rumah pohon korowai

Menelusuri 7 Rumah Adat Papua yang Khas dan Eksotis

Tertarik dengan keunikan rumah adat Papua? Simak ulasan berikut ini: 7 rumah adat Papua paling terkenal.

Bagi banyak suku di Papua, rumah adat bukan cuma sekadar sebagai sebuah hunian semata.

Lebih dari itu, rumah adat menjadi satu identitas, mengandung banyak nilai-nilai filosofis, hingga untuk mendidik anak-anak penerus generasi,

Di Papua sendiri, ada banyak sekali suku-suku yang masing-masing pasti memiliki rumah adat dengan keunikan dan ciri khasnya sendiri.

Namun di sini, kita akan menggali 7 rumah adat Papua yang paling terkenal dan familiar, termasuk juga di daerah Papua Barat.

Apa sajakah itu? Berikut 7 rumah adat Papua yang wajib kamu ketahui!

1. Rumah Honai

rumah honai
99.co

Mungkin, rumah honai sudah menjadi satu identitas bagi kebudayaan Papua, terutama masyarakat Suku Dani yang tinggal di daerah Lembah Baliem di Pegunungan Jayawijaya.

Secara, rumah ini menjadi salah satu rumah adat Papua yang paling terkenal di antara jenis rumah adat lainnya.

Nah, untuk menelusuri berbagai ciri khas rumah honai, mari kita simak rincian keunikannya sebagai berikut:

Rumah mungil berbentuk jamur

Jika dilihat sekilas, rumah honai memang mirip dengan bentuk jamur raksasa, dengan bentuknya yang melingkar dan atapnya yang mengerucut.

Dindingnya tidak lebih luas ketimbang atapnya, terbuat dari kayu, sementara atapnya berbahan tumpukan jerami.

Untuk ukuran sebuah rumah, rumah honai terbilang cukup sempit dan tidak berjendela, karena rata-rata hanya berukuran sekitar 5 meter kubik saja.

Namun, meski dengan bentuk yang sederhana, rumah honai sudah mampu memberikan perlindungan dari terpaan hujan dan hawa dingin pegunungan.

Bagian dalam rumah honai

Rumah honai memiliki satu pintu kecil, sehingga untuk masuk ke bagian dalam rumah, kita harus membungkukkan badan.

Di dalam rumah pun, kita tidak bisa berdiri tegak, karena ada atap kayu yang rendah.

Jangan dibayangkan seperti rumah modern pada umumnya yang terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, dan dapur, rumah honai hanya memiliki satu ruangan yang dibagi menjadi dua tingkat.

Bagian bawah digunakan sebagai tempat berkumpul dan menjamu tamu, sedangkan bagian atas digunakan untuk tidur. Untuk naik ke atas, ada tangga yang terbuat dari kayu.

Di bagian tengah ruangan, terdapat tempat perapian yang digunakan sebagai tempat berkumpul dan menghangatkan diri.

Selain itu, jika rumah pada umumnya terdapat berbagai macam perabotan seperti meja, kursi, dan sebagainya, di dalam rumah honai hanya berisi jerami, kayu, dan hasil bumi.

Rumah yang multifungsi

Selain sebagai tempat tinggal, rumah honai juga berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil ladang seperti ubi manis dan umbi-umbian lain.

Ada satu tradisi yang cukup unik di masyarakat Lembah Baliem, yaitu pesta bakar batu. Pesta bakar batu adalah tradisi memasak makanan di tumpukan batu panas secara bersama-sama.

Nah, jika hari pesta bakar batu tiba, masyarakat setempat tinggal mengambil hasil ladang mereka di dalam rumah honai.

Selain itu, rumah honai juga biasa digunakan sebagai tempat pengasapan mayat untuk diawetkan (mumi).

Tempat mumi paling terkenal bisa ditemukan di Desa Aikima dan Desa Kerulu.

Tidak sembarang orang yang jasadnya diasap dan disakralkan oleh masyarakat setempat. Jasad yang diawetkan tersebut biasanya adalah tokoh-tokoh penting di desa setempat, seperti kepala suku.

Pembagian rumah honai

Perlu diketahui, rumah honai ada tiga jenis yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin penghuninya.

Yang pertama, rumah honai itu sendiri yang khusus dihuni oleh kaum laki-laki. Honai terlarang dihuni oleh kaum perempuan, meskipun perempuan itu adalah istri dari salah satu penghuninya.

Yang kedua adalah rumah ebai yang khusus untuk kaum perempuan. Rumah ebai juga digunakan sebagai tempat berhubungan suami-istri ketika tidak ada siapapun di dalamnya. (Selengkapnya mengenai rumah ebai di poin ke-2).

Yang ketiga disebut wamai yang khusus digunakan sebagai kandang babi. (Untuk selengkapnya mengenai wamai ada di poin ke-3)


Baca juga: Eksotisme 7 Upacara Adat Papua, Budaya Tanah Mutiara Hitam


2. Rumah Ebai

rumah ebai
99.co

Sebagai yang sudah disinggung di poin pertama, rumah ebai merupakan salah satu jenis dari rumah honai. Kalau honai khusus dihuni oleh kaum laki-laki, rumah ebai khusus untuk perempuan.

Secara bahasa, kata ebai sendiri dari dua kata: ebe’ dan ai. Ebe’ berarti “tubuh”, sementara ai berarti “perempuan”.

Kata ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan seorang perempuan di mata masyarakat Papua. Karena sebelum manusia lahir ke dunia, ia akan tinggal di dalam tubuh perempuan terlebih dahulu.

Secara bentuk, rumah ebai berbentuk sama seperti rumah honai, namun dengan ukuran yang relatif lebih kecil dan pendek.

Biasanya, rumah ebai didirikan berada disebelah kiri rumah honai, namun pintunya tidak diletakkan sejajar.

Rumah ebai memang khusus dihuni oleh kaum perempuan untuk beraktivitas. Aktivitas seorang ibu seperti merawat anak, melayani suami, memasak, dan sebagainya, telah menjadi bagian dari kehidupan perempuan masyarakat Suku Dani.

Dan di rumah ini pula tempat anak-anak didik oleh ibunya sebelum beranjak dewasa.

Bagi masyarakat setempat, rumah ebai memiliki arti yang sangat mendalam terutama bagi perempuan. Karena di tempat ini juga, para perempuan menerima pengajaran tentang kehidupan, khususnya kehidupan setelah berumah tangga.

3. Rumah Wamai

rumah adat papua
berbol.co.id

Rumah adat Papua berikutnya yang masih sejenis dengan rumah honai adalah wamai.

Bangunan rumah ini sebetulnya bukan rumah untuk tempat tinggal, melainkan bangunan khusus untuk kandang hewan-hewan ternak.

Hewan ternak utama di sana adalah babi. Bahkan, nama wamai sendiri berasal dari kata wam yang berarti “babi”.

Rumah wamai ini juga cukup istimewa bagi masyarakat Suku Dani, karena hewan ternak wam atau babi sangatlah berniali bagi mereka.

Selain babi, hewan ternak lainnya juga bisa berupa anjing, kambing, dan ayam.

Bentuk bangunan wamai sendiri juga mirip seperti rumah honai, namun dengan ukuran yang lebih fleksibel karena menyesuaikan jumlah hewan ternak di dalamnya.

Rumah wamai masih menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Suku Dani. Biasanya, wamai diletakkan di sudut-sudut yang agak jauh dari rumah honai atau ebai.

4. Rumah Kaki Seribu

rumah adat papua
indonesia.go.id

Mod aki aksa, atau igkojei, adalah sebutan asli masyarakat lokal untuk rumah kaki seribu ini. Sebuah rumah berjenis rumah panggung, namun dengan corak khas Manokwari.

Kalau rumah panggung pada umumnya biasanya memiliki tiang pondasi yang hanya terdapat di bagian sudut-sudut rumah, berbeda dengan rumah kaki seribu yang tiang pondasinya tersebar di seluruh bagian bawah rumah.

Karena keunikannya inilah, rumah igkojei ini terlihat seperti memiliki banyak kaki sehingga dijuluki dengan “rumah kaki seribu”.

Rumah kaki seribu merupakan rumah adat asli dari masyarakat Suku Arfak yang tinggal di daerah Pegunungan Arfak, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Kaki-kaki penyangga tersebut terbuat dari kayu yang berukuran tinggi dan pendek. Diameternya sekitar 10 cm per-tiangnya, dengan disusun berjarak kurang lebih 30 cm antar tiang.

Atap rumah ini terbuat dari jerami, rumput ilalang atau daun sagu, sedangkan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya sangat kuat karena terbuat dari susunan kayu yang saling mengikat.

Dengan tinggi rata-rata berkisar 4 hingga 5 meter dan luas sekitar 8×6 meter, rumah adat ini terbilang cukup besar dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.

Tingginya bangunan igkojei ini tentu bukan tanpa maksud. Bangunan rumah ditinggikan dimaksudkan untuk menjaga keluarga yang tinggal dari serangan hewan buas, ancaman musuh, dan dipercaya dapat menghalau serangan ilmu hitam.

Secara, kondisi masyarakat setempat yang masih sering bertikai menjadi alasan kuat yang mempengaruhi bentuk rumah adat masyarakat yang unik tersebut.

Keunikan lainnya, rumah kaki seribu ini umumnya dibangun desain yang serba tertutup, dengan hanya memiliki dua pintu dan bahkan tanpa ada jendela.

Hal ini dimaksudkan untuk menjaga suhu ruangan tetap hangat dan menghalau bencana alam seperti badai. Secara, masyarakat Arfak memang tinggal di daerah pegunungan yang cenderung berhawa dingin dan rawan akan badai.

Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, banyaknya transmigran dari daerah lain yang berdatangan di Papua Barat, rumah kaki seribu kini sudah sangat jarang ditemukan di kota-kota besar Papua Barat.

Kelompok masyarakat yang masih menggunakan rumah kaki seribu ini adalah penduduk asli Suku Arfak yang berada jauh di pedalaman, terutama di bagian tengah Pegunungan Arfak.

5. Rumah Rumsram

rumah rumsram
blogkulo.com

Rumah adat Papua selanjutnya adalah rumah rumsram dari masyarakat Suku Biak Numfor di daerah pesisir pantai utara Papua.

Sebetulnya, rumah ini secara khusus dipergunakan untuk kaum laki-laki, sedangkan kaum perempuan dilarang masuk atau bahkan mendekatinya.

Secara fungsi, rumah rumsram berfungsi sebagai tempat kegiatan mengajar dan mendidik anak-anak laki-laki yang mulai beranjak remaja mengenai kehidupan.

Pada sebuah upacara adat yang disebut wor kapanaknik yang artinya “mencukur rambut anak”, biasanya akan dilaksanakan sebuah ritual di mana anak laki-laki berusia 6 hingga 8 tahun mulai mendapatkan pendidikan dalam pencarian pengalaman hidup.

Di usia tersebut, anak laki-laki sudah dianggap bisa berpikir dan sudah saatnya dilatih untuk menjadi laki-laki dewasa yang kuat dan bertanggungjawab sebagai kepala keluarga kelak.

Di rumah rumsram inilah, mereka menerima masa yang dinamakan “pendidikan rumsram” karena aktivitasnya dilakukan di dalam rumah rumsram.

Bangunan rumah ini juga sangat khas. Bangunannya berbentuk persegi dan atapnya berbentuk menyerupai perahu terbalik. Hal ini menunjukkan latar belakang Suku Biak Numfor yang berprofesi sebagai pelaut.

Adapun material rumah ini, lantainya terbuat dari kulit kayu, dindingnya dibuat dari bambu air yang dibelah dan dicacah, sedangkan atapnya terbuat dari daun sagu yang sudah kering.

6. Rumah Kariwari

rumah adat papua
tambahpinter.com

Selanjutnya, ada rumah kariwari.

Rumah kariwari merupakan satu rumah adat dari masyarakat Suku Tobati-Enggros yang mendiami daerah Teluk Yotefa dan Danau Sentani, Jayapura.

Bentuk rumah kariwari juga memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Berbeda dengan rumah adat Papua lainnya yang berbentu rumah panggung atau honai, rumah kariwari lebih berbentuk limas segi delapan.

Dengan bentuk arsitektur rumah yang demikian, rumah kariwari rupanya cukup kuat untuk bertahan dalam berbagai cuaca, terutama saat cuaca berangin kencang.

Biasanya, di masyarakat setempat, rumah-rumah kariwari ini dibangun dengan pola sejajar antar rumah. Formasinya biasanya dua baris rumah berderet dan saling berhadapan di sepanjang garis pantai.

Selain itu, jarak antar rumah juga diatur agar tidak terlalu jauh. Hal ini berdasarkan dengan alasan keamanan dan eratnya hubungan keluarga.

Dan karena lokasinya dekat dengan garis pantai, maka rumah ini biasanya dibangun tegak lurus dengan gelombang angin laut.

Dengan tinggi sekitar 20 hingga 30 meter, rumah kariwari juga terbagi dalam 2 atau 3 tingkat dan terdiri dari 3 ruangan atau kamar. Ketiga ruangan tersebut juga memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Ruangan pertama, yaitu berada di lantai dasar, adalah tempat di mana para remaja laki-laki didik. Di sinilah, setiap remaja laki-laki yang sudah berusia minimal 12 tahun mulai dididik mengenai kehidupan, menjadi seorang laki-laki dewasa yang bertanggungjawab, dan lain sebagainya.

Ruangan kedua, yaitu di tingkat tengah, adalah tempat untuk pertemuan kepala-kepala suku atau tokoh adat.

Sementara ruangan terakhir, di tingkat paling atas, adalah ruangan khusus untuk sembahyang dan memanjatkan doa-doa kepada Sang Pencipta dan para leluhur.

7. Rumah Pohon Suku Korowai

rumah adat papua
indozone.id

Mengenai rumah pohon Suku Korowai, mungkin sudah sangat familiar di tengah-tengah masyarakat bahwa rumah pohon adalah satu hunian utama masyarakat Suku Korowai.

Dikatakan, masyarakat Suku Korowai dalam kehidupannya biasa tinggal di rumah yang dibangun di atas pohon yang tinggi, biasanya terletak di bagian dahan dengan ketinggian mencapai 15 hingga 50 meter.

Selain itu, dikatakan pula bahwa masyarakat Suku Korowai membangun rumah-rumah pohon tersebut bertujuan untuk menghindar dari binatang buas dan gangguan makhluk asing yang disebut laleo.

Konon, laleo ini adalah makhluk yang berjalan seperti mayat hidup dan berkeliaran di malam hari. Sebutan laleo bahkan juga ditujukan untuk semua orang asing yang bukan termasuk suku mereka.

Namun ternyata, semua pemberitaan tentang rumah pohon Suku Korowai yang begitu populer ini sebagian besar adalah salah dan “buatan”.

Rumah Pohon Suku Korowai Ternyata Palsu

Dikutip dari BBC, dalam sebuah episode dari serial dokumenter berjudul Human Planet yang tayang di tahun 2011, masyarakat Suku Korowai diperlihatkan seakan pindah ke rumah di atas pohon sebagai tempat tinggal mereka.

Namun, ketika datang sebuah kru dari program televisi lain yang juga ingin mengambil gambarnya, masyarakat suku tersebut mengatakan bahwa rumah di atas pohon itu adalah rekayasa belaka yang dibuat untuk keperluan serial televisi atau film.

Rumah Suku Korowai yang Sebenarnya

Dilansir dari situs Indonesia.go.id, rumah utama masyarakat Suku Korowai sebetulnya adalah rumah yang disebut dengan xaim dan berupa rumah panggung biasa.

Rumah xaim ini biasa dibuat dibuat di atas tonggak-tonggak dari pohon-pohon berukuran kecil sebagai pancang.

Umumnya, rumah ini tingginya sekitar 10 sampai 30 kaki, atau sekitar 3 sampai 9 meter dari permukaan tanah.

Selain xaim, masyarakat Korowai juga memiliki rumah lain yang bernama xau. Rumah ini dibangun hanya 1 meter di atas permukaan tanah yang bahkan bisa dibilang tidak berpanggung sama sekali.

Foto-foto rumah tersebut di atas sangat jarang dipublikasikan.

Adapun rumah pohon Suku Korowai yang sangat terkenal itu sebenarnya adalah rumah jenis ketiga yang disebut lu-op, artinya “rumah yang harus dipanjat”.

Orang-orang Korowau bahkan sangat jarang membuat rumah jenis ini. Rumah ini biasanya berada di ketinggian 15 hingga 35 meter di atas pohon besar.

Dalam sejarahnya, rumah-rumah pohon ini sebenarnya adalah rumah yang dibangun oleh para pemuda Korowai untuk menikmati pemandangan dari atas pohon, dan juga tempat untuk menyerukan teriakan dari ketinggian.

Rumah ini bisa dibilang adalah bentuk pamer kepada kelompok lain yang tidak terlalu penting untuk memperlihatkan kekuatan dan kebesaran.

Dan meski begitu, rumah pohon ini tidak pernah digunakan sebagai hunian.

***

Itulah 7 rumah adat Papua paling terkenal, familiar, dan wajib hukumnya kamu gali keunikan dan ciri khasnya.

Mulai dari rumah adat Suku Dani, Suku Arfak, Suku Biak Numfor, Suku Tobati-Enggros, hingga kontroversi rumah pohon Suku Korowai.

Bagaimana? Kalau kamu tahu rumah adat Papua lain selain yang telah disebutkan di atas, boleh dong share pengetahuan kamu di kolom komentar!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *