tokoh musik kontemporer

Mengenal Sejumlah Tokoh Musik Kontemporer Indonesia

Memberikan informasi mengenai tokoh-tokoh musik kontemporer Indonesia, memberikan alternatif musik jenis baru yang belum ada di masa sebelumnya. Menginspirasi!


Gampangnya, “kontemporer” memiliki arti “masa kini”. Musik kontemporer adalah musik yang belum diciptakan sebelumnya. Musik yang dibawakan sebenarnya mengajak orang-orang untuk tidak terkungkung dengan satu kriteria musik yang laku di pasaran.

Meski kehadiran musik ini di beberapa tahun terakhir semakin tumbuh subur, tampaknya tetap tidak akan bisa menyaingi musik konvensional karena dianggap berseberangan dengan pola musik industri atau pop.

Kondisi seperti ini sangat berbeda dengan luar negeri yang justru memiliki daya jual begitu tinggi di beberapa negara maju. Sejumlah musikus atau grup musik Indonesia yang berhaluan kontemporer sangat dikenal di mancanegara, bahkan menjadi penampil langganan di festival-festival kontemporer internasional.

Berikut kita hadirkan sejumlah tokoh musik kontemporer indonesia yang menghadirkan musik-musik nyentrik jenis baru.


Baca juga: Pengertian Puisi Kontemporer, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis, Beserta Contohnya


1. Slamet Abdul Sjukur

slamet abdul sjukur
tribunnews.com

  • Nama lahir : Soekandar
  • Alias : Slamet Abdul Sjukur
  • Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 30 Juni 1935
  • Wafat : Surabaya, 24 Maret 2015
  • Profesi : Komponis

Slamet dikenal sebagai komponis Indonesia, disebut sebagai salah seorang pinonir musik kontemporer Indonesia. Ia juga piawai mengkomposisikan bahan-bahan yang sederhana dan minim ke dalam sebuah musik, sehingga dirinya disebut sebagai komposer minimaks.

Bunyi-bunyian sederhana: desir angin, gesekan daun, gemericik air, bunyi gesekan sapu di jalanan, bunyi ketiak yang ditutup dengan telapak tangan, dan perbincangan orang-orang sekitar mampu digunakan Slamet untuk mengeksplorasi musik dan menghasilkan komposisi yang luar biasa unik.

Slamet sudah lama belajar dan berpengalaman mengolah keterbatasan sebagai sebuah tantangan kreativitas. Ia pernah membuat paduan suara dari orang-orang yang bersuara sengau. Bahkan, ia juga menciptakan komposisi musikal dari 200 anak pemulung sampah yang bernyanyi sambil memainkan instrumen mungil dari bambu.

Jiwa bermusiknya yang gila bermula ketika Slamet berkuliah musik di Paris. Dengan disokong beasiswa dari Kedubes Perancis di Jakarta dan dilanjutkan Yayasan Albert Roussel (seorang komponis Perancis), selama 14 tahun ia mendalami analisis dan komposisi musik.

Atas permintaan gurunya, Sumaryo L.E. dan Sukahardjana, Slamet pulang ke Tanah Air dan mengabdi di IKJ. Kariernya mengajar teori musik dan komposisi di IKJ berlanjut hingga dirinya menjabat sebagai dekan. Namun, pemikirannya yang menentang arus terkait musik belum bisa diterima oleh pemerintah Orde Baru sehingga membuat dirinya dipecat.

Selain IKJ, pada tahun 2000, Slamet mengajar di program pascasarjana STSI Surakarta (kini ISI Surakarta). Ia juga sempat mengajar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Karya-karya Slamet lebih banyak digemari di luar negeri dibanding di dalam negeri. Seperti “Ketut Candu”, “String Quartet I”, “Silence”, “Point Cotre”, “Parentheses I-II-III-IV-V-VI”, “Jakarta 450 Tahun”, dan “Daun Pulus”. Dari sekian karyanya, hanya “Daun Pulus” yang tersohor di Indonesia.

2. Harry Roesli

harry roesli
republika.co.id

  • Nama lahir : Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli
  • Tempat, tanggal lahir : Bandung, 10 September 1951
  • Wafat : Jakarta, 11 Desember 2004 (53 tahun)
  • Profesi : Musisi, budayawan

Harry Roesli tak cuma dikenal sebagai musisi, ia juga seorang guru, seniman, dan pendidik musisi Bandung yang kemudian berkembang menjadi seniman berkualitas. Ia juga merupakan cucu seorang pujangga besar Indonesia, Marah Roesli yang terkenal akan romansa Siti Nurbaya-nya.

Era 70-an menjadi tahun-tahun permulaan namanya melambung lewat grup musiknya, The Gang of Harry Roesli, bersama Albert Warnerin, Indra Rivai dan Iwan A. Rachman. Melalui album perdananya yang bertajuk “Philosophy Gang” (1971), tanpa basa basi telah membuat geger dunia musik Indonesia.

Selain piawai dalam bergitar, Harry juga pintar mempermainkan paduan gong, gamelan, drum, botol, kaleng bekas dan kliningan secara bersamaan menjadi instrumen musik yang harmonis. Ditambah dengan lirik metafora yang ciamik dan sarat akan kritik sosial secara lugas dan tepat.

Minggat dari ITB, Harry memilih untuk mendalami musik di Institut Kesenian Jakarta dan lanjut menerima beasiswa ke Rotterdam Conservatorium, Belanda.

Bertolak dari kehidupan prestisius, ia gunakan musik untuk menyuarakan keadilan dan mengkaderisasi para musisi jalanan Bandung. Setelah meraih gelar doktornya, ia turut aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa universitas di Bandung, seperti Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Pasundan Bandung.

3. Djaduk Ferianto

djaduk ferianto
jawapos.com

  • Nama lengkap : Gregorius Djaduk Ferianto
  • Alias : Djaduk Ferianto
  • Profesi : Seniman
  • Tempat, tanggal lahir : Yogyakarta, 19 Juli 1964

Djaduk adalah seorang aktor dan seniman musik Indonesia asal Yogyakarta. Seorang putra dari Bagong Kussudiardja, koreografer dan pelukis senior Indonesia. Selepas dari pendidikan di Tamansiswa, ia lanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Jurusan Seni Rupa meski akhirnya tak selesai.

Bersama dengan sang kakak, Butet Kertaradjasa dan Purwanto, mendirikan kelompok kesenian Kua Etnika, yang merupakan penggalian musik etnik dengan pendekatan modern. Ia juga mengolah musik keroncong dengan membentuk Orkes Sinten Remen.

Dalam perjalanannya berkarier di bidang seni, Djaduk sempat mengalami diskriminasi sejak 1979 karena pembedaan label lokal dan nasional. Ia baru bisa masuk industri nasional pada tahun 1996, di acara Dua Warna RCTI. Maka ketika ia menerima banyak job  tingkat nasional, ia tetap bertahan sebagai orang lokal.

Berkat kreativitasnya, Persatuan Wartawan Indonesia memberinya penghargaan sebagai Pemusik Kreatif. Ia juga menyabet juara pertama Musik Humor Tingkat Nasional dan beberapa penghargaan lain.

Pada tahun 2007, Djaduk bersama Kua Etnika, Wartajazz.com, Paningron, dan seniman lainnya menggelar pentas musik jazz bertajuk “Ngayogjazz” dan berlangsung dengan sukses. Akhirnya, acara yang ditujukan untuk mendekatkan musik jazz kepada masyarakat ini menjadi agenda tahunan di Yogyakarta.

4. I Nyoman Windha

i nyoman windha musik kontemporer
kompas.com

  • Nama : I Nyoman Windha
  • Tempat, tanggal lahir : Gianyar, Bali, 13 juli 1956
  • Pendidikan : STSI Denpasar
  • Profesi : Seniman, budayawan

Dengan berbagai adat, ritual, dan upacara yang tak lepas dari berbagai kesenian setempat, bisa dikatakan bahwa masyarakat Bali pada dasarnya adalah seniman semua. Di tengah-tengah komunitas seperti itulah, I Nyoman Windha dilahirkan.

Sebagaimana dengan masyarakat Bali pada umumnya, Nyoman Windha telah akrab dengan suara gambelan, tembang yang energik, tarian yang penuh gerak, dan keanekaragaman bunyi. Ia sudah piawai menabuh gambelan semenjak masa kanak-kanak.

Bakat musiknya semakin menjadi ketika Nyoman menghabiskan masa pendidikannya di sekolah-sekolah seni. Ia mulai belajar di Konservatori Karawitan Denpasar pada umur 17 tahun.  Tahun 1976, ia teruskan studinya di jurusan karawitan Akademi Seni Tari (ASTI) Denpasar. Pada 2005, ia tuntaskan studinya di Master of Music di Mills College California.

Debutnya sebagai komponis bermula pada Pekan Komponis-Dewan Kesenian Jakarta 1983. Pada 1998, ia diundang untuk kedua kalinya ke forum bergengsi itu. Pada masanya, forum itu dipandang sebagai gerbang karier para komponis muda kontemporer Indonesia. Bahkan, Harry Roesli dan Djaduk Ferianto merupakan alumnus forum tersebut.

Dalam dunia permusikan Bali saat ini, Nyoman Windha telah menempati posisi paling utama. Sebagai pemain, komponis, dan guru musik di Bali, ia telah berkali-kali bermain, mengajar, dan berkolaborasi dengan para seniman dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Australia.

Puluhan karyanya telah direkam oleh berbagai label studio musik, di antaranya: Sangkep, Palapa I dan Palapa II, Bali Age, Gita Nusantara, Gereching Kawulu, Gora Merdawa Cendra Wasih, Gadung Kasturi, Jagad Anyar, Gita Winangun, Sinom Lawe, dan masih banyak lagi.

Di usia 63 tahun ini, I Nyoman Windha masih aktif berkarya dan mengajar seni karawitan dan komposisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

5. Aloysius Suwardi

al suwardi musik kontemporer
mediaindonesia.com

  • Nama : Aloysius Suwardi
  • Tempat, tanggal lahir : Sukoharjo, 21 Juni 1951
  • Profesi : Musikus

Al, begitu panggilan akrab Aloysius Suwardi, dikenal sebagai musikus Indonesia asal Surakarta. Ia menggeluti bidang etnomusikologi, terutama karawitan. Ia telah banyak menghasilkan karya musik-musik tradisi yang banyak ditampilkan di dalam maupun luar negeri.

Al mengawali belajar seni karawitan Jawa dan Bali di Konservatori Karawitan Surakarta. Selepasnya, ia lanjutkan studinya di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta. Di ASKI inilah, ia bertemu dengan banyak mentor, guru, dan seniman yang membentuk karakternya di kemudian hari.

Pertemuannya dengan seniman Sardono W. Kusumo pada 1974 yang mengajaknya bermain dalam pertunjukan keliling seni kontemporer sampai ke Paris menjadi awal titik pandang baru di bidang penciptaan karya-karya seni kontemporer yang bersumber dari tradisi. Sejak itu, ia tak pernah absen mengikuti festival seni kontemporer internasional di berbagai negara.

Dalam konteks musik kontemporer yang berasal dari tradisi nusantara, Al dikenal lihai menjadi reparator dan modifikator alat-alat musik gamelan lama dan baru. Ia menciptakan alat musik gambang dan gender makro dari bahan-bahan keseharian seperti bambu, katu, air, metal, dan barnag-barang bekas.

Sebagai seniman dan pendidik, kini Aloysisus Suwardi mengajar untuk mata kuliah komposisi, organologi, studio musik, dan etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

6. Royke (Media Perkusi)

Royke merupakan seorang musisi yang secara khusus mengeksplorasi musik-musik kontemporer dengan media perkusi dan alat-alat musik akustik. Musik-musik Royke jauh dari nuansa futuristik. Ia tampilkan komposisi dengan kendang, drum akustik, seta petikan gitar dengan komposisi yang terkesan klasikal.

Dalam lagu-lagunya, Royke membuat komposisi klasik yang mungkin terdengar ‘suram’. Namun sebenarnya, karya semacam ini memiliki kedalaman rasa yang berbeda. Rasa yang coba digambarkan lebih menyerupai bentuk karya etnik. Tentu saja, hal tersebut tak bisa dilepaskan dari kondisi budaya Indonesia yang lekat dengan nuansa tradisional.

Menurut Royke, musik itu sebenarnya tak ada yang jelek. Semua musik lahir dari pengolahan gagasan atau ide, apabila dieksplorasi tidak akan habis, khususnya untuk mendapatkan bentuk baru atau taste yang lain.

Musik merupakan sesuatu yang universal, khususnya untuk menyampaikan pesan dari pencipta musik kepada masyarakat. Yang penting, bermusik haruslah kreatif, karena kreativitas adalah suatu awal yang tak akan pernah terputus.

Lebih jauh Royke ungkapkan, kehadiran musik kontemporer bukan untuk menyaingi musik konvensional saat ini, tapi lebih ditujukan untuk balancing position. Untuk itu, sudah selayaknya musik kontemporer diperkenalkan kepada masyarakat.

Royke juga berharap, masyarakat segera belajar untuk memahami seni dan batasan-batasannya yang memang terkesan abstrak. Karya-karya musik kontemporer mungkin tak akrab di telinga-telinga awam, namun bukan tak mungkin dengan kreativitas yang baik dapat menjadi karya yang menarik dan disukai masyarakat.


Baca juga: Klasifikasi Instrumen Musik Perkusi beserta Contohnya


7. Paul Goetama

musik kontemporer paul gutama
everybodywiki.com

  • Nama : Paul Gutama Soegijo
  • Lahir : Yogyakarta, 29 Januari 1934
  • Wafat : Jerman, 8 Januari 2019

Paul mengawali kariernya sebagai komponis musik kontemporer ketika dirinya masih berada di Jerman untuk mendalami komposisi selama dua tahun. Sebelum pindah ke Jerman, ia kuliah di jurusan instrumen biola di Konservatorium Amsterdam, Belanda. Ia juga mendalami teori musik dan menjadikan kedua subyek tersebut sebagai bidang utama.

Bersama kelompok Banjar Gruppe bentukannya, Paul memainkan sejumlah komposisi berupa musik avant-garde dan musik-musik baru berlatar gamelan. Dalam mencari cara strukturisasi melodi dan lain-lainnya, ia sampai mendalami musik tersebut selama 15 tahun setelah ‘kuyub’ dengan musik Barat yang ia pelajari di sekolah formal.

Di samping menciptakan karya-karya musik kontemporer Barat, Paul telah melahirkan beberapa karya yang berangkat dari gamelan atau non-Barat. Dalam satu periode, ia memberinya nama “Musik Leluhur Baru”.

Sesudah itu, Paul lanjutkan pencapaiannya dengan membuat komposisi musik untuk pemusik tunggal. Hal ini ia tunjukkan dengan karyanya yang berjudul “Gefuehlsstau” atau “Timbunan Rasa” yang ia bawakan sendiri di malam pembukaan pameran seni rupa G. Sidharta Soegijo, di Bentara Budaya Jakarta (2002).

8. Jomped

Secara khusus, musik kontemporer Jomped menampakkan komposisi musik dari proses kreatifnya dan proses pencariannya dalam mengeksplorasi media komputer. Musik yang terkesan tak lazim ini, lebih mengarah pada bentukan musik elektronis dengan dipadukan dengan efek cahaya yang menimbulkan nuansa futuristik.

Untuk menghidupkan musiknya, Jomped menambahkan beberapa perangkat software yang secara khusus dibuat untuk menciptakan bunyi yang sesuai dengan keinginannya. Misalnya, bunyi tembakan laser seperti dalam film-film futuristis dan suara drum elektrik sebagai pengatur tempo atau ritme yang diinginkan.

Menurut Jomped, musik kontemporer memang terkesan susah dicerna. Tetapi sebenarnya di dalam musik ini terkandung sebuah nilai rasa bunyi yang sedikit berbeda. Musik ini memang terkesan nyeleneh, namun jika mau dirasakan, terdapat muatan rasa yang lain.

***


Baca juga: Perkembangan Musik Kontemporer di Indonesia


Itulah beberapa tokoh musik kontemporer Indonesia. Nama-namanya mungkin masih asing di telinga orang-orang awam, namun karya-karyanya telah dipentaskan di panggung-panggung internasional. Menciptakan alternatif musik jenis baru yang belum ada di masa sebelumnya.

Semoga menginspirasi!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *