upacara adat sulawesi barat

Mengenal Upacara Adat Sulawesi Barat yang Jarang Diketahui

Mengenal 7 upacara adat Sulawesi Barat yang mungkin jarang diketahui orang.

Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan salah satu daerah provinsi yang memiliki keunikannya sendiri. Dihuni oleh beragam suku bangsa menjadikannya memiliki ragam tradisi, ritual kepercayaan, dan upacara adat yang mungkin tak banyak diketahui orang.

Selain itu, pengaruh agama juga menjadi warna baru bagi warisan budaya Sulawesi Barat, termasuk dalam hal tradisi dan upacara adat Sulawesi Barat. Dimana ada tradisi Sayyang Pattudu yang mensyukuri anak-anak yang khatam Alquran.

Untuk selengkapnya mengenai upacara adat Sulawesi Barat, di sini telah kita rangkum menjadi 7 tradisi, ritual, atraksi, hingga upacara adat Sulawesi Barat yang mungkin banyak orang belum mengenalnya, namun sayang untuk dilewatkan.

Inilah 7 upacara adat Sulawesi Barat yang unik dan menarik.

1. Upacara Cakkuriri

upacara adat sulawesi barat
Cakkuiri /kompadanmandar.or.id

Upacara Adat Cakkuriri adalah bentuk penghormatan dan penghargaan yang masih terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Kerajaan Sendana.

Sampai saat ini, upacara ini masih diselenggarakan meski sangat jarang dilakukan. Upacara Cakkuiri merupakan satu-satunya upacara atau tradisi yang berkaitan dengan Kerajaan Sendana yang masih diselenggarakan, itupun hanya sekali dalam lima tahun.

Dahulu, upacara ini dipegang oleh para Pappuangan (pemimpin kaum) yang diselenggarakan untuk melantik raja atau maraqdia di Kerajaan Sendana.

Namun kini, upacara ini diselenggarakan untuk menggali dan menampilkan nilai-nilai budaya yang dapat ditumbuhkembangkan dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat berupa kearifan lokal yang dapat diyakini sebagai identitas, pemertsatu, serta perekat hubungan masyarakat dalam bingkai NKRI.

Upacara Cakkuriri biasa digelar oleh pihak Pappuangan di Desa Puttada, Kecamatan Sendana. Acara ini didahului dengan sebuah pertunjukan musik tradisional berupa bunyi-bunyian calong, rebana, kecapi, hingga seruling, yang uniknya dilakukan oleh kaum hawa atau ibu-ibu.

Upacara diawali dengan manggere’ terong atau prosesi pemotongan hewan kerbau, sebuah prosesi yang ditemui di hampir setiap acara-acara tradisi kuno yang ada di Mandar, Sulawesi Barat. Pemotongan hewan berukuran besar biasanya mencerminkan skala kebesaran upacara yang dilaksanakan.

Upacara adat ini biasa dihadiri oleh sebagian besar wilayah Pappuangan yang ada di Sendana. Singkatnya, tetua-tetua adat menghadiri acara ini dari kampung-kampung besar, semacam: Pappuangan Somba, Pappuangan Paminggalan, Pappuangan Mosso, Toribonde, serta masyarakat Sendana pada umumnya.

Dalam upacara ini, dilakukan serangkaian prosesi besar seperti pengibaran bendera Cakkuiri sebagai bendera pusaka Kerajaan Sendana, dan dilanjutkan dengan Todipoga. Acara ini diakhiri dengan penampilan para penari anak-anak dan remaja, serta pertunjukan seni musik tradisional.


Baca juga: Mengenal 10 Upacara Adat Bali yang Eksotis


2. Maccera Banua

maccera banua
Maccera Banua /peace-journalism.blogspot.com

Barangkali, setiap daerah memiliki cara sendiri yang dilakukan untuk menjaga keselarasan antara alam dan manusia. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Kandoa, Polewali Mandar, yang menggelar ritual Maccera Banua.

Tradisi tahunan ini digelar warga Dusun Kandoa bertujuan untuk menangkal segala musibah dan marabahaya yang mungkin akan mengancam warga dan kampung halaman mereka. Tradisi tahunan yang telah digelar secara turun temurun ini dipercaya sebagai bentuk doa dan permohonan keselamatan diri dan kampung halaman mereka.

Sebelum ritual Maccera Kabua dimulai, warga yang ikut serta, dari anak-anak hingga usia dewasa, akan mengantre untuk memperoleh pemberkatan dari salah seorang pemuka adat di kampung halaman mereka.

Setiap orang akan diolesi tepung yang telah dicampur dengan air suci pada bagian pipi, dahi, dan dada. Tepung yang sebelumnya telah didoakan tersebut diyakini dapat mengusir segala macam penyakit di dalam tubuh. Setiap orang yang diolesi tepung juga diyakini akan terhindar dari segala marabahaya.

Puncak dari ritual Maccera Banua ini adalah prosesi persembahan sesajen berupa nasi ketan, telur ayam kampung, pisang, nanas, dan sejumlah hasil bumi lainnya.

Menurut Kanne Kindo, pemuka adat Dusun Kandoa, ritual Maccera Banua merupakan doa supaya warga dan kampung halaman dapat terhindar dari segala bahaya. Selain itu, diharapkan juga agar harmoni antara warga dan alam tetap selalu terjaga.

3. Ritual Mappurondo

Mappurondo meruapakan agama asli masyarakat Pitu Ulunna Salu yang terletak di daerah Sulawesi Barat. Kepercayaan ini juga biasa dikenal dengan Aluk Mappurondo.

Dalam aluk ini dikenal memiliki serangkaian ritual atau upacara yang tertata secara sistematis. Rangkaian upacara ini mengatur setiap tahap kehidupan manusia sesuai dengan periode yang telah ditentukan.

Tata upacara Mappurondo berasaskan pada Pemali Appa’ Randanna, yaitu empat ruas auran sesuai dengan empat siklus kehidupan yang harus dilaksanakan dalam bentuk perintah dan larangan.

Pemali appa’ Randanna ini disimbolkan dalam 4 untai kalung yang menggambarkan 4 siklus hidup manusia, yaitu: masa bekerja, masa bergembira, masa pernikahan, dan kematian. Manik-manik dalam kalung adalah simbol dari berbagai anjuran dan larangan yang harus dipatuhi.

Dalam asas Pemali Appa’ Randanna, upacara-upacara Mappurondo secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua periode pokok, yaitu patotibojongan dan pealloan.

Patotibojongan adalah masa dimana masyarakat harus bekerja, dari mulai bercocok tanam hingga tiba waktu panen dan menyimpan padi. Sementara Pealloan adalah masa dimana masyarakat melakukan upacara yang bersifat perayaan atau kegembiraan karena telah selesai masa panen.

Dalam dua periode pokok tersebut, telah diatur mengenai 4 jenis upacara sesuai dengan 4 untai kalung yang mewakili Pemali Appa’ Randanna, yaitu:

  1. Patotibojongan, yaitu masa bekerja atau bercocok tanam.
  2. Pa’bisuan, yaitu acara perayaan untuk mengembalikan semangat setelah bekerja selama masa patotibojongan.
  3. Pa’bannetauan, yaitu masa pernikahan.
  4. Patomatean, yaitu yang berkaitan dengan upacara kematian dan penyimpanan jenazah.

Selain upacara-upacara di atas, ada berbagai upacara lain yang berkaitan dengan wabah penyakit, bencana alam, kelahiran, dan keselamatan rumah.

Setiap upacara pada Aluk Mappurondo di atas tentu memiliki rincian tersendiri yang tidak mungkin dijabarkan dalam ruang yang sempit ini. Kita dapat menelusurinya pada sumber dari tulisan ini (klik di sini).

Namun singkatnya, tradisi keagamaan Mappurondo di Pitu Ulunna Salu ini mulai menurun dan perlahan ditinggalkan oleh masyarakat sejak zaman kedatangan Kolonial Belanda, ditambah lagi dengan berpindahnya keyakinan masyarakat ke Agama Kristen dan Islam.

Namun meski begitu, masih ada kelompok masyarakat yang masih melakukan tradisi ini sampai sekarang, yaitu kelompok masyarakat yang berada di Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

4. Sayyang Pattudu

sayyang pattudu
Sayyang Pattudu /

Sayyang Pattudu (kuda menari), atau sering juga disebut yato massawe (orang yang mengendarai), adalah upacara yang diselenggarakan dalam rangka mensyukuri anak-anak yang telah khatam Alquran.

Bagi masyarakat Suku Mandar, tamat Alquran adalah sesuatu yang sangat istimewa dan patut disyukuri secara khusus dengan menyelenggarakan pesta adat Sayyang Pattudu.

Tradisi ini biasa diadakan secara rutin setiap tahun, biasanya bertepatan dengan Maulid Nabi di bulan Rabiul Awwal pada kalender Hijriyah. Dalam acara tersebut, ada pertunjukan atraksi kuda yang dihias dan menari ditunggangi oleh anak-anak yang ikut serta dalam acara tersebut.

Bagi masyarakat Mandar, khatam Alquran dan upacara Sayyang Pattudu ini memiliki pertalian dan keistimewaan yang sangat erat, sehingga tradisi ini masih dilestarikan dengan baik. Bahkan, orang-orang Mandar yang tengah merantau ke luar daerah akan kembali ke kampung halaman demi mengikuti acara tersebut.

Acara ini dimeriahkan dengan arak-arakan kuda berkeliling desa yang ditunggangi oleh anak-anak yang khatam Alquran. Setiap anak menunggangi kuda yang telah dihias sedemikian rupa.

Kuda-kuda tersebut juga sudah terlatih untuk mengikuti irama pesta, sehingga mampu berjalan sembari menari mengikuti iringan musik berupa tabuhan rebana dan kalinda’da (untaian pantun khas Mandar) yang mengiringi arak-arakan tersebut.

Upacara Sayyang Pattudu ini biasa diikuti hingga ratusan lebih orang setiap tahunnya, yang terhimpun dari berbagai kampung dari desa tersebut. Di antara peserta ada juga yang datang dari desa lain, bahkan ada juga yang datang dari luar provinsi.

Pagelaran tradisi ini biasanya diadakan secara massal di setiap desa atau kecamatan. Bahkan, terkadang ada juga yang mengadakannya secara sendiri-sendiri.

5. Massossor Sossorang

upacara adat sulawesi barat
majenekab.go.id

Massosor Massorang adalah ritual penyucian pusaka yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. Ritual ini biasanya akan dirangkaikan dengan berbagai prosesi adat lainnya, seperti: Mappauli Banua (pengobatan kampung) dan Mattula’ Bala (menolak bala).

Setelah itu, baru dilanjutkan dengan penyucian pusaka dan ziarah ke kuburan para leluhur kampung sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upacara Massosor Sossorang.

Namun kini, upacara ini sudah mulai jarang ditemukan. Salah satu daerah yang diketahui masih menggelar upacara peyucian sossorang ta’bilowe (gong pusaka) adalah Desa Mosso, Kecamatan Balanipa, Polewali Mandar.

6. Mattammu Buah

upacara adat sulawesi barat
Mattammu Buah /kompadanmandar.co.id

Mattammu Buah adalah sebuah tradisi menyambut musim buah-buahan yang biasa diadakan dua hingga tiga kali dalam setahun oleh masyarakat Batetangga, Kabupaten Polewali Mandar.

Penyelenggaraan tradisi Mattammu Buah bertujuan sebagai pelestarian budaya yang banyak mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang Tuhan berikan melalui hasil alam-Nya.

Pada tahun 2015 silam, acara adat Mattammu Buah diadakan secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun itu, acara Mattammu Buah tidak hanya dihadiri masyarakat Batetangga saja, Lembaga Adat Tomalongan secara resmi mengundang pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, sampai organisasi-organisasi kepemudaan untuk menghadiri acara ini.

Acara tersebut telah terkonsep dengan sangat menarik karena ada beragam rangkaian acara yang menonjolkan tradisi Suku Pattae sebagai suku asli Desa Batetannga.

Ketika rombongan tamu undangan hadir di lokasi acara, mereka akan disambut dengan iringan tabuhan rebana khas Pattae yang berbeda dengan rebana di Mandar. Tamu undangan juga disuguhi manyang mammis (tuak manis atau air dari pohon aren) untuk diminum.

Di akhir acara, seorang tokoh adat akan memimpin doa sebagai bentuk rasa syukur atas masuknya musim buah. Kemudian, seluruh masyarakat dan tamu undangan dipersilakan untuk makan bersama dengan hidangan kuliner tradisional seperti: lammang, onde-onde, dan sebagainya.

Dalam acara santap bersama pun menggunakan alat-alat makan bernuansa tradisional, seperti: daun sebagai alas makan dan potongan bambu sebagai wadah gelas air minum.


Baca juga: Mengulik 10 Upacara Adat Maluku Paling Menarik


7. Mamose

upacara adat sulawesi barat
Mamose /sandeq.net

Sesuai dengan namanya, tradisi ini berupa ritual menebas tubuh menggunakan sebuah parang yang oleh masyarakat setempat biasa disebut dengan mamose. Tradisi Mamose biasa dilakukan oleh masyarakat adat Budong-Budong di Mamuju, Sulawesi Barat.

Dalam sejarahnya, Mamose merupakan kegiatan masyarakat Tangkou Budong-Budong yang akan masuk ke dalam hutan dan melakukan pesta panen yang dirangkai menjadi sebuah ritual adat.

Hingga sekarang, tradisi ini dilakukan pada saat momen-momen tertentu saja yang biasanya sebanyak tiga kali dalam setahun. Pertama yaitu sebelum masuk hutan, kedua pada saat selesai merumput atau membersihkan hutan yang nantinya akan ditanami tanaman, dan ketiga setelah masa panen.

Dalam tradisi Mamose ini, para pamose (tokoh adat) akan unjuk keberanian mereka dengan menebas tubuh menggunakan parang. Sembari atraksi, mereka akan meneriakkan kalimat-kalimat yang memompa semangat persatuan, keberanian, dan kebersamaan masyarakat di hadapan raja dan tobara (tetua adat).

Atraksi ini juga diiringi dengan tabuhan alat musik gendang. Saat pamose menghadap raja dan tobara untuk memohon izin untuk memulai, tabuhan gendang dihentikan.

Namun sebelum ritual Mamose ini dimulai, ada serangkaian prosesi yang dilakukan. Sehari sebelumnya, para tokoh adat yang disebut puntai akan melakukan kegiatan Magora, yaitu naik katinting (perahu bermotor) dan menelusuri Sungai Budong-Budong untuk menghampiri masyarakat.

Untuk menandakan bahwa rombongan puntai telah datang, ditiuplah sebuah terompet kerang yang biasa disebut tantuang. Ketika rombongan puntai ini menepi, masyarakat akan menghampiri rombongan tersebut dan memberikan barang-barang seperti rokok, makanan, minuman, dan sebagainya.

Puntai lalu mengambil air dari sungai dan membasuhkannya ke kepala orang yang sedang sakit. Ketika rombongan akan berangkat kembali, kadang akan terjadi kehebohan karena antara rombongan dan masyarakat akan siram menyiram.

Sesaat setelah menghampiri masyarakat, maka akan dilakukan ritual Magane. Dengan meletakkan parang, bendera, dan obat tradisional di atas sebuah piring, dan juga sebatang kayu ditancapkan di tanah, puntai lalu melakukan ritual agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.


Baca juga: 7 Upacara Adat Sulawesi Tengah, Mengulik Budaya Kaili


***

Demikianlah ulasan mengenai 7 upacara adat Sulawesi Barat yang mungkin tak banyak orang yang tahu.

Referensi:

 

  • budaya-indonesia.org
  • wikipedia.com
  • kemendikbud.go.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *