Mengulik 10 Upacara Adat Sumatera Barat yang Khas

Mengenal 10 upacara adat Sumatera Barat yang unik dan khas! Menghimpun kebudayaan menarik dari Suku Minangkabau, Suku Mentawai, hingga masyarakat Silungkang.

Provinsi Sumatera Barat mungkin sangat identik dengan Suku Minangkabau sebagai masyarakat yang paling dominan. Namun terlepas dari situ, kita juga perlu mengenal kebudayaan suku-suku di Kepulauan Mentawai yang masih murni dan eksotik.

Selain itu, kebudayaan khas Minang juga memiliki ciri khas dan karakter yang sangat kuat. Meskipun telah banyak dipengaruhi kebudayaan dari luar, daya tarik kebudayaan Sumatera Barat masih sangat kuat, apalagi jika membahas kebiasaan masyarakat pedalaman yang pasti unik dan aneh.

Pada kesempatan ini, kita akan menjabarkan setidaknya 10 tradisi upacara adat Sumatera Barat yang unik dan khas, yang mungkin belum banyak orang yang tahu. Berikut kita simak 10 upacara adat Sumatera Barat:

1. Upacara Tabuik

upacara tabuik
Upacara Tabuik /traverse.id

Tabuik atau Tabot merupakan salah satu tradisi tahunan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Perayaan ini telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu, yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 Masehi.

Perayaan Tabuik merupakan peringatan hari wafatnya seorang cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, pada tanggal 10 Muharram. Dalam catatan sejarah, Husein beserta keluarganya wafat di hari itu pada peristiwa Karbala.

Kata tabuik sendiri berasal dari bahasa Arab, tabut, yang berarti “peti kayu”. Istilah tersebut merujuk pada legenda tentang keberadaan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq.

Legenda tersebut mengisahkan, setelah wafatnya Husein, sebuah kotak kayu berisi potongan jenazah Husein diterbangkan ke langit oleh makhluk buraq tersebut. Berdasarkan legenda inilah, masyarakat Pariaman membuat tiruan buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya pada perayaan Tabuik ini.

Menurut cerita yang diterima masyarakat secara turun temurun, tradisi ini diperkirakan muncul di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Pada masa itu, upacara Tabuik masih begitu kental dengan pengaruh timur tengah yang dibawa oleh orang-orang keturunan India penganut Syiah.

Pada tahun 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik yang masih bernuansa timur tengah ini dengan kultur Minangkabau. Sejak saat itulah, tradisi ini berkembang menjadi seperti yang ada pada saat ini.

Upacara Tabuik juga terdapat dua macam, yaitu Tabuik Pasa  (pasar) dan Tabuik Subarang (seberang). Kedua jenis tersebut masih berasal dari Kota Pariaman namun dari wilayah yang berbeda.

Tabuik Pasa berasal dari wilayah sisi selatan dari sungai yang membelah Kota Pariaman hingga ke Pantai Gondoriah. Wilayah Pasa dianggap sebagai daerah asal dari tradisi ini. Sementara Tabuik Subarang berasal dari daerah seberang, yaitu wilayah yang berada di sisi utara sungai yang juga biasa dikenal dengan Kampung Jawa.

Sejak tahun 1982, perayaan Tabuik dijadikan sebagai bagian dari kalender pariwisata Kota Pariaman. Dari situ, terjadi berbagai penyesuaian yang salah satunya dalam hal waktu pelaksanaan acara puncak dari rangkaian upacara Tabuik ini.

Jadi, walaupun prosesi awal Tabuik ini dimulai pada tanggal 1 Muharram sebagai perayaan tahun baru Hijriyah, namun pelaksanaan acara puncak dalam upacara ini berubah-ubah dari tahun ke tahun, tidak lagi harus 10 Muharram karena menyesuaikan dengan akhir pekan.

Pada upacara Tabuik, terdapat tujuh rangkaian ritual yang dilaksanakan, yaitu dimulai dengan prosesi mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut.

Hari puncaknya adalah pelaksanaan ritual tabuik naik pangkek yang dilanjutkan dengan hoyak tabuik. Sebagai penutupnya, pada saat menjelang Maghrib, tabuik tersebut diarak menuju Pantai Gondoriah dan dilarung ke laut.

Setiap tahunnya, puncak acara Tabuik ini selalu disaksikan hingga puluhan ribu pengunjung yang hadir dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Bukan hanya masyarakat lokal saja, festival ini pun mampu mencuri perhatian dari banyak turis asing yang membuatnya menjadi perhelatan besar yang diburu setiap tahunnya.


Baca juga: Mengulas 10 Upacara Adat Jawa Timur yang Terkenal


2. Upacara Turun Mandi

turun mandi
Turun Mandi /budaya-indonesia.org

Upacara Turun Mandi merupakan salah satu ritual adat yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur masyarakat Minangkabau. Suku Minangkabau merupakan salah satu suku yang sangat menjunjung tinggi warisan leluhur mereka, sehingga upacara ini menjadi salah satu budaya yang masih bertahan hingga kini.

Turun Mandi adalah upacara yang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas kelahiran seorang bayi. Selain itu, upacara ini juga memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah muncul keturunan baru dari sebuah keluarga.

Untuk melaksanakan prosesinya, terdapat ketentuan mengenai hari yang tepat dalam penyelenggaraan upacara ini. Untuk bayi laki-laki, maka diselenggarakan pada hari ganjil dari hari kelahiran si bayi. Sedangkan untuk bayi perempuan, maka diselenggarakan pada hari genap setelah hari kelahiran.

Tempat pelaksanaan upacara Turun Mandi adalah di batang aie (sungai) umum yang biasa digunakan oleh masyarakat sebagai tempat berkumpul. Sementara orang yang berhak membawa bayi ke batang aie adalah yang berjasa dalam proses kelahiran.

Selain itu, ada berbagai persyaratan yang wajib disiapkan oleh keluarga si bayi untuk melaksanakan upacara ini, di antaranya: batiah bareh badulang (beras yang digoreng), sigi kain buruak (obor dari kain robek), tampang karambia tumbuah (bibit kelapa), tangguak (tangguk), dan palo nasi yang telah dilumuri darah ayam dan arang.

Setiap syarat tersebut tentu memiliki makna tertentu sehingga menjadi barang wajib yang harus disiapkan untuk melaksanakan upacara ini. Namun, terdapat sedikit perbedaan persyaratan dari masing-masing nagari sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku.

Setelah seluruh prosesi di pemandian selesai, si bayi bersama sang ibu lalu diarak kembali ke rumah yang diiringi orang-orang yang menghadiri upacara tersebut. Upacara diakhiri dengan jamuan makan bersama di rumah keluarga si bayi.

3. Batagak Panghulu

upacara adat sumatera barat
Batagak Panghulu /aadwifalaoli.blogspot.com

Batagak Panghulu merupakan upacara adat Sumatera Barat, khususnya masyarakat Minangkabau dalam rangka meresmikan seorang datuk menjadi panghulu. Panghulu adalah pemimpin kaum, pembimbing anak-kemenakannya, dan menjadi niniak mamak di nagarinya.

Maka dari itu, seorang yang akan diangkat menjadi panghulu adalah orang yang memenuhi syarat kepemimpinan adat Minangkabau. Dalam hal ini, pengangkatan seorang penghulu tidak dapat dilakukan oleh pihak keluarga saja, namun bahkan sampai melibatkan Kerapatan Adat Nagari (KAN).

Peresmian seorang panghulu haruslah berpedoman pada petitih adat, “maangkek rajo sakato alam, maangkek panghulu sakato kaum”. Adapun jabatan panghulu di Minangkabau ini diturunkan dari pendahulunya. Dari niniak turun ke mamak, lalu turun ke kemenakan dekatnya.

Prosesi Batagak Panghulu ini dimulai dengan tahap mufakat atau barundiang. Tahap musyawarah ini juga dilakukan dalam empat tahap, mulai dari lingkup keluarga besar, lingkup anak kemenakan, di bawah payung datuk niniak, hingga di bawah datuk persukuan.

Dilanjutkan tahap kedua yaitu prosesi pengangkatan panghulu yang sudah memasuki prosesi adat di rumah gadang. Pengangkatan ini meliputi prosesi pemasangan saluak kepada panghulu, pembaiatan (pengambilan sumpah), dan penasehatan panghulu.

Kemudian memasuki prosesi bararak, yaitu mengumumkan kepada khalayak umum di seluruh masyarakat bahwa telah diresmikan seorang datuk yang baru menjabat sebagai panghulu suatu kaum. Dalam perjalanan bararak ini, diiringi segenap panghulu-panghulu saniniak dalam satu suku.

Lalu dilanjutkan memasuki tahap keempat, yaitu panjamuan. Panjamuan adalah jamuan makan untuk para tamu dan karib kerabat setelah pulang dari prosesi bararak. Dalam perjamuan ini, lazimnya pihak panghulu mengorbankan minimal seekor sapi untuk disajikan dalam jamuan tersebut.

Kemudian tahap terakhir pengangkatan panghulu ini adalah prosesi naik ke balairung, dimana dalam hal ini seorang panghulu yang diangkat dinyatakan sah menjadi anggota Kerapatan Adat Nagari.

Demikianlah serangkaian upacara inti Batagak Panghulu yang berlaku secara umum di masyarakat Minangkabau. Namun rangkaian upacara tersebut mungkin ada perbedaan di masing-masing nagari karena dipengaruhi oleh aturan dan ketentuan yang berlaku.

Secara umum, upacara Batagak Panghulu ini bukanlah agenda rutin yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, melainkan bersifat kondisional yang dilaksanakan apabila seorang panghulu adat sudah tiba waktunya untuk diganti.

4. Batagak Kudo-Kudo

upacara adat sumatera barat
Batagak Kudo-Kudo /bensradio.com

Batagak Kudo-Kudo merupakan salah satu tradisi yang masih bertahan di masyarakat Minangkabau, terutama di daerah Pariaman, Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan tradisi yang sudah cukup lama dilakukan di tanah Minang.

Frasa batagak kudo-kudo sendiri berasal dari bahasa Minang yang berarti “menegakkan kuda-kuda”. Batagak Kudo-Kudo adalah upacara yang menjadi bagian dari proses pendirian sebuah bangunan, baik itu berupa rumah pribadi atau fasilitas umum seperti rumah ibadah dan jalan raya.

Pada masyarakat Minangkabau, kegiatan beramai-ramai seperti ini biasa disebut juga dengan istilah baralek. Baralek umum dipakai untuk istilah bagi keluarga yang sedang mengadakan pesta selamatan, seperti: pesta pernikahan, perayaan khatam Alquran, dan pesta lainnya termasuk Batagak Kudo-Kudo ini.

Dalam acara tersebut, masyarakat setempat dari tetangga dan sanak famili akan diundang untuk menghadirinya. Satu ciri yang mencolok dari tradisi ini adalah para tamu undangan akan membawa hadiah berupa seng, uang, atau bahan bangunan lainnya.

Pada saat ini, kegiatan Batagak Kudo-Kudo tidak hanya dihadiri oleh masyarakat sekitar, melainkan juga dihadiri pada perantau yang berada di luar kota, terutama jika membangun fasilitas umum. Dengan adanya bantuan dari para perantau yang telah sukses, maka pembangunan fasilitas umum di kampung akan lebih cepat selesai.

5. Tradisi Mandi Balimau

mandi balimau
Mandi Balimau /kompasiana.com

Balimau adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang dilakukan pada saat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Tradisi ini biasa dilakukan oleh sebagian kalangan masyarakat Minangkabau yang berada pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai atau tempat pemandian.

Tradisi Balimau dipercaya telah dilakukan sejak berabad-abad lalu yang diwariskan secara turun temurun sampai sekarang. Esensi dari tradisi ini adalah mensucikan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki bulan Ramadhan untuk menjalankan ibadah puasa.

Mensucikan diri secara lahir dapat diartikan sebagai mandi yang bersih. Bukan hanya di Sumatera Barat, tradisi Balimau juga biasa dilaksanakan di berbagai daerah lain, seperti masyarakat Kampar, Batam, hingga Lampung.

Pada zaman dahulu, tidak semua orang bisa mandi dengan bersih, baik karena belum adanya sabun, kekurangan air, maupun sibuk bekerja atau sebab yang lain. Pada saat itu, pengganti sabun di beberapa wilayah di Minangkabau adalah limau atau jeruk nipis, karena sifatnya yang melarutkan minyak atau keringat di badan.

Dalam tradisi Balimau ini, sebenarnya ada kewajiban memisahkan kaum wanita dengan laki-laki agar tidak bertentangan dengan syariat Islam. Atau bahkan, kaum wanita tidak perlu turun ke sungai atau pantai untuk mandi, agar tidak bercampur dengan lelaki.

Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini terus berkembang bukan hanya sebagai pelaksanaan suatu tradisi, melainkan juga sebagai ajang rekreasi. Maka dari itu, kaum wanita disarankan tetap memakai pakaian lengkap saat ber-balimau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Hingga saat ini, bukan hanya masyarakat Melayu dan Minang saja yang melaksanakan tradisi Balimau ini, masyarakat dari berbagai suku pun juga ikut memeriahkan tradisi ini sebagai ajang rekreasi.

6. Makan Bajamba

makan bajamba
Makan Bajamba /budaya-indonesia.org

Makan Bajamba atau juga disebut Makan Barapak adalah tradisi makan bersama yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dengan cara duduk bersama di suatu tempat yang telah ditentukan. Tradisi ini biasa digelar pada perayaan hari-hari besar agama Islam atau berbagai upacara, pesta adat, atau pertemuan penting lainnya.

Kegiatan Makan Bajamba biasanya akan dihadiri oleh lebih dari puluhan hingga ribuan orang. Dari sekian banyak orang tersebut lalu dibagi berkelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 sampai 7 orang. Masing-masing kelompok lalu duduk melingkar dan disediakan satu dulang yang di dalamnya terdapat sejumlah piring, nasi, dan berbagai macam lauk.

Meski semuanya sama-sama duduk tegap dan melingkar, ada sedikit perbedaan cara duduk antara peserta laki-laki dan perempuan. Cara duduk laki-laki adalah baselo atau bersila, sementara perempuan duduk dengan cara basimpuah atau bersimpuh.

Acara Makan Bajamba biasanya akan diawali dengan pertunjukan berbagai kesenian Minangkabau, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat Alquran, sampai acara hiburan berbalas pantun.

Dalam sejarahnya, tradisi Makan Bajamba berasal dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang diperkirakan telah muncul sejak agama Islam masuk ke Minangkabau pada sekitar abad ke-7. Oleh karena itu, tata cara dan adab-adab Makan Bajamba secara umum didasari dari sunnah-sunnah ajaran Islam.

Di antara adab dalam tradisi ini adalah para peserta hanya mengambil makanan yang ada di hadapannya, setelah mendahulukan orang yang lebih tua mengambilnya. Cara duduk yang telah ditentukan bagi laki-laki dan perempuan tersebut juga merupakan bagian dari adab.

Selain itu, makan juga dilakukan dengan hati-hati dan pelan-pelan untuk menghindari tercecernya nasi. Peserta juga diwajibkan menghabiskan makanan yang sudah disediakan, sampai tidak tersisa lagi sebutir nasi pun di piring.

Budaya Makan Bajamba ini juga memiliki nilai budaya yang cukup dalam, yaitu memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial. Selain itu, juga mengajarkan adab-adab makan dalam ajaran Islam untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

7. Pacu Jawi

pacu jawi
Pacu Jawi /wikipedia.org

Pacu Jawi dalam bahasa Minang berarti “balapan sapi”. Tradisi ini merupakan olahraga tradisional yang biasa diselenggarakan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Setiap tahun, tradisi ini diselenggarakan secara bergiliran selama empat pekan di empat kecamatan di Tanah Datar, yaitu: Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab.

Sekilas memang tradisi Pacu Jawi ini mirip dengan Karapan Sapi yang ada di Madura. Namun bedanya, Karapan Sapi di Madura diselenggarakan di tanah lapang yang kering, sementara Pacu Jawi diadakan di sawah-sawah sehabis panen dan dalam kondisi berlumpur.

Selain itu, dengan dikendarai oleh seorang joki, sapi-sapi dalam ajang Pacu Jawi dilepas perpasangan tanpa lawan tanding. Tiap pasang sapi berlari secara bergiliran dan tidak ada ketentuan menang-kalah secara resmi. Bukan seperti Karapan Sapi yang memang dilombakan dan diadu dengan lawan tanding.

Sementara itu, penonton Pacu Jawi akan menilai sapi-sapi tersebut terutama berdasarkan kecepatan dan kemampuannya berlari dengan lurus. Tak jarang juga ada orang-orang yang akan membeli sapi-sapi unggulan dengan harga yang jauh di atas harga normal.

Budaya Pacu Jawi sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Pada awalnya, tradisi ini merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh para petani selepas musim panen untuk mengisi waktu luang sekaligus sebagai hiburan bagi masyarakat setempat.

Namun dalam perkembangannya, tradisi ini kini menjadi sebuah ajang budaya tahunan yang disebut Alek Pacu Jawi. Belakangan, acara ini telah menjadi sebuah atraksi wisata yang mendapat dukungan dari pemerintah.

Selain itu, budaya Pacu Jawi juga sampai menarik minat para fotografer nasional maupun internasional. Untuk mengambil gambar yang bagus, para fotografer ini seringkali harus mendekat ke lintasan dan mengambil resiko terkena cipratan lumpur atau tertabrak sapi.

Meski begitu, beberapa hasil foto dengan objek Pacu Jawi telah berhasil memenangkan berbagai ajang lomba fotografi. Foto-foto Pacu Jawi bahkan telah menerima berbagai penghargaan, seperti: World Press Photo of the Year, Hamdan International Photography Award, serta Digital Camera Photographer of the Year oleh koran The Daily Telegraph.

8. Tradisi Kerik Gigi

upacara adat sumatera barat
Kerik Gigi /guideku.com

Kerik Gigi merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Suku Mentawai, khususnya bagi kaum wanita. Suku Mentawai merupakan etnis masyarakat yang mendiami Kepulauan Mentawai yang terdiri dari Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Tradisi ini dilakukan oleh kaum wanita sebagai simbol bahwa dirinya telah cukup dewasa. Bagi masyarakat Mentawai, gigi yang runcing merupakan simbol kecantikan seorang wanita.

Selain sebagai kecantikan, tradisi Kerik Gigi juga bertujuan untuk memberikan kedamaian dalam hidup. Menurut kepercayaan, melakukan ritual Kerik Gigi ini akan membuat jiwa mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian jiwa.

Tentu, prosesi ritual Kerik Gigi ini sangat menyakitkan. Kerik Gigi dilakukan oleh tetua adat tanpa ada pembiusan atau anastesi. Bahkan, alat-alat yang dipakai juga tidak dilakukan proses sterilisasi. Biasanya, alat yang digunakan berupa besi atau kayu yang telah diasah hingga tajam untuk mengerik gigi.

9. Upacara Pakilia

upacara adat sumatera barat
Pakilia /lokadata.com

Upacara Pakilia merupakan sebuah tradisi pernikahan yang sudah cukup langka dilaksanakan pada masyarakat Mentawai. Pakilia adalah upacara penyambutan keluarga baru pada sebuah keluarga atau suku. Upacara ini mulai dilaksanakan setelah prosesi pemberkatan di gereja yang biasanya untuk umat Katolik saja.

Pihak sikebbukat uma, sabajak (paman), dan sakamaman (bibi) akan mempersiapkan bahan-bahan untuk prosesi Pakilia, seperti empat ekor simanosa (ayam muda), empat buah katsaila (daun enau), gajeumak (gendang Mentawai), dan seekor ayam jantan.

Upacara ini sebetulnya sudah mulai langka karena tergerus dengan perkembangan zaman. Hal ini disebabkan karena tradisi ini tidak terwariskan atau tidak dipelajari oleh keturunan suku, sehingga generasi suku yang ada sekarang ini sama sekali tidak memahaminya.

Satu-satunya sikebbukat uma di Sikaraja yang memahami adat Pakilia ini yaitu Taleku. Teteu Taleku juga dikenal dengan panggilan Teteu Bigen karena pernah menghitamkan rambutnya sendiri yang semuanya hampir memutih.


Baca juga: 7 Upacara Adat Sumatera Utara, Mengulik Budaya Tanah Toba


10. Upacara Balopeh

upacara adat sumatera barat
Balopeh /budaya-indonesia.org

Balopeh merupakan upacara adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Silungkang, Sumatera Barat. Upacara ini berupa pemberian gelar kepada mempelai laki-laki waktu pernikahan.

Pria dewasa di Silungkang harus memiliki gelar, semacam: Datuk Maringgi, Rajo Sampono, dan sebagainya. Pria yang telah menikah dan memiliki gelar sudah tidak dipanggil dengan nama panggilannya, melainkan dengan nama gelarnya.

Pemberian gelar ini dilakukan oleh tetua adat di desa tersebut. Nama yang digunakan sebagai gelar adalah nama warisan turun temurun dari keluarga mempelai laki-laki tersebut.

Dalam masyarakat Silungkang, pemberian gelar ini bertujuan untuk memudahkan apabila terjadi sengketa lahan atau permasalahan yang lain, karena orang-orang yang terlibat masalah dapat dilihat gelarnya dan diselesaikan dengan para tetua dari pemilik gelar yang sama.

Upacara Balopeh biasa dilaksanakan di rumah mempelai laki-laki. Dimulai pada pagi hari, induk bako (tante dari pihak ayah) dari mempelai perempuan mendatangi rumah mempelai laki-laki dengan membawa makanan untuk makan bersama dengan keluarga mempelai laki-laki.

Kemudian, ayah dan paman-paman dari kedua mempelai bersama tetua adat akan datang ke rumah mempelai laki-laki untuk makan bersama atau bajamba. Bajamba adalah makan bersama dalam satu wadah, sehingga lebih menguatkan ikatan kebersamaan.

Selesai acara makan bersama, calon mempelai laki-laki masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan prosesi pemberian gelar oleh tetua adat. Acara tersebut lalu diakhiri dengan pembacaan doa, karena semua gelar yang diberikan merupakan nama-nama yang baik.

Selesai acara, rombongan keluarga mempelai perempuan pulang dengan membawa beras dan uang dari keluarga mempelai laki-laki. Uniknya dalam acara ini, mempelai perempuannya sendiri dan ibunya tidak diizinkan untuk hadir dalam acara tersebut.


Baca juga: 10 Upacara Adat Aceh, Mengenal Tradisi di Tanah Rencong


***

Demikianlah kita rangkum 10 upacara adat Sumatera Barat yang unik dan khas. Sebetulnya, masih ada sekian banyak tradisi, ritual, maupun upacara adat Sumatera Barat yang tidak tercantum karena keterbatasan tempat untuk menjabarkannya.

Semoga bermanfaat!


Referensi

  • budaya-indonesia.org
  • wikipedia.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.