perkembangan musik kontemporer indonesia

Perkembangan Musik Kontemporer di Indonesia

Mengamati perkembangan musik kontemporer di Indonesia yang berawal dari sebuah acara Pekan Komponis Muda tahun 1979.


Musik kontemporer merupakan istilah dalam bahasa Indonesia untuk bidang kegiatan yang dalam konteks berbahasa Inggris paling sering disebut new music (musik baru), musik kontemporer, atau musik seni kontemporer. Ini menjadi istilah yang paling umum di tahun 1990-an.

Tetapi kesepakatan dalam penggunaan istilah menimbulkan pertanyaan tentang apa yang termasuk dan apa yang tidak termasuk dalam musik kontemporer. Ini menjadi inti perdebatan hangat di kalangan musikus dan pemikir yang biasanya memiliki persepsi yang berbeda.

Berawal dari Pekan Komponis Muda

pekan komponis muda
musicalprom.com

Perkembangan musik kontemporer di Indonesia baru mulai dirasakan sejak digelarnya acara Pekan Komponis Muda tahun 1979 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Melalui acara tersebut, komunikasi para seniman antar daerah dengan berbagai macam latar belakang budaya lebih terjalin.

Forum diskusi dan dialog antar seniman dalam acara tersebut saling memberikan kontribusi sehingga membuka paradiqma kreatif musik menjadi lebih luas. Hingga hari ini, para komponis yang pernah terlibat dalam acara tersebut menjadi sosok individu yang sangat memberi pengaruh kuat untuk para komponis musik kontemporer selanjutnya.

Nama-nama seperti Aloysius Suwardi, Harry Roesli, Ben Pasaribu, Tony Prabowo, Yusbar Jailani, I Nyoman Windha, Otto Sidarta, dan masih banyak yang belum disebutkan, merupakan komponis kontemporer yang ciri-ciri karyanya nyaris mustahil dikategorikan secara konvensional.

Selain memiliki keunikan tersendiri, karya-karya mereka juga cukup bervariasi. Sehingga dari waktu ke waktu konsep-konsep mereka bisa berubah-ubah tergantung pada semangat serta kapasitas masing-masing dalam mengembangkan kreativitasnya.

Puncaknya, karya-karya musik kontemporer tak lagi menjelaskan ciri-ciri latar belakang tradisi budayanya walaupun sumber-sumber tradisi itu masih terasa lekat. Namun, sikap dan pemikiran individu-lah yang paling penting, sebagai landasan dalam proses kreativitas musik kontemporer.

Sikap dan pemikiran itu tercermin seperti yang telah dikatakan komponis kontemporer I Wayan Sadra:

“Kini tak zamannya lagi membuat generalisasi bahwa aspirasi musikal masyarakat adalah satu, dengan kata lain ia bukan miliki kebudayaan yang disimpulkan secara umum, melainkan milik pribadi orang per orang.”


Baca juga: Mengenal Sejumlah Tokoh Musik Kontemporer Indonesia


Perkembangan di Daerah-Daerah

SIEM
sweet.tech.blog

Mengintip perkembangan musik kontemporer di daerah Sunda tampaknya agak lambat. Selain karena apresiasi masyarakat Sunda belum memadai, para komponisnya yang relatif sangat sedikit, dukungan pemerintah setempat atau sponsor-sponsor untuk menggelar konser-konser musik kontemporer juga sangat kurang.

Misal di Yogyakarta, secara konsisten selama belasan tahun mereka berhasil menggelar acara Yogyakarta Gamelan Festival tingkat Internasional yang di dalamnya banyak sekali karya-karya musik kontemporer dipentaskan.

Tahun 2007 dan 2008, Kota Solo telah menggelar acara SIEM (Solo International Ethnic Music). Di dalamnya, banyak karya-karya musik kontemporer dipentaskan dengan dihadiri lebih kurang lima puluh ribu penonton.

Selain itu, masih ada festival world music dengan tajuk “Hitam Putih” di Riau, kemudian festival Gong Kebyar di Bali, dan lain sebagainya.

Acara-acara tersebut digelar secara rutin bukan sekadar “ritual”, atau memiliki tujuan memecahkan rekor Muri, apalagi mencari keuntungan. Karena seperti yang dibilang Harry Roesli, pementasan musik kontemporer merupakan “seni yang merugi akan tetapi melaba dalam tata nilai”.

Sebenarnya banyak komponis kontemporer di daerah Sunda yang cukup potensial, namun sangat jarang yang tetap konsisten dalam berkarya. Salah satu komponis pertama, Nano S,, yang meski aktivitasnya lebih cenderung sebagai pencipta lagu, namun beberapa karyanya seperti “Sangkuriang” dan “Warna” memberi nafas baru dalam pengembangan musik Sunda.

Komponis lain seperti Suhendi Afrianto dan Ismet Ruhimat, sangat nyata upayanya dalam pengembangan instrumentasi pada gamelan Sunda. Dodong Kodir yang cukup konsisten dalam upaya pengembangan aspek organologi dalam komposisinya, Ade Rudiana yang sukses dalam pengembangan di bidang komposisi musik perkusi, Lili Suparli yang memegang prinsip kuat dalam pengolahan idiom-idiom musik tradisi Sunda.

Tokoh lain yang tak kalah penting, komponis-komponis seperti Dedy Satya Hadianda, Dody Satya Eka Gustdiman, Oya Yukarya, Dedy Hernawan, Ayo Sutarma yang karya-karyanya cukup variatif dan memiliki orisinalitas yang dilihat dari aspek kompositornya.

Pembagian Musik Kontemporer Berdasarkan Komposisi

Dari sejumlah komponis Sunda yang telah disebutkan di atas, secara kompositoris, karakteristik karyanya dapat dipetakan menjadi tiga kategori, yaitu:

Pertama, karya musik yang bersifat iringan. Konsep komposisi dalam karya seperti ini berdasar pada penciptaan suatu melodi (instrumen), kemudian elemen-elemen lainnya berperan mengiringi melodi tersebut.

Kedua, Karya musik yang bersifat ilustratif. Konsep komposisinya berusaha menggambarkan sesuatu dari naskah cerita, puisi, atau yang semisalnya. Dengan begitu, orientasi musiknya lebih tertuju pada penciptaan suasana-suasana yang berdasar pada interpretasi komponisnya.

Ketiga, karya musik yang bersifat otonom. Biasanya, karya musik semacam ini sangat sulit dipahami oleh orang awam. Selain bentuknya yang tidak baku, gramatika musiknya pun sangat berbeda dengan karya-karya tradisi. Kadang, karya-karya musik seperti ini sering menimbulkan kontroversi.

Seperti kontroversi “anti tradisi”, padahal secara sadar atau tidak, semua tatanan konsepnya bersumber dari tradisi. Kategori seperti ini lebih dekat atau lebih cocok dengan fenomena musik kontemporer Barat (Eropa-Amerika).

Komponis-Komponis Bali

perkembangan musik kontemporer indonesia
I Nyoman Astita /tribunnews.com

Di Bali, aktivitas berkesenian berideologi “kontemporer” sebenarnya telah berlangsung sejak awal abad ke-20 dengan lahirnya seni kekebyaran di Bali Utara.  Namun wacana tentang musik kontemporer mulai mengemuka serangkaian dengan Pekan Komponis Muda I yang digelar di Jakarta pada 1979.

Komponis muda yang mewakili Bali pada waktu itu adalah I Nyoman Astita dengan karyanya berjudul “Gema Eka Dasa Rudra”. Berlanjut di tahun-tahun berikutnya, Pekan Komponis Muda diikuti oleh komponis-komponis muda Bali lainnya, seperti:

  • I Wayan Rai dengan karyanya berjudul “Trompong Beruk” tahun 1982
  • I Nyoman Windha dengan karya “Sangkep” pada 1983
  • I Ketut Gede Asnawa dengan karya “Kosong” tahun 1984
  • Ni Ketut Suryatini dan I Wayan Suweca dengan ”Irama Hidup” tahun 1987
  • I Nyoman Windha dengan dua karyanya sekaligus yaitu ”Bali Age” dan ”Sumpah Palapa” tahun 1988

Kehadiran karya musik kontemporer mulai terasa mengguncang persepsi para akademisi di ASTI dan STSI (kini ISI) Denpasar, dan juga KOKAR Bali (kini SMK 3 Sukawati). Hal ini karena musik ini cenderung mengubah cara pandang, cita rasa, dan kriteria estetik yang sebelumnya terkurung oleh sesuatu yang terpola, standarisasi, seragam, dan bersifat sentral.

Konsep musik kontemporer menjadi sangat individual, sehingga perkembangannya pun beragam. Paham inilah yang coba ditawarkan oleh musik kontemporer, sehingga dalam karya-karya yang lahir banyak terjadi vokabuler teknik garapan dan aturan tradisi yang telah mapan ke dalam bentuk yang baru, terkesan aneh, nakal, bahkan urakan.

Pada tahun 1987, dalam serangkaian tugas kelas mata kuliah Komposisi VI, mahasiswa jurusan karawitan ASTI Denpasar semester VIII untuk pertama kalinya menggarap sebuah musik kontemporer dengan judul “Apang Sing Keto”.

Karya yang berbentuk drama musik ini menggunakan instrumen pokok gamelan Gong Gede yang dipadu dengan olahan vokal dan lagu ”Goak Maling Taluh” sebagai lagu pokok. Karya ini kemudian dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali tahun 1987 dan mendapat sambutan meriah dari penonton.

Kolaborasi Antara Barat dan Timur

body tjak
amazon.com

Tahun 1990, satu garapan musik kontemporer dengan media ungkap yang berbeda, hasil kolaborasi antara dua seniman, I Wayan Dibia dan Keith Terry, yaitu “Body Tjak“.  Karya ini merupakan seni pertunjukan multikultural yang memadukan unsur-unsur seni budaya Barat (Amerika) dan Timur (Bali, Indonesia).

“Body Tjak” digarap dengan kombinasi unsur-unsur seni kecak Bali dengan Body Music, menghasilkan sebuah jenis musik baru yang menggunakan tubuh manusia sebagai sumber bunyi. Garapan bernuansa seni budaya global ini lahir dengan dua produksinya, yaitu “Body Tjak 1990” (BT90) dan “Body Tjak 1999” (BT99).

Kedua karya ini murni lahir dari keinginan seniman untuk mengekspresikan jiwanya yang telah tergugah oleh dinamisme seni kecak dan body music. Dengan berbekal pengalaman estetis masing-masing, dan diilhami oleh obsesi aktualitas kekinian, kedua seniman sepakat melakukan eksperimen sehingga lahirlah musik kontemporer “Body Tjak”.


Baca juga: 8 Contoh Karya Musik Kontemporer Paling Populer


Memasuki Dunia Akademisi

Kehidupan dan perkembangan musik kontemporer yang diawali event-event gelar seni baik lokal maupun mancanegara akhirnya masuk juga ke ranah akademik. Mahasiswa jurusan karawitan ISI Denpasar telah banyak menggarap karya musik kontemporer sebagai materi ujian akhir.

Hingga tahun 2009, penggarapan musik kontemporer masih mendominasi pilihan materi ujian akhir mahasiswa jurusan karawitan. Hal ini secara produktivitas mengakibatkan penciptaan musik kontemporer menjadi sangat banyak. Model dan jenisnya pun juga sangat beragam.

Penggunaan instrumen tak hanya terpaku pada alat-alat musik tradisional Bali, namun juga menggunakan musik budaya lainnya. Bahkan mahasiswa sudah mengeksplorasi bunyi dari benda-benda apa saja yang dianggap bisa menghasilkan suara yang mendukung ide garapannya.

Musik kontemporer yang berjudul “Gerausch” karya Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya menjadi salah satu contoh eksplorasi radikal dalam musik kontemporer Bali. Karya ini sempat menimbulkan polemik kecil di kalangan akademik kampus.

Berkembang wacana “apakah karya ini tergolong musik atau tidak, termasuk karya karawitan atau bukan?”. Namun dengan pemahaman yang cukup alot dari masyarakat akademik kampus, akhirnya karya kontroversial ini pun telah mengantarkan sang komposer memperoleh gelar S1 Komposisi Karawitan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *