Tari Bondan, Sebuah Tarian Kasih Sayang dari Surakarta

Ulasan lengkap seputar Tari Bondan. Mulai dari sejarah, makna, properti, gerakan, dan berbagai ciri khas lainnya.

Berbicara seputar kesenian daerah di Jawa Tengah, salah satu jenis kesenian yang masih cukup diminati hingga sekarang adalah Tari Bondan. Meski begitu, mungkin tidak begitu banyak yang mengenal jenis tarian ini mengingat pesatnya arus globalisasi yang menawarkan kesenian yang lebih modern.

Mengenai asal-usulnya, sejarah, karakteristik, makna filosofis, dan segala hal tentang tarian ini, mengandung banyak hal-hal menarik untuk diulas dan dipelajari. Begitu pula dengan jenis tarian daerah lainnya, tarian ini memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang sayang untuk dilewatkan.

Sejarah Tari Bondan

Tari Bondan sendiri adalah sebuah kesenian klasik yang lahir dari kebudayaan masyarakat Jawa di Surakarta. Tidak diketahui secara pasti tentang siapa yang pertama kali menciptakannya, namun menurut sejarahnya, tarian ini adalah bentuk tarian wajib bagi para kembang desa di masa Kerajaan Mataram Lama.

Tarian ini menceritakan tentang seorang ibu yang mengasuh anaknya, memberikan kasih sayang, dan merawatnya sampai dewasa. Sebuah kesenian untuk menunjukkan jati diri seorang wanita yang selain mengandung sifat kecantikan, seorang wanita pasti memiliki jiwa keibuan.


Baca juga: Tari Serimpi, Kesenian Sakral Kesultanan Mataram


Jenis-Jenis Tari Bondan

tarian jawa tengah
bantensatu.co

Dalam perkembangannya, Tari Bondan kemudian dibagi menjadi tiga jenis yang berbeda berdasarkan karateristik dan penggunaannya, yaitu: Tari Bondan Cindogo, Tari Bondan Mardisiwi, dan Tari Bondan Tani.

  1. Tari Bondan Cindogo, sebuah tarian yang menggambarkan kasih sayang seorang ibu yang kehilangan anaknya yang meninggal dunia. Atas dasar cerita tersebut, pembawaan tarian ini lebih cenderung ke nuansa sedih dan melodramatis.
  2. Tari Bondan Mardisiwi, sebuah tarian yang lebih mengarah pada suasana kebahagiaan seorang ibu yang pertama kali dikaruniai anak.
  3. Tari Bondan Tani, merupakan jenis tarian yang mengangkat cerita kehidupan ibu-ibu desa yang selain berkewajiban merawat anak-anaknya, mereka juga harus membantu suaminya bekerja di sawah.

Perbedaan dari tiga jenis tarian tersebut meliputi dari berbagai aspek penyajiannya, antara lain: kostum yang digunakan, properti, musik pengiring, ragam gerak, hingga sub-tema yang diangkat.

Kostum dan Properti Tarian

properti tari bondan
seringjalan.com

Dalam sebuah kesenian tari, kostum dan properti juga menjadi salah satu ciri khas yang memberikan makna dan nilai-nilai tersendiri dari sebuah tarian. Begitu pula dengan Tari Bondan, pakaian dan berbagai alat-alat juga menawarkan satu ciri khas tersendiri dalam penyajiannya.

  • Kostum

Umumnya, para penari tarian ini wajib mengenakan kostum berupa pakaian khas gadis desa Jawa zaman dulu. Biasanya, kostum yang dipakai berupa paduan kain wiron, kemben, dan jamang.

Sementara khusus untuk penari Bondan Tani biasanya mengenakan properti tambahan berupa alat-alat pertanian seperti: topi caping, menggendong tenggok, dan membawa sabit atau golok.

  • Boneka Bayi

Boneka bayi merupakan satu properti utama dan menjadi ciri khas yang paling mencolok dalam tarian ini. Dalam tarian, para penari akan menari sambil menggendong boneka tersebut sebagai representasi kasih sayang ibu kepada anaknya.

  • Payung Kertas

Dalam sajian tarian Bondan Cindogo dan Bondan Mardasiwi, payung kertas juga menjadi salah satu properti utama yang menunjukkan ciri khas tarian. Payung kertas dalam tarian ini merupakan sebuah simbol bagaimana seorang ibu melindungi anak-anaknya dari segala marabahaya.

Biasanya, payung kertas yang digunakan bermotif bunga-bunga yang indah dengan warna-warni yang cantik. Bahkan karena keunikannya, banyak masyarakat dari mancanegara yang tertarik untuk menjadikan payung ini sebagai hiasan.

  • Kendil

Kendil adalah sebuah alat dapur tradisional yang terbuat dari tanah liat dan berfungsi untuk wadah air minum. Dari tiga jenis tarian, kendil hanya dijumpai pada jenis Tari Bondan Cindogo dan Bondan Tani, sedangkan Bondan Mardisiwi tidak menggunakannya sebagai properti.

Dalam tarian, kendil ini akan dijadikan sebagai pijakan oleh para penari untuk menari di atasnya tanpa membuatnya pecah. Properti kendil tersebut adalah sebuah simbol yang menggambarkan seorang ibu yang harus memberikan penghidupan untuk anak-anaknya.

  • Jamang

Jamang atau siger adalah sebuah hiasan kepala yang dilingkarkan di bagian dahi. Jamang memang telah ditemukan dalam khazanah kebudayaan Indonesia di berbagai daerah sebagai pelengkap busana pengantin dan tarian.

Cara mengenakannya adalah dengan melingkarkannya di kepala seperti ikat kepala hingga menghiasi bagian kening, puncak dahi, hingga ke pelipis. Dalam tarian, jamang dikenakan sebagai pelengkap kostum tarian.

  • Kain Sampur

Kain sampur adalah sejenis selendang yang biasa digunakan untuk menari. Dalam tarian, kain sampur biasanya disampirkan di bagian bahu penari sebagai pelengkap kostum yang dikenakan.

  • Bakul atau Tenggok

Bakul adalah sebuah wadah tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Di Jawa, alat ini disebut juga dengan tenggok. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, bakul biasa digunakan oleh petani untuk wadah hasil pertanian atau perkebunan.

Dari tiga jenis Tari Bondan, properti bakul hanya ditemukan pada tarian Bondan Tani, dimana tarian ini menggambarkan kehidupan ibu-ibu pedesaan yang selain mengasuh anak mereka, juga membantu suaminya bekerja di sawah atau ladang.

  • Caping

Selain tenggok, caping juga digunakan sebagai properti dalam tarian Bondan Tani. Caping adalah semacam tutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk kerucut. Dalam pertanian, alat ini biasa dipakai petani untuk menghalau terik matahari atau air hujan ketika di musim hujan.

Musik Pengiring

Dalam setiap tarian daerah, musik merupakan komponen penting untuk membangun suasana tertentu dalam sajiannya. Jenis musik yang digunakan dalam kesenian tradisional tentu juga dari alat-alat musik tradisional di setiap daerah.

Dalam kesenian Tari Bondan, alat musik yang digunakan adalah instrumen Gamelan yang merupakan kumpulan alat musik tradisional Jawa. Gending yang dimainkan biasanya membawakan ritme yang halus dan santai, seolah menggambarkan kepribadian gadis-gadis Jawa yang lemah lembut dan sopan.

Contoh gending yang dimainkan sebagai pengiring tarian ini misalnya seperti Gending Ayak-Ayakan dan Ladrang Ginonjing.

Gerakan Tari Bondan

gerakan tarian bondan
Muhammad Fahim Warseno via Twitter.com

Dalam sajiannya, gerakan tarian ini secara umum memiliki keunikan dan ciri khasnya tersendiri. Selain itu, perlu keterampilan dan keahlian khusus untuk memainkannya karena terdapat gerakan yang terlihat sulit untuk dilakukan.

Dalam pertunjukannya, para pemain akan menari sambil menggendong boneka bayi di satu tangan, sementara tangan satunya memegang properti payung kertas. Setiap gerakan yang disajikan juga mengandung makna-makna tertentu.

Salah satu gerakan yang juga menjadi ciri khas tarian ini adalah pada saat para penari melakukan atraksi menari di atas properti kendil. Tentu, gerakan ini memerlukan keterampilan khusus untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh atau memecahkan kendil tersebut.

Keunikan Ciri Khas Tari Bondan

Setiap jenis kesenian dan kebudayaan dari daerah manapun, pasti memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Hal itu juga menjadi daya tarik dan hiburan tersendiri yang juga mengandung nilai-nilai seni di dalamnya.

Dari berbagai ulasan mengenai Tari Bondan di atas, terdapat banyak sekali hal-hal menarik yang terdapat dalam kesenian ini. Berikut kita rangkum berbagai keunikan dan ciri khas Tari Bondan sehingga menjadi bagian dari kebudayaan yang harus dilestarikan.

  1. Tarian Kasih Ibu. Secara simbolis, sajian Tari Bondan secara umum menggambarkan kasih sayang ibu kepada anaknya, sebuah tema yang sangat penting untuk menyadarkan siapapun untuk senantiasa berbakti kepada orang tua.
  2. Properti yang Khas. Salah satu keunikan yang terdapat pada tarian ini juga terletak pada properti yang digunakan, yaitu: boneka bayi, payung kertas, dan kendil, yang masing-masing juga mengandung nilai-nilai filosofis tersendiri.
  3. Kostum Tarian. Selain properti, kostum tarian juga menjadi salah satu keunikan tersendiri. Pakaian yang digunakan adalah paduan busana yang mempresentasikan pakaian masyarakat desa zaman dulu, seperti kemben, jarik, dan selendang.
  4. Gerakan Tarian. Satu hal yang juga cukup menarik adalah salah satu adegan atraktif para penari ketika menari-nari di atas kendi. Tentu, hal ini memerlukan keterampilan khusus bagaimana menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh atau sampai memecahkan kendi yang terbuat dari tanah liat tersebut.

***

Mungkin, Tari Bondan kini sudah jarang diminati oleh anak-anak muda karena arus globalisasi yang menyajikan bentuk-bentuk hiburan yang lebih modern. Namun, jenis tarian ini masih memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang memiliki jiwa seni yang tinggi.

Sejak di masa Kerajaan Mataram Lama, tarian ini sudah menjadi salah satu kesenian yang cukup terkenal. Hingga saat ini, Tari Bondan telah menjadi bagian dari warisan budaya yang masih dilestarikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *