bisnis internasional umumnya memiliki lebih banyak risiko ketimbang bisnis domestik.

Selain itu, dari segi aktivitas operasional, bisnis internasional cenderung lebih sulit dilakukan dan membutuhkan pendanaan yang lebih besar untuk mengelola kegiatan tersebut karena terdapat di beberapa negara lain.


Baca juga: Pengertian Bisnis Waralaba (Franchise) dan Contohnya di Indonesia


Tipe-Tipe Bisnis Internasional

Umumnya, ada 4 jenis tipe bisnis internasional yang biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, di antaranya:

1. Foreign Trade

Jenis inilah yang seringkali dilakukan oleh sebagian besar negara. Jenis foreign trade ini cenderung seperti aktivitas ekspor-impor barang.

Dalam kegiatan ekspor-impor, objek barang yang diperjualbelikan adalah dalam bentuk komoditas atau visible physical goods, yaitu barang yang wujudnya kelihatan.

2. Trade in Service

Berbeda dengan foreign trade yang objek jualannya adalah barang berwujud, trade in service adalah bisnis internasional yang objek barangnya adalah intangible goods atau barang tidak berwujud.

Contohnya berbagai layanan jasa seperti: hotel, asuransi, konsultan, perbankan, biro perjalanan, dan semacamnya.

3. Portfolio Investment

Selain jual-beli barang atau jasa, bisnis internasional juga bisa berbentuk investasi keuangan yang dilakukan di negara lain.

Portfolio investment sendiri adalah investasi dalam bentuk sekelompok aset termasuk transaksi dalam ekuitas, sekuritas seperti saham biasa, atau sekuritas hutang seperti obligasi dan semacamnya.

4. Direct Investment

Berbeda dengan portfolio investment yang menanamkan modalnya dalam bentuk sekuritas, direct investment adalah investasi secara langsung atau penanaman modal asing, di mana investor dalam lingkup perekonomian suatu negara menaruh minat pada bisnis di lingkup perekonomian negara lain.

Investasi lintas negara ini biasanya berupa penanaman modal dalam jangka waktu yang lama dari investor satu negeri ke perusahaan dalam negeri lain. Sehingga, direct investment biasanya melibatkan dua negara sekaligus.

***

Perusahaan yang telah menerapkan bisnis internasional biasanya cenderung lebih bisa bertahan di kondisi sulit, itu karena pendanaan mereka bukan hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri dengan menerapkan direct atau porfolio investment.

Sementara perusahaan yang tidak mampu bersaing di pasar global namun memiliki kinerja yang baik, ada kemungkinan perusahaannya diakuisisi oleh perusahaan internasional yang dinamis dan bisa mengikuti perubahan kondisi.

Manfaat Bisnis Internasional

Perdagangan merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan perekonomian suatu negara, termasuk di dalamnya adalah bisnis internasional. Seiring majunya teknologi, perdagangan internasional juga semakin pesat dilakukan karena semakin mudahnya proses produksi dan transaksi.

Adapun tujuan adanya perdagangan internasional sendiri adalah untuk memenuhi segala kebutuhan dalam negeri, yang mana di dalam negeri itu sendiri kebutuhan tersebut belum bisa terpenuhi karena adanya keterbatasan.

Selain itu, beragam manfaat juga bisa didapat dengan adanya bisnis internasional, baik bagi perusahaan sendiri maupun bagi negara secara luas.

Manfaat bagi Perusahaan

Bagi perusahaan, pengembangan menjadi bisnis internasional biasanya bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan.

Bisnis internasional dapat bermanfaat untuk meluaskan pasar bagi suatu perusahaan. Hal ini membuat produksi barang bisa dilakukan secara lebih efisien, tanpa takut lagi jumlah hasil produksinya melebihi batas.

Selain itu, dengan adanya perdagangan internasional, perusahaan juga dapat menjalankan beberapa mesin produksinya secara maksimal. Dengan begitu, meningkatnya produktivitas tentu mampu meningkatkan pendapatan dan menghasilkan keuntungan lebih banyak.

Manfaat bagi Negara

Selain untuk mengembangkan pasar dan memperpanjang umur perusahaan, bisnis internasional juga dapat berperan untuk membangun perekonomian negara. Bisnis internasional adalah pelaku dalam perdagangan internasional.

Oleh karena itu, bisnis yang terlibat dalam perdagangan internasional menjadi aspek penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Perdagangan internasional bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan gross domestic product atau GDP.

Sementara itu, perdagangan internasional adalah aktivitas yang juga penting bagi pertumbuhan perekonomian negara. Di antaranya:

1. Membuka lapangan kerja

Adanya perdagangan internasional mendorong pembangunan industri-industri baru untuk memenuhi permintaan produk di berbagai negara. Dengan dibukanya industri baru, tentu akan membuka lapangan kerja baru.

Bahkan di beberapa negara, adanya perdagangan internasional dapat mengurangi tingkat pengangguran. Dengan dibukanya lapangan kerja yang semakin luas, maka masyarakat semakin mudah dalam mencari pekerjaan dan produktif.

2. Membentuk hubungan baik antar-negara

Perdagangan internasional juga bermanfaat untuk membentuk relasi baru dengan negara-negara lainnya. Dengan adanya hubungan antar-negara yang baik, kerjasama yang dilakukan tentu berpotensi berkembang ke banyak sektor perdagangan.

Selain itu, kerjasama yang dilakukan juga bisa berpengaruh dalam bidang lainnya, seperti: budaya, politik, pendidikan, teknologi, ataupun militer.

3. Kebutuhan hidup semakin mudah terpenuhi

Manfaat selanjutnya yang bisa dirasakan dengan adanya perdaganan internasional adalah memudahkan suatu negara untuk memenuhi segala kebutuhan hidup.

Setiap negara pasti memiliki sumber dayanya masing-masing. Misalnya, kondisi geografis, iklim, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya. Dengan begitu, komoditi yang dihasilkan pun juga berbeda-beda.

Dengan adanya perdagangan internasional, hal ini memudahkan setiap negara bisa memenuhi segala kebutuhan yang belum bisa diproduksi secara lokal atau di dalam negeri.

4. Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi

Adanya perdagangan internasional yang berperan sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), terutama dari negara maju ke negara berkembang.

Perdagangan internasional memungkinkan bagi suatu negara untuk mengekspor barang-barang yang berbasis kecanggihan teknologi, seperti mesin dan alat-alat modern lainnya, ke negara-negara yang membutuhkan.

Dengan begitu, kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan bisa disebarkan ke negara-negara yang belum memiliki teknologi tersebut.

5. Menstabilkan harga barang

Dengan adanya perdagangan internasional, harga barang yang mahal yang diakibatkan kelangkaan barang tersebut bisa diatasi dengan mengimpornya dari negara lain. Dengan menambah stok barang tersebut ke pasar domestik, tentu bisa mengatasi harga barang yang tinggi karena langka.

Sebaliknya, harga barang yang terlalu murah karena kelebihan stok bisa diatasi dengan mengekspornya ke negara-negara lain yang lebih membutuhkan.

Maka secara tidak langsung, perdagangan internasional bisa mengendalikan harga barang yang terdapat di pasar lokal suatu negara.

6. Meningkatkan kemakmuran suatu negara

Terakhir, perdagangan internasional juga memiliki manfaat untuk meningkatkan pendapatan negara-negara yang terlibat. Hal ini bisa terjadi karena adanya aktivitas jual-beli yang saling menguntungkan.

Bagi produsen barang, perdagangan internasional bisa mendatangkan profit yang tinggi dengan mengerek angka penjualan produk atau jasa ke berbagai negara, meskipun dengan sedikit hambatan tarif atau non-tarif.

Sementara bagi konsumen, mereka mengalami kemakmuran dengan kebutuhannya yang terpenuhi. Kebutuhan suatu barang yang belum tersedia di negaranya, bisa diimpor dari negara lain tanpa kesulitan.

Selain itu, negara secara luas juga mendapatkan keuntungan dari adanya perdagangan internasional. Dengan meningkatkan nilai ekspor, maka sumber devisa negara juga semakin tinggi.

Cara-Cara Memasuki Pasar Global

Dibandingkan pasar domestik, pasar luar negeri tentu menawarkan pasar yang jauh lebih besar. Maka dari itu, salah satu tujuan perusahaan terjun ke bisnis internasional adalah memperluas pasar, mendapat keuntungan lebih besar, dan memperpanjang umur bisnis.

Pada umumnya, ada 6 cara yang bisa dilakukan untuk bisa memasuki ke pasar global. Berikut di antaranya:

1. Ekspor

Ekspor adalah kegiatan menjual barang ke luar negeri. Ekspor sendiri masih terbagi menjadi dua, yaitu direct export dan indirect export.

Direct export yaitu menjual barang atau jasa ke luar negeri dengan produksi sendiri. Sedangkan indirect export yaitu menjual barang atau jasa melalui beberapa tipe induk pangkalan eksportir.

Ada beberapa kelebihan yang bisa didapatkan dari strategi ekspor, salah satunya menghindari biaya pengaturan manufaktur di pasar luar negeri. Namun, strategi ini juga memiliki kerugian, yaitu biaya transportasi dan hambayan perdagangan internasional yang tinggi.

Untuk mengatasinya, perusahaan bisa melakukan aliansi strategis untuk membentuk asosiasi dengan anak perusahaan pemasaran di negara tuan rumah.

2. Turnkey Project

Turnkey priject sebetulnya masih dalam lingkup aktivitas ekspor, namun dengan mekanisme berbeda.

Turnkey project mempunyai mekanisme keahlian manajerial yang menangani kegiatan ekspor di bidang teknologi yang sebagiannya merupakan perlengkapan modal.

Karena berkaitan dengan proyek teknologi, maka perlu melibatkan pihak kontraktor. Kontraktor ini ditugaskan untuk mengerjakan hal-hal seperti: mendesain sebuah pabrik, menyuplai bahan mentah, dan menyediakan teknologi pemrosesan.

Intinya, strategi ini hanya mengekspor kemampuan dan pemahaman prosesnya saja.

Strategi turnkey project memungkinkan bisnis internasional untuk terlibat ke dalam luar negeri, di mana ada kemungkinan larangan yang menyangkut investasi langsung dari asing.

Kelemahannya, strategi ini memungkinkan secara tidak sengaja menciptakan kompetitor di masa yang akan datang. Selain itu, ada kemungkinan juga pengambilalihan pabrik oleh negara tuan rumah.

3. Licensing

Licensing (pemberian lisensi) adalah pengaturan kontrak di mana licensor (pemberi lisensi) menawarkan aset kepada licensee (pemegang lisensi/perusahaan asing) dengan imbalan royalti.

Jadi, ini memungkinkan penerima lisensi memproduksi produk pemilik lisensi untuk jangka waktu tertentu di pasar tertentu, baik secara eksklusif maupun non-eksklusif.

Pemberi lisensi dari negara asal memberikan hak dan sumber daya terbatas untuk pemegang lisensi. Pemberian ini juga mencakup: hak paten, brand, keterampilan manajerial, hingga teknologi.

Dengan begitu, hal ini memungkinkan bagi pemegang lisensi untuk melakukan produksi dan penjualan produk serupa di negara tuan rumah.

Contoh model bisnis seperti ini adalah Starbucks.

4. Franchising

Franchising adalah model bisnis yang berkaitan dengan jual-beli lisensi dari sebuah perusahaan di suatu negara ke perusahaan di negara lain. Penjual lisensi tersebut disebut franchisor, sementara pembelinya disebut franchisee.

Dengan kata lain, franchising merupakan suatu sistem di mana franchisee (pemegang izin waralaba) membayar royalti kepada franchisor (pemberi izin/pemilik merek/perusahaan induk) agar mendapatkan hak untuk menggunakan merek dagangnya, menjual produk dan layanannya, dan menggunakan format dan sistem bisnisnya.

Dibanding licensing, kontrak perjanjian franchising biasanya cenderung lebih lama.

Sistem waralaba juga menawarkan paket hak dan sumber daya yang lebih luas, yang biasanya mencakup: sistem manajerial, peralatan, manual operasi, persetujuan lokasi, pelatihan awal, hingga semua dukungan yang diperlukan bagi pemegang izin waralaba.

Biasanya, model bisnis seperti ini bergerak di bidang kuliner, seperti: Mc Donalds dan KFC.

5. Joint Venturing

Joint venturing adalah pembentukan aliansi strategis gabungan dari beberapa perusahaan dari berbagai negara yang disatukan berdasarkan pembagian biaya dan risiko, serta memperoleh pengetahuan lokal dan mungkin juga pengaruh politik.

Selain itu, ada 5 tujuan umum dalam strategi joint venturing ini, yaitu: meluaskan pasar, berbagi risiko dan imbalan, berbagi teknologi dan pengembangan produk bersama, dan berbagi pemahaman peraturan pemerintah.

Contoh strategi ini: Indofood dengan Nestle.

6. Multinational Corporation

Multinational corporation adalah perusahaan raksasa skala internasional yang berpusat di suatu negara dan memiliki kantor cabang di berbagai negara. Contohnya: Adidas, Apple, ASUS, dan sebagainya.

7. Management Contracting

Mangement contracting adalah model bisnis yang berkaitan dengan aturan sebuah perusahaan yang menyediakan mekanisme manajemen dalam satu atau semua tempat kepada perusahaan lain. Contohnya: Hotel Ritz Carlton dan Four Season.

8. Marketing in Home Country by Host Country

Marketing in Home Country by Host Country adalah aturan di mana suatu negara yang disebut home country harus membayar, sedangkan host country (negara pengirim) akan memperoleh fee dari kegiatan bisnis tersebut. Contohnya, Johnson & Johnson.


Baca juga: Apat Itu Affiliate Marketing? Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya


Hambatan dalam Bisnis Internasional

Dibandingkan dengan bisnis domestik, bisnis internasional tentu memiliki lebih banyak hambatan. Dengan memasuki pasar luar negeri, negara lain pasti memiliki berbagai kepentingan sendiri yang seringkali mempersulit terlaksananya transaksi bisnis internasional.

Secara lebih rinci, hambatan-hambatan yang sering terjadi dalam menjalankan bisnis internasional adalah sebagai berikut:

  1. Tarif bea masuk dan batasan perdagangan. Tarif ini merupakan pajak yang dikenakan untuk setiap barang yang diperdagangkan untuk keluar-masuk ke dalam negeri, baik barang impor maupun ekspor.
  2. Perbedaan bahasa dan kutlural. Bahasa merupakan alat komunikasi yang vital untuk menjalin relasi dan kerjasama di negara lain, baik secara lisan maupun tertulis. Hal ini tentu menghambat kelancaran bisnis internasional.
  3. Kondisi politik dan huku undang-undang. Hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara tertentu juga bisa menghambat bisnis internasional, karena terbatasnya juga hubungan bisnis dari kedua negara tersebut. Selain itu, ketentuan hukum undang-undang yang berlaku di negara tersebut juga bisa membatasi berlangsungnya bisnis internasional.
  4. Hambatan yang berkaitan dengan operasional. Hal ini mencakup masalah operasional seperti: transportasi atau pengangkutan barang, peraturan atau kebijakan negara lain, dan perbedaan tingkat harga upah.

Referensi:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *