Mengenal Unsur-Unsur Pembangun Puisi Lengkap

3 min read

Unsur pembangun puisi

Menjelaskan secara lengkap tentang unsur-unsur pembangun puisi.


Bukan kata yang asing, semua orang tahu puisi, namun tak semua orang mengerti bagaimana sebenarnya puisi dibuat, apa saja unsur-unsurnya, bagaimana strukturnya, atau bagaimana memahami sebuah puisi.

Kalau didefinisikan, puisi adalah karya seni tertulis yang berisi ungkapan perasaan dengan menggunakan bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritme dalam penyusunan baris dan baitnya.

Kalau kita ingin memahami makna sebenarnya dalam sebuah puisi, maka kita perlu memahami apa saja unsur-unsur pembangun puisi. Unsur pembangun puisi terbagi menjadi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.


Baca juga: Pengertian Puisi Kontemporer, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis, Beserta Contohnya


Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam batang tubuh karya sastra. Setiap karya sastra, entah puisi, prosa, atau drama, memiliki unsur intrinsik yang berbeda-beda.

Unsur intrinsik pada puisi memiliki dua struktur, yaitu :

Struktur Fisik

struktur fisik puisi

Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi yang bersifat nampak dalam bentuk susunan kata-katanya. Struktur fisik puisi terdiri dari :

1. Tipografi

Tipografi (perwajahan puisi) yaitu bentuk tatanan penulisan puisi, seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, rata kanan-kiri, bentuk tulisan yang kadang teratur, kadang zig zag, dan kalimat yang tak selalu diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik.

Seringkali seorang penyair kontemporer mengekspresikan gejolak perasaannya dengan menonjolkan aspek visual puisi di samping melalui kata-kata. Seperti puisi tipografi yang lebih mementingkan sisi visual pada puisi.

2. Diksi

Diksi adalah pemilihan kata. Setiap karya sastra, entah puisi, prosa, novel, perlu memperhatikan pemilihan diksi yang tepat dengan cara memahami karakter diksi pada setiap jenis karya sastra yang berbeda-beda.

Karena puisi cenderung bukan karya tulis naratif atau deskriptif, maka pilihan kata pada puisi musti diperhatikan secermat dan setepat mungkin karena memiliki kaitan erat pada makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

3. Imaji

Imaji adalah gambaran, kesan, atau apa yang ada dalam pikiran kita ketika kita membayangkan atau mengingat sesuatu. Imaji bisa berupa gambaran visual, suara, bau, rasa, atau kombinasi dari semua indra tersebut.

Kalau didefinisikan, imaji (citraan) adalah kata-kata yang dapat mengungkapkan sebuah pengalaman indrawi seperti penglihatan (visual), pendengaran (auditif), atau perasaan (imaji taktil).

Termasuk puisi yang bagus, bagaimana seorang penulis puisi bisa memilih kata-kata yang bisa membangkitkan imajinasi para pembaca. Tanpa imaji, puisi akan terasa hambar dan mati.

Imaji bisa dimunculkan dengan menghadirkan benda-benda konkret dengan memposisikannya dalam bentuk personifikasi atau metafora.

4. Kata Konkret

Dalam sastra, kita mengenal kata abstrak dan kata konkret dengan makna yang berlawanan. Kata abstrak lebih memerlukan pendalaman pemahaman karena sifatnya yang tidak nyata.

Berkebalikan dengan kata abstrak, kata konkret merupakan kata yang memiliki rujukan berupa objek yang dapat diserap oleh panca indera. Ciri-cirinya, kata konkret memiliki makna yang bisa diraba, dirasa, didengar, dicium, atau dilihat.

Dalam struktur puisi, kata konkret diperlukan karena memungkinkan membangkitkan imaji para pembaca. Seperti yang sudah disinggung pada poin sebelumnya, imaji berguna untuk membuat sebuah puisi menjadi lebih hidup.

5. Bahasa Figuratif

Bahasa figuratif sama dengan majas, yaitu kata-kata yang bersifat konotatif untuk menimbulkan efek-efek tertentu. Pada puisi, majas banyak digunakan untuk memperindah pada aspek pemilihan kata.

Selain itu, majas juga digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dengan cara memancing imajinasi pembaca dengan menggunakan kiasan untuk mewakili pikiran dan perasaan seorang penulis.

Ada banyak sekali jenis majas yang digunakan dalam karya sastra yang terdiri dari majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan.  Selengkapnya seputar majas.

6. Rima dan Irama

Rima dan irama dalam puisi akan membentuk keselarasan bunyi yang harmonis dan padu untuk membangun satu kesatuan makna yang utuh. Irama timbul karena pengulangan bunyi (rima) yang berturut-turut dan bervariasi.

Rima

Rima (persajakan) yaitu pengulangan bunyi yang teletak dalam larik sajak atau akhir sajak. Rima memiliki peran dalam menghadirkan keindahan puisi. Ada banyak jenis pola rima seperti a-b-a-b, a-a-b-b, atau yang lainnya.

Contoh Rima :

Angin pulang menyejuk bumi,
Menepuk teluk menghempas emas,
Lari ke gunung memuncak sunyi,
Terayun-ayun di atas alas. (Amir Hamzah)

Irama

Irama adalah permainan bunyi pada akhir kata, frasa, atau kalimat. Nada-nada pada puisi biasanya digunakan secara serentak dan berkesinambungan untuk membangun suara yang harmonis.

Ada namanya metrum, yaitu irama yang sifatnya tetap. Dalam metrum, pergantian irama sudah ditentukan antar baris atau alineanya. Tekanan nada tinggi rendah sudah di tentukan.

Vokal dan konsonan pada setiap akhir baris puisi sudah ditentukan. Suku kata pada akhir baris pun sudah ada polanya. Puisi yang menggunakan metrum yang ketat seperti tembang-tembang jawa dan macapat.

Ada namanya ritme, yaitu irama yang disebabkan perubahan nada tinggi rendah secara teratur. Berbeda dengan metrum yang sifatnya tetap, pola ritme tak selalu sama.

Ritme merupakan hasil kombinasi semua jenis nada, intonasi, dan tekanan sehingga menghasilkan suara yang harmonis.

Struktur Batin

struktur batin puisi

Berkebalikan dengan struktur fisik, struktur batin merupakan unsur pembangun puisi yang tidak nampak secara langsung pada penulisan puisi. Struktur batin puisi terdiri dari :

1. Tema

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang sarat akan pesan moral yang terbungkus dalam tema tertentu. Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair dalam puisi. Gagasan ini  merupakan landasan pemikiran penyair dalam menciptakan karya puisi.

2. Rasa

Ketika menulis puisi, seorang penyair akan mengangkat satu tema dan pokok permasalahan. Rasa (feel) adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan pada puisi yang dibuat.

Pengungkapan suatu pokok permasalahan dan sikap terhadap permasalahan tersebut tidak bergantung pada kemampuan teknis dalam membuat puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosial dan psikologisnya.

3. Nada

Nada (tone) adalah sikap penyair kepada pembaca. Nada juga berkaitan dengan tema dan rasa, penyair bisa menyampaikan tema yang diangkat dengan nada menggurui, mendikte, mengajak, atau dengan nada sombong dan merendahkan pembaca.

4. Amanat

Amanat adalah pesan inti dari penyair yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui puisi. Amanat menjadi dasar dan tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi tersebut.

Unsur Ekstrinsik

unsur ekstrinsik puisi

Berkebalikan dengan unsur intrinsik puisi, unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur pembangun puisi yang berada di luar naskah puisi yang memberikan pengaruh keberadaan karya sastra sebagai karya seni.

Unsur ekstrinsik puisi terdiri dari :

1. Unsur Biografi

Unsur biografi adalah latar belakang penyair atau penulis puisi. Latar belakang penulis sangat berpengaruh pada karakter sebuah puisi, entah si penulis dari keluarga miskin, kaya, rakyat pinggiran, atau bangsawan.

2. Unsur Sosial

Unsur sosial sangat erat kaitannya dengan kondisi masyarakat. Ketika seorang penulis berada dalam masyarakat yang berbuat kerusakan, ada kemungkinan ia akan membuat puisi yang berisi kritikan atau nasihat kepada masyarakat.

3. Unsur Nilai

Unsur nilai mencakup pada nilai-nilai pendidikan, seni, politik, sosial, budaya, dan lain-lain. Unsur nilai yang terkandung dalam puisi sangat mempengaruhi baik tidaknya puisi karena menjadi daya tarik tersendiri.

***


Baca juga: Pengertian Musikalisasi Puisi, Memahami Definisi yang Sebenarnya


Tanpa memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi, kita mungkin akan kesulitan membuat puisi yang baik. Ketika menganalisis sebuah karya puisi pun kita perlu memahami unsur-unsur yang membentuk puisi.

Maka semoga dari apa yang sudah kita bahas ini, bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita seputar puisi.

Semoga berkah!

3 Replies to “Mengenal Unsur-Unsur Pembangun Puisi Lengkap”

  1. Terima kasih atas bantuan saudara, tulisan ini sangat membantu saya sebagai salah satu sumber rujukan dalam menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik saya.
    Sekali lagi, terima kasih dan Insya Allah Berkah.

  2. Artikel ini benar-benar membantu saya, informasi yang disampaikan cukup luas dan terkesan dapat dipertanggung jawabkan. Sangat baik. Terima Kasih.

  3. Materi ini ini komplit dan bisa membantu peserta didik saya untuk mempelajari puisi dan informasi yang disampaikan cukup luas dan dapat dipertanggung jawabkan. Sangat baik. Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *