sejarah seni lukis

Sejarah Seni Lukis dan Perkembangannya di Indonesia

Memaparkan sejarah seni lukis dan perkembangannya di Indonesia. Dari zaman prasejarah, abad pertengahan, hingga zaman renaisans.


Seni lukis merupakan salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.

Seni lukis barangkali merupakan cabang seni rupa paling tua. Sejak masa prasejarah, orang sudah mulai menemukan kegiatan menggambar dengan media dinding goa, dengan cara menjiplak telapak tangan mereka yang disembur dengan kunyahan daun-daun dan batu mineral berwarna.

Dari sana, orang mulai menemukan bahwa susunan bentuk sederhana jika diolah dengan sedemikian rupa bisa menghasilkan sebuah gambar yang indah. Kemudian kegiatan menggambar ini berkembang jadi termasuk salah satu kegiatan seni.

Selengkapnya tentang sejarah seni lukis, kita simak uraian di bawah ini..


Baca juga: Aliran Seni Lukis yang Wajib Kamu Tahu!


 

Seni Lukis di Zaman Prasejarah

lukisan prasejarah
berbagaireviews.com

Secara historis, seni lukis sangat berkaitan dengan gambar. Peninggalan-peninggalan pra-sejarah memperlihatkan bahwa semenjak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding goa untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan.

Sebuah gambar dapat dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik yang paling umum digunakan orang-orang goa yaitu dengan menenmpelkan tangan di dinding goa, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.

Alhasil, gambar-gambar jiplakan tangan berwarna-warni di dinding goa itu masih bertahan dan bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar atau lukisan untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa yang lain, seperti seni patung dan seni keramik.

Objek yang seringkali muncul dalam gambar-gambar purbakala adalah manusia, binatang, juga objek-objek alam seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk objek gambar juga tak selalu serupa dengan objek aslinya, ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si penggambar terhadap objeknya.

Contohnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang besar luar biasa dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman penggambar yang menganggap tanduk merupakan bagian paling menonjol dari seekor banteng.

Oleh sebab itu, citra mengenai satu objek menjadi berbeda-beda tergantung dengan pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.

Pada satu titik, ada sebagian orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan semakin menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, jika diatur sedemikian rupa akan menghasilkan sebuah rupa yang menarik daripada biasanya.

Mereka semakin menemukan semacam citarasa keindahan dalam kegiatan menggambar dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Bisa dibilang, mereka adalah seniman-seniman pertama di muka bumi. Pada saat itulah, kegiatan menggambar—selanjutnya melukis—seiring dengan perkembangan zaman menjadi bagian dari kegiatan seni.

Sama dengan gambar, umumnya lukisan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi/dimensi datar).

Seni Lukis di Zaman Klasik

sejarah seni lukis zaman klasik
dictio.id

Zaman ini dimulai dengan catatan pertama puisi Yunani karya Homer pada abad ke-8 SM dan berlanjut dengan bangkitnya kekristenan dan runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5 M. Zaman ini berakhir dengan hilangnya budaya klasik dan berubah menjadi Abad Pertengahan.

Kebanyakan seni lukis pada zaman klasik dimaksudkan untuk tujuan mistisisme sebagai akibat kebutuhan masyarakat akan kepercayaan di saat belum berkembangnya agama. Beragam seni rupa dibuat sebagai sarana untuk peribadatan kepada para dewa, sebuah kepercayaan yang berkembang dari zaman prasejarah yang mulanya menyembah arwah nenek moyang.

Selain itu, seni lukis juga digunakan sebagai propaganda, seperti contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan di zaman itu, orang-orang mulai menyadari bahwa lukisan dapat dijadikan sebuah sarana komunikasi yang lebih baik dibandingkan kata-kata.

Di zaman ini, lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam. Kemampuan manusia untuk menetap secara sempurna telah memberikan kesadaran tentang pentingnya keindahan dalam perkembangan peradaban.

Seni Lukis di Abad Pertengahan

sejarah seni lukis abad pertengahan
aliexpress

Abad Pertengahan bermula semenjak runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 M dan masih berlanjut manakala Eropa mulai memasuki Abad Pembaharuan (Renaisans) pada abad ke-14 M.

Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di Abad Pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tak lagi bisa sejalan dengan realitas.

Kebanyakan lukisan pada zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga cukup sulit menemukan lukisan yang bisa dikategorikan “bagus”.

Pada masa ini, lukisan digunakan sebagai alat propaganda dan religi. Beberapa agama yang mengharamkan penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan aliran abstrakisme, yaitu pemisahan unsur bentuk nyata dari benda.

Seni Lukis di Zaman Renaisans

leonardo da vinci
Leonardo da Vinci /businessinsider.com

Zaman Renaisans atau Abad Pembaharuan merupakan zaman peralihan dari Abad Pertengahan ke Zaman Modern dalam sejarah Eropa. Bermula pada abad-14 sampai abad ke-17 M.

Berawal dari kekalahan kota Firenze dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italia sekarang.

Dukungan dari keluarga de’ Medici—keluarga yang menguasai kota Firenze—terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi antara keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa.

Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Ilmu pengetahuan di zaman ini tak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke Eropa hingga Eropa Timur.

Dalam masa ini, kita mengenal Tomassi, Donatello, Leonardo da Vinci, Michaelangelo Buonarroti, dan Raphael (Raffaello Sanzio da Urbino) sebagai tokoh seniman yang berpengaruh di zaman ini.


Baca juga: Biografi Leonardo da Vinci – Seniman Jenius Zaman Renaisans


Sejarah dan Perkembangan Seni Lukis di Indonesia

penangkapan pangeran diponegoro
“Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh /wikipedia

Era seni lukis modern Indonesia dimulai ketika masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Pada zaman itu, di Barat sedang gandrung-gandrungnya aliran seni lukis romantisisme yang membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini.

Raden Saleh merupakan salah seorang asisten yang cukup beruntung karena bisa mempelajari seni lukis gaya Eropa dari pelukis Belanda, A.A.J. Payen.

Karena bakatnya yang cukup mumpuni, ia lanjutkan belajar melukis ke Belanda dan menjadi pelukis istana di negara-negara Eropa. Ia pulang ke Indonesia dengan membawa pengaruh gaya lukis dan aliran Eropa sekaligus mengawali era seni lukis modern di Indonesia.

Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti Zaman Renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.

Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis beralih dari tema-tema romantisisme menjadi cenderung ke arah “kerakyatan”. Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, karena dianggap menijilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu.

Alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin langka dan sulit didapat mendorong lukisan-lukisan di Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan aliran abstrakisme.

Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950-an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu. Hasilnya, era ekspresionisme dimulai. Lukisan tak lagi dianggap sebagai penyampai pesan atau alat propaganda.

Perjalanan seni lukis Indonesia semenjak perintisan Raden Saleh sampai awal abad ke-21 ini terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.

Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep: Installation Art dan Performance Art, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996.

Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.


Baca juga: Tokoh Seni Lukis Indonesia Paling Berpengaruh


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *